Anjani sudah keluar dari rumah sakit dan sudah kembali masuk kampus. Ia belajar seperti biasa di kelasnya dan tanpa terasa waktu pelajaran usai. Kini kelasnya sudah selesai, ia tengah makan siang di kantin bersama kedua bestinya, Fifi dan Andin.
"Eh Jan, dari tadi cewe itu ngeliatin lo terus deh. Lo ada masalah kali sama dia." Ujar Andin sembari melirik wanita berjas biru di ujung lorong kantin.
Anjani menoleh ke arah wanita yang ditunjuk oleh Andin. Muka Anjani berubah masam dan mengecap lidah.
"Kakak sepupu gue." Ujar Anjani dan mengabaikannya, ternyata wanita itu adalah Wanda, kakak sepupunya.
"Eh samperin gih," ujar Fifi.
"Males gue, ujung-ujungnya pasti berantem lagi."
"Iya tapi masalahnya sekarang dia yang nyamperin..." ucap Andin.
Wanda berjalan mendekati Anjani, dan kini ia tepat berada di belakang Anjani.
"Maaf, gue mau ngomong berdua sama Anjani." Ujar Wanda pada kedua teman Anjani.
Dengan wajah masam dan canggung Fifi dan Andin mengangkat nampannya dan pindah ke meja yang jauh. Wanda kemudian duduk di hadapan Anjani, sementara gadis itu sibuk mengunyah nasi gurihnya sembari mengalihkan pandangan.
"Lo di suruh ke rumah." Ucap Wanda singkat.
"Males."
"Disuruh kakek."
Saat itu Anjani berhenti menyuapkan nasi ke mulutnya, diletakkannya kembali sendoknya ke piring dan menatap tajam Wanda.
"Buat apa?"
"Nanti lo tau sendiri. Dan saran gue, lo jangan pergi sendirian." Ujarnya kemudian lekas berdiri.
"Gue Cuma mau bilang itu, buat sarannya terserah mau didengerin mo nggak. Yang penting ini gak ngerugiin siapa-siapa."
Kemudian Wanda pergi dan membiarkan Anjani sendirian dalam keadaan bingung. Melihat Wanda sudah pergi teman-temannya kembali ke meja Anjani.
"Kenapa Jan? Dia bilang apa?"
Anjani hanya menggeleng dan membiarkan teman-temannya kesal karena penasaran. Saat perjalanan pulang Anjani terus memikirkan saran Wanda. Kenapa dia bilang gitu?
"Kenapa? Ada masalah?" tanya Pak Adif yang sedang menyetir.
"Bukan, Cuma... oh iya, Mas, nanti sibuk gak?"
"Gak, kenapa memang?"
"Nanti bisa temenin aku ke rumah nenek kakek gak?"
"Bisa, emang kamu ngapain ke rumah mereka?"
"Aku dipanggil sama kakek, alasannya juga gak tau."
"Yaudah nanti kita pergi kesana. Ibu gaikut?"
"Gausah, Mas. Nanti yang ada Ibu di rendahin terus,"
Mereka berangkat ke rumah nenek dan kakek yang jaraknya lumayan jauh sekitar 3 jam perjalanan. Mereka tiba di rumah, rumah kakek tampak ramai, mobil dari sepupu-sepupunya terparkir rapih di garasi rumah.
Anjani meremas bajunya, ia masih selalu gemetar ketika datang ke rumah itu. Pak Adif melihat Anjani yang terlihat gugup, digenggamnnya tangan istrinya itu, di tatapnya matanya dan mengangguk.
KAMU SEDANG MEMBACA
Married With Mr. Adif
Romancegadis ini menikahi dosen yang tiba-tiba melamarnya? UPDATE SETIAP HARI JUM'AT
