CHAPTER 3 : Pindahan?

196 83 83
                                        

"Di kira gay huaaa

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Di kira gay huaaa..."

"Mpffff hwahaha..." Alasya syokkk, ia mencoba menahan ketawanya itu tapi ketawanya terlepas dengan keras.

"Kok ketawa sih!" Beni terlihat sangat kesal karena di ketawai oleh sahabatnya itu.

"Maap-maap kelepasan"

"Mbak, ini bubur nya" Pandangan mereka pun teralihkan oleh kedatangan Bi Nani yang membawa bungkusan makanan.

"makasih Bi, ambil satu buat Bibi"

"Ah tau aja mbak kalo Bibi laper juga" Bi Nani pun dengan cepat menghilang membawa sebungkus bubur ayam itu, Alasya yang melihat tingkah Bibi nya itu pun hanya tersenyum tipis sambil menatapnya punggung wanita tua itu hingga mulai menghilang dari pandangannya.

"Satu kan buat lo terus kan tinggal dua, nah yang tinggal dua ini buat siapa?" Tanya Beni memecah lamunan gadis itu.

"Lo ambil deh ben, mumpung baik gue"

"Ih makasih loh, ternyata bestie ku satu ini sangat baik hati dan tidak sombong" Sang empu mendengar kata kata sahabatnya itu reflek memutar matanya malas.

"Eh La, lo udah tau ngga kalo lusa kita bakal pindah ke Jakarta?"

"Ha? Maksud lo?" Ucapnya penuh tanda tanya.

"Lohhh, lo ngga tau La?" Alasya menjawab dengan gelengan pelan kepalanya.

"Mama sama Tante Dara ada proyek besar di Aussie jadi kita mau di pindahin ke Jakarta di rumah nya Tante Windy, emangnya Nyokap lo ngga bilang?" lanjut beni lalu bertanya lagi.

"Emang lo pernah liat, Nyokap sama gue saling ngobrol?" Timpal Alasya menjawab dengan mengembalikan pertanyaan kepada sahabat nya itu.

"Ya nggak sih" Beni lupa jika kedua orang ibu dan anak itu memang jarang berkomunikasi.

"Nah itu tau"

"Ayo sekarang aja La" Ajak Beni pada gadis itu mengalihkan pembicaraan.

"Mau kemana?" Alasya pura pura lupa.

"Jangan sok lupa deh, gue tau lu bukan orang yang gampang pikunan"

"Ya sudah, ayo!" Ucapnya, Alasya mengambil dua bungkus bubur yang berada di tangan beni lalu melangkahkan kakinya meninggalkan beni yang termenung karena buburnya di rampas oleh gadis itu.

"Ih gimana sih, katanya buat gue La"

"Dari pada buat lo, mending gue kasih Tante Mia"

"Ih gue mau satu"

"Nggak!" Alasya pun berlari menghindari kejaran sahabatnya itu.

Sekian waktu berlalu, mereka sepertinya terlihat letih bermain lari-larian kesana kemari "ah cape gue ben" ucap Alasya dengan nafas tersenggal-senggal.

WRITTEN DESTINY | God Scenario (ON GOING)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang