"Sekarang bawa aja ke klinik pakai mobil saya " Ucap pak Suherman
Setibanya di klinik dokter memberikan obat untuk Dinda. Dinda pun pulang. Sesampainya di kos, Dinda tampak sangat pucat. Bagaimana tidak? Tekanan darahnya hanya berkisar 60 mg/ saat di cek tadi.
Umi dan abang Dinda pun tiba. Memberikan beberapa makanan. Tapi Dinda menolaknya.
"DINDA! Kamu jangan gini ya! Bikin malu saja jatuh ditempat PKL. Yang lain juga cape, bukan kamu aja! Mikir apa sih kamu? Laki-laki mana yang kamu pikirin?" Sontak Dinda kaget dan diam.
Tanpa menjawab sepatah kata pun, Dinda hanya menangis tersedu sedu.
Dinda menyesal dengan perasaan bodohnya. Sia-sia saja dia merelakan waktu untuk sosok yang tidak menghargai nya.
Setelah beberapa hari beristirahat, Dinda kembali ke kampus untuk menyelesaikan laporan magang nya.
Tampak dari jauh sosok Bram dan kekasihnya. Dinda terpaku. Menahan diri untuk tidak menyapa. Mereka tampak bahagia. Kekasihnya tampak lebih sempurna dengan senyum ramah dan tatapan hangat.
Dinda berlalu pergi.
