Isi dalam Wattpad dan novel ada banyak perubahan. Tentunya di novel lebih lengkap daripada di Wattpad.
Info beli novelnya bisa langsung ke Instagram aku ya!
@senjakuindah_12
@nur_amal12
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Setelah sempat berdebat dengan Elvano perkara air. Viona memilih ke rumah neneknya untuk menemui ibunya. Setelah menikah, Sarah yang menempati rumah mewah tersebut agar rumah itu tetap terawat.
"Mau kemana lo sore-sore gini?" tanya Elvano yang sedang merokok di balkon.
"Pulang, ga betah gue disini," jawab Viona ketus tanpa menoleh ke arah pria itu.
"Bagus deh, awas aja kalo lo balik lagi," sindirnya yang membuat Viona meliriknya tajam.
Tak ingin berdebat lagi dengan pria angkuh itu, akhirnya gadis itu langsung meninggalkan apartemen ini. Melihat kepergian Viona membuat Elvano berdecak kesal, "ck, paling pulang juga."
Saat ini tinggal lah pria itu seorang diri, ia termenung memikirkan kekasihnya yang sudah lama tiada, "Harusnya kamu yang ada di posisi Viona sekarang Ana," ucapnya lirih menatap indahnya langit di sore hari.
"Kamu pasti marah kan lihat aku sekarang sudah nikah, apalagi nikahnya sama adik orang yang udah buat kamu pergi," lanjutnya lagi.
"Maafin aku Ana, aku janji, aku pasti akan balas Lucas yang udah memisahin kita," ucap Elvano sambil memandang foto Alana yang masih menjadi wallpaper di ponselnya.
***
"Mama, Viona datang!" panggil Viona setelah tiba di rumah neneknya.
Sarah yang sedang menyiram tanaman di samping rumah langsung menemui sang putri. "Sayang, sendiri aja kesini? Suami kamu mana?" tanya Sarah berusaha mencari keberadaan Elvano.
"Ih, Mama kok nyariin orang lain sih?" kesal Viona saat Ibunya justru menanyakan orang lain saat dirinya sudah ada di hadapan ibunya.
"Loh bukan orang lain dong sayang, Elvano kan suami kamu, menantunya Mama. Jadi wajar dong kalau mama cari dia," ucap Sarah mengelus rambut putrinya.
"Nggak tau kenapa rasanya geli banget tau ma, dengerin kata kata 'suami' itu," ucapnya yang langsung meraih gelas untuk minum.
"Awalnya memang begitu, lama kelamaan nanti kamu juga terbiasa."
Viona manghabiskan waktu yang cukup lama di rumahnya hingga tak terasa malam pun tiba, saat ini waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam dan gadis itu masih setia di rumah neneknya, sebenarnya Viona ingin kembali ke apartemen tapi ia mengurungkan niatnya karena mengingat ucapan Elvano tadi sore yang membuatnya sakit hati.
"Kamu nggak pulang sayang? Atau mau tunggu El jemput kamu?" tanya Sarah pada putrinya yang sedang santai di ruang keluarga.
"Mama ngusir Viona?" tanyanya sedikit cemberut.
"Bukan begitu sayang, nanti El nyariin kamu gimana?"
"Orang dia sendiri yang ngelarang Vio pulang ke apart. Aku mau nginep di sini aja, Ma,” ucapnya sambil menyomot kue bawang yang tadi di buat oleh Sarah.
Sarah hanya menggeleng pelan lalu berjalan menuju dapur, tak lama kemudian terdengar suara pintu rumah di ketuk membuat Bi Iyem berlari untuk membuka pintu.
"Cari siapa ya Den?" tanya Bi Iyem pada seseorang yang mengetuk pintu tadi.
"Viona ada?" tanya pria itu.
"Ada Den silahkan masuk." Bi Iyem mempersilahkan pria itu untuk masuk. Viona yang mendengar bahwa ada tamu langsung berlari keluar melihat siapa yang datang.
"Kak Alex!!" Viona berteriak saat melihat Alex datang ke rumahnya. Viona langsung memeluk tubuh pria itu, sontak Alex juga membalas pelukannya.
"Kak maafin Viona waktu malam itu yah," ucap Viona membuat Alex mengangguk pelan.
Alex dan teman-teman Lucas yang lain belum mengetahui soal pernikahan Viona dan Elvano. Untung saja Viona ada di rumah saat ini. Jika tidak Alex akan bingung kemana perginya gadis itu, karena selama pindah ke Jakarta gadis itu tidak sering meninggalkan rumah.
"Iya, iya di maafin kok.” Alex mengacak rambut Viona gemas.
"Kamu, makin pendek ya Vi," ucap Alex menepuk pelan kepala Viona.
"Bukan Viona yang pendek, tapi Kakak yang tinggi banget," ucap Viona tidak terima.
Sementara di luar rumah, Elvano mengepalkan tangannya kuat saat melihat Viona sedang bersama Alex. Elvano yang tadinya ingin menjemput gadis itu langsung mengurungkan niatnya. Jika saja bukan Elmira yang menyuruhnya menjemput gadis itu, dia tidak akan keluar dari aprtemen semalam ini hanya untuk gadis itu.
"Bisa-bisanya dia pelukan gitu di depan gue!" Elvano mengepalkan tangannya kuat saat melihat mereka yang terlihat sangat dekat. Tunggu, apakah dia sedang cemburu saat ini?
Elvano menaiki motornya dan kembali ke apartemen tanpa membawa gadis itu, tidak peduli ibunya akan memarahinya jika mengetahui dia tidak membawa Viona bersamanya.
Sesampainya di apartemen Elvano langusung mengunci pintu dan langsung masuk ke kamarnya, ia masih di kuasai rasa emosi saat melihat Viona berpelukan dengan pria yang sangat dia benci.
"Anjing! Awas aja kalo lo ketemu gue besok," gumamnya.
Baru hendak menutup mata Elvano di kejutkan dengan suara ketukan pintu, dengan malas pria itu bangkit dari kasurnya dan membuka pintu apartemennya dengan wajah kesal.
Elvano mengepalkan tangannya saat melihat orang yang mengetuk pintu apartemennya adalah Viona
"Lo ngapain kesini hah!" bentaknya yang membuat gadis itu terkejut.
"Lo rencanain apa lagi sama Alex! JAWAB!!!" teriak Elvano tepat di depan wajah Viona yang membuat gadis itu itu mundur selangkah. Bagaimana bisa pria itu tau tadi dia bertemu dengan Alex.
"Gue tau lo pindah sekolah gara-gara ngincer gue kan? Lo mau balas dendam sama gue gara-gara kakak lo koma kan? Jawab bangsat!"
Mendengar ucapan Elvano sontak Viona menggeleng pelan, bagaimana bisa pria itu mengetahui semua rencananya yang ingin balas dendam.
"Maksud lo apa sih, gue kesini mau ngambil baju sekolah gue, minggir!" ucap Viona mendorong Elvano agar tak menghalangi jalannya.
"Gue bakal buat kakak lo yang lemah itu mati, dan—"
"Alex, gue juga bakalan habisin cowok itu!!" ucap Elvano dengan amarah yang membara.
Viona yang tidak tahan mendengar ucapan Elvano sontak langsung menampar pipi pria angkuh itu. Elvano tersenyum miring menatap gadis yang sedang menatapnya tajam.
"Lo mau balas dendam kan? Yaudah lakuin hal itu sekarang!" ucap Elvano dengan tangan yang terkepal kuat.
"Gue juga bakal balas perbuatan kakak lo yang udah buat pacar gue meninggal!" Balasnya lagi.
"Kakak gue nggak salah, justru gara-gara lo kakak gue koma. Lo tega nuduh orang sembarang tanpa bukti apa-apa!"
"Tanpa bukti lo bilang? Lo nggak lihat apa foto motor kakak lo yang jelas-jelas nabrak mobil pacar gue." Elvano menunjukkan bukti foto motor Lucas yang terpampang nyata di depan mobil Alana saat kecelakaan, terlihat di sana motor Lucas memang menabrak mobil gadis itu.
Viona menggeleng palan, "Brengsek lo! Kakak gue nggak salah!" bentak Viona sebelum meninggalkan Elvano yang masih di kuasai oleh emosinya.
Pria itu meremas tangannya kuat, jika saja Viona bukan perempuan sudah pasti dia habis di tanganya malam ini.