Gata dan Turki sedang di ruang tengah rumah sewaan dengan kondisi meja yang berantakan. Sudah lewat tahun pertama, semenjak Gata memutuskan untuk meninggalkan kost di Jakarta dan menyewa rumah ini yang berada di Kota Bekasi. Alasannya karena masih banyak sewaan yang ekonomis di komplek perumahan dengan suasana yang tenang. Alasan lain, Javan dan Turki juga tinggal di Bekasi. Cukup bagi Gata yang sekarang tidak punya banyak teman dekat.
Beralih ke pekarangan rumah sekitar jam tujuh malam, Javan yang sebelumnya mengabarkan ingin mampir, akhirnya datang juga. Motor diparkir dan ia segera ikut bergabung. Kebetulan Gata memilih rumah di posisi hook hingga dapat membuat satu spot gazebo sederhana untuk sekadar duduk santai menikmati malam.
"Dua-duaan mulu kayak biji."
"Tau, deh, yang bentar lagi bijinya kepake," sahut Turki.
"Yee... Onta! Biji memang ada fungsinya dari lu lahir!" Javan menimpali. Disandarkan punggungnya pada kursi kemudian meluruskan kaki. Ia baru saja mendaratkan satu undangan VIP terakhir pada kerabat ibunya.
"Mepet banget lu. Acara tinggal seminggu baru nganter undangan," ucap Gata.
"Ya, gimana? Orangnya safari mulu," balas Javan sambil meletakkan ponsel ke atas meja.
"Kita-kita aja belum nerima. Malah kirim WA doang. Di grup pula," Turki merespon.
"Efisiensi. Di zaman serba susah ini, kita harus perhitungkan waktu dan biaya. Percuma gue kuliah enam tahun."
"SD kali enam tahun," pungkas Turki.
"Mulut!"
Tak lama terlihat pula kedipan lampu sebuah mobil berkali-kali. Memberi tanda dari arah pos keamanan, menuju ke rumah Gata yang tidak jauh dari sana. Sudah tidak asing bagi mereka bertiga. Pasti Sheika.
Sama seperti ketiga pemuda itu, Sheika mulanya adalah rekan kerja di salah satu Tech Company lima tahun lalu. Mereka satu angkatan bahkan resign di saat yang bersamaan pula. Bahkan mereka semua lahir di tahun yang sama.
Sheika menikah dua tahun lalu, tak lama setelah resign. Gata dan Turki coba berwirausaha, sedangkan Javan bekerja lagi di perusahaan baru. Sembari Tuhan belum memberikan Sheika tanggung jawab menjadi orang tua, sekarang ia masih disibukkan mengurus beberapa lini bisnis yang sudah dibesarkan oleh sang suami. Terutama untuk bidang kosmetik serta jasa kontraktor dapur restoran.
"Temen gue akhirnya siap jadi suami. Beneran udah gede lu, Van!" ujar Sheika sambil meletakkan dua kotak makanan.
"Gedean Turki," timpal Javan.
"Dih!"
Sheika tertawa. Selalu terhibur kalau sudah berkumpul seperti ini. "Gimana? Bisnis lancar? Apa mampet?" Pertanyaan menuju pada Turki.
"Lu sangka gue tukang ledeng? Lu sendiri gimana jualan panci aman?"
"Emang setan, ya, kalo ngomong. Nih, hasil jualan panci," Sheika menyodorkan kotak makanan tadi lebih dekat.
"Emang nggak salah temenan lama. Sekalinya mampir bawa beginian," Gata bersemangat membuka kotak berisi donat.
"Anjir donat langka ini!" Javan mengambil salah satunya dan mencicipi.
"Apaan, tuh?" Turki penasaran.
Javan sambil mengunyah, "Nggak kebeli dah ama lu."
"Kingkong sialan."
"Silahkan mumpung masih sanggup beli. Nyarinya susah," ucap Sheika.
"Makanannya susah dicari, duitnya apalagi," canda Gata.
KAMU SEDANG MEMBACA
Move It
Science FictionGata adalah pria bujang tiga puluh tahun yang hanya ingin menikmati hidup usai redupnya karir dan percintaan. Namun pertemuan dengan Nara, si perempuan muda yang mengaku bisa sulap, membuatnya kembali harus menjalani gejolak kehidupan yang berbeda. ...
