DENDAM

223 26 9
                                    

Baca pelan pelan, soalnya chap ini panjang.

________________________

Dua bulan sudah berlalu, kini Haruto dan Jeongwoo berada di persidangan untuk perceraian mereka.

Keduanya telah sah dengan status 'mantan'. Jeongwoo mengeluh lega, satu masalah yang berat sudah Jeongwoo lepaskan.

Kini, hidupnya hanya fokus dengan anak yang dikandungannya. Tiada lagi masalah yang harus dipikirkan, ia akan terus didepan. Jeongwoo tidak mempunyai sesiapa lagi untuk bergantung.

Haruto berjalan menghampiri Jeongwoo yang masih ngomong dengan Yoshi. Yoshi yang tahu Haruto menghampiri keduanya hanya karena ingin berduaan dengan Jeongwoo, maka itu ia minta izin ke si manis untuk bersurai terlebih dahulu.

Pria manis ini menatap malas dengan mantan suaminya, ia menatap datar ke Haruto.

"Mau apa?" Tanya Jeongwoo galak.

Haruto tidak berminat untuk menjawab, ia hanya ingin memandang netra cantik milik mantan istrinya itu buat kali terakhir. Tiada angin tiada ribut, tiba tiba aja Haruto memeluk Jeongwoo.

Jeongwoo kaget dan memberontak. Ia menolak badan Haruto dengan kuat sampai terlepas. Ia menatap Haruto tajam.

"Nggak usah deh, nggak usah dipeluk, Gue jijik deh sama lo. Jangan pura pura baik sama gue. Benci gue sama tatapan lo itu"

Jeongwoo menatap tajam Haruto, jelas sekarang, perasaan cinta akan Haruto sudah hilang. Jeongwoo berjaya membuai perasaan itu.

Yang ada di hati pria manis ini cuma dendam. Dendam dengan keluarga Watanabe, ia menyalahkan Haruto dengan semua apa yang ditimpanya dua bulan lalu.

Jika kejadian malam itu tidak berlaku, kejadian Jeongwoo tidak diusir Haruto, Bayinya dan kedua orang tua Jeongwoo tidak akan pergi meninggalkannya.

Maka dengan itu, Jeongwoo berjanji dengan dirinya bahawa keluarga Watanabe akan mendapat balasan yang mereka lakukan.

Sebegitu keluarga itu melakukan perbuatan keji pada dirinya dulu, begitu ia membalasnya. Hanya saja dia tidak berdaya sekarang, belum mempunyai kuasa untuk merungkai semua jenayah yang dilakukan keluarga itu.

Haruto yang mendengar kata Jeongwoo itu mendecih.

"Sombong ya? padahal udah bekas gue" kekeh Haruto.

PLAK!

Satu tamparan yang cukup menyakitkan mendarat di muka tampan Haruto itu. Mata Haruto memanas kala Jeongwoo berani menamparnya.

"ck, sudah berani ternyata. Jangan lupa Jeongwoo, jika bukan gue yang nafkahin lo, mungkin lo gak disini sekarang. Mungkin udah diatas sana" Ejek Haruto yang menunjukkan telunjuknya ke atas.

Jeongwoo mengertak giginya. Kesabaran Jeongwoo diuji, bohong kalau hati tidak sakit.

Haruto benar benar membuat Jeongwoo semakin benci melihat mantannya itu.

"Nggak ada gue, lo udah mati kebuluran Jeongwoo" Haruto menyungging mulutnya ketika ia berjaya memanaskan Jeongwoo.

Ia tersenyum kala Jeongwoo yang menahan geram dengan mengepal tangannya erat.

Jeongwoo mengangguk dengan kata Haruto. Ia setuju kata Haruto itu ada benarnya.

"Iya benar, terima kasih udah baik hati nyuruh anjing ini numpang di rumah lo. Lo baik ternyata." Ujar Jeongwoo dengan melanjur katanya yang bisa membuat Haruto terdiam.

GET BACK [HAJEONGWOO]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang