8. RENOV KAMAR ANJANI

8 1 1
                                        

Sudah seminggu berlalu, Anjani dan Pak Adif sudah tidak canggung lagi. Pak Adif gencar dalam menyembuhkan marahnya Anjani. Anjani pun kini sudah keluar dari masalahnya, ia sudah menyetujui permintaan Mbak Gita untuk menjadi editornya.

Mbak Gita sudah mengirim naskah novel pertama yang akan Anjani tinjau untuk diedit. Itulah kesibukan Anjani kini setiap pulang kuliah, mengedit naskah novel milik Mbak Gita.

KREKkk...

Pak Adif membuka pintu kamar Anjadi dan langsung masuk, ia merebahkan diri di kasur Anjani, disebelah Anjani sekarang. Anjani menatapnya dengan penuh tanya.

"Pak, udah masuk gak ketuk pintu, terus main tidur di kasur orang. Tidak merasa bersalahkah Bapak ini?"

Cup...

Tiba-tiba saja Pak Adif mencium pipinya, hal itu membuat Anjani melotot. Dipukulnya paha Pak Adif.

"Manggil Bapak lagi, hm? kita Cuma beda 7 tahun loh."

"Iya aku gak manggi Bapak lagi!" ketus Anjani sebal.

Anjani kembali fokus pada laptopnya. Matanya bergerak-gerak mencari dengan cermat kesalahan pada naskah Mbak Gita. Ia terus mengabaikan Pak Adif yang berusaha mencari perharian, dengan menarik sedikit rambut Anjani dan dijadikan kumisnya.

"Kamu sibuk banget belakangan ini, jarang banget keluar kamar, kan aku kangen."

"Apa sih Mas, orang masih satu rumah kok."

Pak Adif menatap Anjani dengan bibir yang sedikit manyun.

"Apa? Kenapa ngeliatin aku gitu?"

"Kamu bisa sakit pinggang kalo nunduk terus gitu."

"Gimana lagi, kan gaada meja belajar."

"Sini dikamar aku aja, ada meja belajarnya."

Anjani tersenyum kecut, "Gak deh Mas, makasih."

Anjani lanjut mengerjakan tugasnya sementara Pak Adif juga tak keluar kamar dan terus mencari kesibukan asal bisa di kamar Anjani. Hampir mati kebosanan tiba-tiba ide jenius mampir di kepalanya, Ia mulai menelepon seseorang dan keluar dari kamarnya. Anjani sedikit lega karena akhirnya ia bisa fokus tanpa gangguan.

Sekitar beberaja waktu kemudian Anjani mendengar suara-suara dari luar, Anjani tadinya tak ingin beranjak sebelum Pak Adif membuka pintu kamar dan menariknya keluar.

"Sesuai yang saya bilang ya, Pak." Ujar Pak Adif pada salah seorang tukang yang kini tengah sibuk mengeluarkan barang-barang Anjani dari kamarnya.

"Ini sebenernya mau ngapain sih? Mau kamu apain kamar aku, Mas?"

"Mau direnov dikit, paling seminggu lagi siap."

"Trus aku tidur dimana?"

"Tidur bareng aku," seringainya, Pak Adif menarik pinggang Anjani agar lebih mendekat padanya.

"Sorry Mas, gak perlu. Makasih banyak atas kerepotannya dan aku lebih milih tidur sama Ibu. Bye."

Anjani mengemas pakaiannya dan pergi ke kamar Ibu. Sedang Pak Adif masih menyeringai melihat tingkah Anjani yang terus berusaha lari darinya.

"Bu, aku tidur sama Ibu ya..." ujar Anjani mendatangi Ibu yang tengah menyirami tanaman miliknya.

Ibu menoleh, "Ibu gak mau, kamu gak pernah tidur tepat waktu dan selalu begadang. Ibu gak bisa tidur kalo lampunya idup,"

"Ih Bu plis lah, Mas Adif ada aneh-anehnya masa tiba-tiba aja gaada angin gaada ujan main ngerenov kamar aku. Trus aku tidur dimana kalo Ibu gak mau nampung?"

Married With Mr. AdifCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang