bulshit

14 1 0
                                        

" Om diluar boleh? " Rakha menghela nafas, pusing mendengar kata om terus keluar dari mulut cantiknya

"Oke" Mereka berdua berjalan bersisian, Kirana memilih tempat paling ujung, duduk di sofa tunggal. Rakha tersenyum, mengerti bagaimana Kirana sebenarnya sangat berhati hati saat bersamanya.

Mario diikuti Manager hotel terlihat menghampiri mereka. Kirana melepas tote bagnya meletakkannya dibawah samping kursinya.

"Selamat sore pak Rakha, ada menu khusus yang ingin anda makan?" Manager hotel bertanya pada rakha.

"Kii mau makan apa? " Kirana menoleh padanya

"Apa ya om?" Mario terlibat menahan tawa mendengarkan panggilan itu, rakha mengabaikan nya

"Tapi om, di Surabaya ini yang enak rawon nya loo, tapi kayaknya kalo di hotel mustahil deh bakal enak, aku ga yak.. " Kirana mengatupkan bibirnya saat menatap manager hotel.

" Oke, rawon" Rakha menoleh pada manager hotel yang sedang menelan ludah gugup

"Gapapa om?" Rakha mengangguk.

" Om, i need lemon water, ada nggak ya? "

"Pasti ada, ada lagi? " Tanya rakha

"Udah." Kirana meraih handphone nya, tidak memperdulikan sekitarnya lagi.

Rakha berdiri menepuk pundak Mario

" Lo bisa jangan ganggu kan? " Mario mendengus

"Cari tempat lain" Lanjutnya

" Iya bos, ini masuk kerjaan kan? Jagain bos pacaran sama anak kecil" Rakha menyikut lengan Mario.

"Om, itu Mario ga disuruh duduk?" Suara Kirana terdengar.

" Tidak, saya tidak menunggui bos makan, permisi" Mario langsung berbalik setelah mengatakannya. Menghindari menatap mata rakha.

Rakha kembali duduk di depan Kirana
" Loo om kita cuma berdua?" Rakha mengangguk. Kirana kembali memainkan handphone nya

" Kalo ada lawan bicara di depanmu jangan main ponsel kii, itu ga sopan" Mario meraih ponsel Kirana, Mengantonginya kemudian.

"Yahh om, sorry om"
"Dengan kamu manggil aku om terus Kamu bikin aku di tertawakan Rio kii" Kirana tertawa.

" Terus gimana om, ehh btw tadi om belum jawab aku. Om umur berapa sih?"

" 30" Mata Kirana membola.

"Yahh bener dong, aku panggil om, tapi om kenapa sih harus brewok brewok gitu, takut tauu" Rakha tertawa keras.

" Kamu ga suka?"

" Ya mau ga suka juga emang kenapa? Mau di cukur? Nanti dimarahin istrinya"
Rakha benar benar tertawa sekarang

" Kamu suka nggak?"

"Nggak, geli liatnya"

" Bantu aku cukurin mau?"

"Gila om"

"Katanya kamu ga suka, jadi istri aku deh nanti aku cukur bersih, biar kamu ga geli"

"Apaan om! Geli apa sih maksudnya, bukan itu... "

"Itu apa?" Pipi Kirana sudah seperti tomat warnanya

" Om serius om, jangan godain aku, aku tuh masih kecil, nanti om dimarahin istri looo"

" Istri siapa? Kan aku udah bilang kamu yang jadi istriku"

" Gila! Om belum nikah? Yahh aku ga mau tinggal sekamar sama om kalo gitu, nanti aku di grepe grepe lagi"

" Ya emang belum kii, tadi aku udah ngomong ga bakal macem macem" Kirana diam menatap meja di depannya.

" Mau ambil kamar lain aja ya? " Kirana mengangkat wajah, menatap rakha.

" Enggak om, aku ga punya uang, tabunganku ga boleh keluar lagi, aku belum bisa kerja lagi nanti! " Kirana seperti tersadar sesuatu
" Ehh maksudnya itu... Om sorry ya aku malah kayak curhat, ga pernah deh aku se implusif ini, asal cerita ke orang lain"
Rakha tersenyum lembut pada Kirana, meski sebenarnya dia sudah mendapatkan berkas berkas Kirana, tapi rakha mau mendengar langsung saja.

" Kii kalo aku tanya kamu mau jawab nggak?"

" Tergantung om" Bersamaan dengan itu pelayanan restoran datang membawa rawon hitam yang sepertinya enak

" Rawonnnn" Kiranya meraih sendok dan garpu yang diletakkan pelayan di de depannya. Lalu menatao rakha

" Makan dulu ya om? " Rakha mengangguk

" Makan yang banyak, kamu sepertinya sedang lapar. "

" Enak? "Kirana menghirup kuah rawaon yang pekat itu

" Pha.. Nhasss om"

"Pelan pelan"

"He he he ini enak om, meski ga medok banget but ini okeee." Rakha mengangguk lalu ikut menikmati rawon pertama dalam hidupnya. Dan entah memang rawonnya atau karena makan dengan Kirana, rasa rawon pertamanya itu enak!

____

Selesai makan, langit sudah gelap, lampu lampu bersinar. Surabaya memang bukan tempat yang tepat jika ingin menatap bintang di langit malam, tapi saat ini Kirana nyaman dan menikmati mengobrol dengan orang yang baru dikenalnya.

" Besok apa rencana kegiatanmu?" Tanya rakha saat mangkok rawon yang habis tak berdosa itu selesai diambil pelayan.

"Aku kangen mama" Jawabnya pelan

" Mau kutemani? "

" Om pengangguran? Kayaknya sibuk deh, kok mau nemenin aku. "

" Bisa disesuaikan kok, abis nemenin aku bisa kerja "

" Boleh deh, aku udah lama ga jengukin mama, kayaknya dari aku lulus SMP deh.
Aku trauma mendengar kata Surabaya. Omongan tajam orang itu bikin aku ga bisa kesini"

"Lah kan curhat lagi" Kirana berdecak kesal, sedang rakha tertawa pelan

"Kamu bisa cerita apapun"

"Besok jangan pakai baju hitam ya om, aku nggak suka kalo jenguk mama seperti berduka. Aku mau mama tau kalo aku akan selalu bahagia, aku mau mama bangga aku bisa jalanin hidup ini dengan baik, aku mau mama tau kalo dia ga sia sia bawa aku ke dunia ini" Rakha tertegun, gadis ini terluka, sangat dalam, siapa yang melakukannya?

"Noted! Mobil ga boleh hitam? " Mata Kirana mengerjap beberapa kali lalu tertawa pelan, ekspresi wajahnya benar benar cepat berubah.

" Om, punya nya warna apa?

" Kalo disini ga banyak pilihanya, putih aja ya? "

"What the fuck om, serius kamu sekaya itu? " Rakha tertawa lagi, lebih keras dan lebar.

"Oke, sekarang balik ke kamar ya, kamu istirahat. Besok aku anter kamu" Kirana mengangguk kemudian meraih totebagnya, namun diambil alih rakha.

"Kenapa juga harus dibawain? Sini tas ku." Kirana hendak merebut tasnya, tapi rakha tidak membiarkannya, saat memasuki lift Mario ikut bergabung bersama mereka.

" Terserah deh. Hp aku mana? " Rakha merogoh saku jas nya kemudian menyerahkannya.

"Bos, besok pihak Aiman berencana membahas pembebasan lahar, dimasukkan pada agenda?" Mario bertanya dengan pelan

"Jangan besok" Jawab rakha.

" Om ga usah ditemenin akunya, serius"

"Rio kamu balik ke kamarmu, agenda besok, se fleksibel aku."

" Oke."
Kirana hendak mengatakan sesuatu namun akhirnya hanya diam.





Flight Mode DatingTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang