Sudah berdamai

2.6K 81 2
                                        

Elvano membanting tubuhnya kasar di atas kasurnya, entah kenapa perasaannya tiba-tiba tertuju pada wanita yang sudah berstatus sebagai istrinya itu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Elvano membanting tubuhnya kasar di atas kasurnya, entah kenapa perasaannya tiba-tiba tertuju pada wanita yang sudah berstatus sebagai istrinya itu. Dia seperti tidak rela jika gadis itu meninggalkannya sendirian, sudah cukup sahabat sahabatnya pergi meninggalkannya, Viona jangan.

Elvano menggerutu tidak jelas di dalam kamarnya sambil mengacak rambutnya frustasi. “Arghhh,, gue kenapa sih mikirin cewek gila itu mulu, bukannya bagus ya kalau dia pergi, tapi kenapa gue khawatir kalau dia beneran ninggalin gue.”

Bersamaan dengan Elvano yang tengah memikirkan Viona, gadis itu mengetuk pintu kamar Elvano dengan pelan. “Lo mau makan nggak!” teriak gadis itu dari luar.

Elvano bangkit dan langsung membuka pintu kamarnya, Viona yang tengah bersandar pada pintu sontak terkejut dan hampir terjatuh. Kalau saja Elvano tidak menahannya pasti gadis itu sudah tersungkur di lantai.

Jantungnya berdetak sangat kencang saat matanya dan mata Viona saling bertatapan. Jika di lihat sedekat ini, wajah wanita itu terlihat sangat cantik natural tanpa olesan make up sedikitpun. Aroma vanilla yang menjadi ciri khas gadis itu membuat Elvano candu, bulu matanya yang lentik serta bibirnya yang tipis membuat jantungnya semakin tidak karuan. 

Viona mendorong tubuh Elvano agar menjauh dari tubuhnya,

“Apaansih lo!” Kesal Viona merapikan bajunya.

“Lo yang ngapain senderan di pintu gue,” cibir Elvano tak kalah kesal.

“Lo mau makan nggak? Kalo mau gue pesenin juga. Gue malas masak,” ucap Viona lalu beralih ke sofa.

“Terserah!” jawab Elvano lalu ikut duduk di samping Viona.

Viona melirik Elvano dengan sinis, “Biasanya cewek yang suka ngomong terserah, lo cewek atau cowok sih?” ucap Viona yang langsung mendapat tatapan tajam dari pria itu.

“Emang ada cewek badannya se kekar gue. Nih otot gue gede, mana mungkin gue cewek.” Elvano memamerkan otot tangannya lalu maraih remote Tv yang sedang di pegang oleh Viona.

Viona hanya menghela napas lalu mengambil ponselnya dan memesan makanan untuk mereka. Saat asik memainkan ponselnya, tiba-tiba Elvano mendekati Viona dan menggenggam tangannya. Kemudian Elvano memegang dadanya untuk memastikan dan benar. Jantungnya berdetak lebih cepat saat dia memegang tangan gadis itu.

Viona melotot dan langsung menepis tangan Elvano yang berani memegang tangannya. “Wah lu modus ya, sana-sana!” Viona mengusir pria itu dengan mendorongnya pelan.

Elvano menurut dan langsung menjauhkan dirinya dari Viona. Dia masih bergelut dengan pikirannya sendiri. Biasanya saat jantung berdetak lebih kencang saat berdekatan dengan seseorang yang kita sukai kan? Itu artinya Elvano menyukai gadis itu?

Diam-diam Viona melirik Elvano yang mematung di sampingnya ini, “Kesambet apaan lo?” sindir Viona.

“Kesambet cinta,” jawabnya tidak sadar. Viona yang sedang minum jus mangga sontak tersedak dan membuat Elvano memukul mulutnya pelan.

“M-maksud gue, gue laper, iya gue laper. Mana sih makanannya lama banget,” ucap Elvano salting.

Viona hanya terkekeh pelan melihat tingkah lucu pria itu saat salting. Ini pertama kalinya ia bercanda dengan pria dingin itu. Setelah Lucas bercerita padanya bahwa Elvano sudah berbaikan dengannya membuatnya sedikit lega. Dia tidak perlu mengkhawatirkan kakaknya lagi.

Karena malu dengan ucapannya tadi, Elvano memilih masuk ke kamarnya untuk mengurung diri sejenak sambil menunggu makanannya datang. Di dalam kamar Elvano terus mengumpat dalam hatinya karena sudah bertingkah bodoh di depan Viona.

“Masa iya gue suka sama cewak gila itu,” gumamnya dalam hati.

Elvano kembali memegang dadanya dan masih saja jantungnya berdetak kencang saat memikirkan gadis itu. Itu sudah pasti dia jatuh cinta pada Viona, hanya saja dia gengsi mengungkapkannya.

Saat memikirkan tentang kata ‘cinta’ Elvano langsung teringat oleh Alana. Gadis yang dulu dia perjuangkan selama 2 tahun lamanya

Baru berpacaran kurang lebih sebulan, gadis itu pergi meninggalkannya selama-lamanya. Tapi apakah Elvano tidak bisa membuka hati? Tentu saja dia harus belajar melupakan Alana. Apalagi dia sudah mempunyai Viona. Entahlah apakah gadis itu juga mencintainya atau tidak, ah mungkin saja belum.

***

Angkasa dan Monica tengah berjalan-jalan di Mall, tentu saja karena di ajak oleh gadis itu. Angkasa dengan senang hati menerima ajakan dari kekasihnya itu. Angkasa berjanji pada dirinya sendiri akan belajar mencintai Monica, karena pada dasarnya cintanya pada Viona tidak mungkin terbalaskan.

“Kak, katanya Mama kamu mau nikah bulan depan ya?” tanya Monica sembari melihat-lihat baju.

“Iya, kamu dateng ya,” jawab Angkasa.

“Aku malu kak, soalnya belum pernah ketemu sama tante Nora.”

 “Besok mau ketemu nggak? Nanti aku kenalin deh. Sekarang kita makan yuk, laper nih.” Angkasa menggandeng tangan Monica.

“Angkasa!” teriak seseorang dari belakang. Sontak Angkasa dan Monica langsung menoleh.

“Buset dah, sejak kapan nih Angkasa jadi bucin gini?” ucap Dion menyindir.

Angkasa menjitak jidat Dion dengan pelan. “Lo ada dimana-mana anjir. Ngapain sih?” tanya Angkasa masih menggandeng tangan Monica sepertinya pria itu tidak mau melepasnya walaupun sekarang Dion memandanginya aneh.

“Ya emang kenapa kalo gue di sini? Emang Mall ini punya lo?” sewot Dion mengelus jidatnya.

“Kak Dion mau ikut kita makan nggak?” ajak Monica. Ini pertama kalinya Dion mendengar kata-kata lembut dari bibir gadis itu, biasanya dia terlihat galak saat di sekolah.

“Nggak ah, yang ada gue jadi nyamuk.” Dion menolak dan langsung di angguki oleh Monica.

“Yaudah sono balik! Ngapain masih di sini?” Angkasa mengusir.

“Mon, bantu gue deket sama Dian lagi lah. Lo nggak kasian lihat gue jomblo ngenes kayak gini. Elvano udah punya Viona, lo udah punya Angkasa, Felix udah punya Intan, Bara udah punya Gendis. Tinggal gua doang yang jomblo,” ucap Dion dengan wajah memelas membuat Angkasa memutar matanya malas.

“Yaudah, besok gue coba ngomong ke Dian. Semoga aja dia mau ya,” ucap Monica dan di angguki oleh Dion.

Setelah puas mengganggu sahabatnya yang sedang pacaran, Dion langsung pamit pulang ke rumah. Dion datang ke sini karena di suruh ibunya beli parfum.

Akhirnya Angkasa dan Monica menuju salah satu restoran untuk mengisi perut karena sedari tadi mereka hanya mengelilingi Mall, belum sempat makan. Angkasa meraih menu dan memilih makanan yang akan dia pesan. Setelah pesanannya datang mereka langsung menyantap makanan itu dengan lahap.

“Kak, kenapa waktu itu langsung nembak aku? Padahal dulu kakak cuek banget,” tanya Monica memecah keheningan di antara mereka.

“Harus banget di jawab nih?” ucap Angkasa masih fokus dengan makanannya.

“Harus!”

“Waktu itu aku memang belum punya perasaan sama kamu. Tapi, setelah menjalin hubungan selama ini rasa suka itu perlahan muncul dengan sendirinya. Percaya deh aku ngomong ini jujur.”

***


MOIRAI [Terbit✓]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang