Chapter 21

3.5K 127 16
                                        


Mac segera menarik kembali handuk yang menutupi kepalanya.

"Kau..." Mac hendak membuka mulutnya untuk mengutuk, Tapi berhenti ketika melihat sosok yang telanjang di depannya, membuat Mac tersipu.

"Bersihkan, aku kedinginan". kata Nan dengan ekspresi normal. Mac tidak berani menatap matanya.

"Tidak tahu malu!!" kata Mac keras-keras, sebelum setuju untuk mengambil handuk dan mengeringkannya dengan kasar dan sembarangan.

"Bersikaplah baik!" kata Nan sambil tersenyum saat melihat ekspresi cemberut Mac.

"Selesai" kata Mac datar.

"Apa yang kau lakukan? Ku bilang, keringkan dengan benar!," kata Nan, Mac mengatupkan giginya sebelum melemparkan handuk ke tubuh Nan.

"Ah... Sialan Mac... bodoh, kau menyakiti juniorku!" Nan mencondongkan tubuh ke depan sedikit dan mengerang saat handuk yang dilemparkan Mac mengenai tubuhnya tepat di tengah. Mac meringis sedikit sebelum tersenyum.

"Kau ingin mempermainkanku? Semoga berhasil!" kata Mac.

Nan meletakkan tangannya di selangkangannya dan duduk di tepi tempat tidur.

"Jangan berpikir kau akan lolos dengan ini, kau tidak akan selamat malam ini dan kau tidak akan bisa bangun besok!" Nan menunjuk ke wajahnya dan mengancam Mac.

"Kuharap kau impoten, bajingan!" kata Mac marah. Nan mulai pulih dan menatapnya.

"Aku tidak peduli karena toh kau tidak bisa hamil!" kata Nan dengan nada normal.

"Kau tidak berpikir akan punya anak dan istri?" Mau tak mau Mac bertanya, Nan duduk tegak dan menatap Mac.

"Aku ingin punya istri, tapi anak, aku tidak yakin," kata Nan sambil mengangkat bahu.

"Kau sebaiknya tidak usah punya anak. Aku kasihan pada anak yang harus punya ayah sepertimum" canda Mac, Nan menatapnya dengan senyum di bibirnya.

"Aku merasa kasihan pada ayahmu karena memiliki anak sepertimu. Serius, apa kau pernah melakukan sesuatu untuk membuatnya bangga?" Nan bertanya, menyebabkan Mac terdiam.

"Jangan khawatirkan keluargaku," kata Mac bercanda, sebelum melempar handuk ke arah Nan.

"Ini belum berakhir, kau belum membersihkanku!" Nan buru-buru memprotes.

"Dasar bodoh!" Teriak Mac sebelum berjalan untuk mengambil bedak dan mengoleskannya padanya. Nan berdiri di sana, tersenyum seperti anak kecil.

"Apa kau menginginkannya di wajahmu?" tanya Mac, menyadari sesuatu.

"Oke," jawab Nan.

"Tutup matamu," kata Mac. Begitu Nan menutup matanya, Mac tersenyum tipis. Meskipun dia tidak bisa sepenuhnya membalas dendam, tapi dia masih bisa membalas sedikit.

Tiba-tiba...

Sedikit bedak tabur memenuhi wajah Nan, seluruh wajahnya memutih, termasuk alis dan bulu matanya.

"Haha...." Mac tertawa pelan saat Nan duduk tertegun, ketika dia menyadari apa yang dilakukan Mac, dia membuka matanya perlahan dan sedikit bedak jatuh dari bulu matanya.

"Lucu...uh, lucu sekali!!!" kata Nan dingin, membuat Mac mulai ragu.

"Aku tidak pernah membedaki siapapun, jangan membentakku," bantah Mac. Nan menatapnya tajam dan Mac harus menahan tawa.

"Apa kau tahu apa itu pemborosan bedak?" kata Nan.

"Kau bisa membeli yang baru," bantah Mac.

"Apa kau menggunakan barang tanpa berpikir? Kau berpikir untuk menghabiskan uang begitu saja?" Nan berkata lagi, Mac berdiri diam.

NAN MAC 1 [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang