Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
.
.
.
"Heh, Karin? Ih, iler lo kemana-mana tuh, Rin."
Karina tersadar dari lamunannya dan secara otomatis mengangkat punggung tangannya ke mulut, dia berhenti mengusap area bibirnya saat dia melihat Winter terkikik ke arahnya.
"I hate you, kuntet."
Karina cemberut dan mendorong kacamata besar berbingkai tebalnya lebih jauh ke atas pangkal hidungnya, menundukkan kepalanya karena malu, Karina tahu ada rona merah di pipinya juga. Di seberang mereka, sekelompok wanita tua yang memperhatikannya ikut terkekeh karena dia terlalu menggemaskan.
"Oh my God, i love you more, baby, uh..." bisik Winter dan mencubit pipi Karina pelan, yang pada akhirnya membuat Karina tersenyum kecil karena tingkah gila sahabatnya itu.
Karina bukan orang yang bisa marah terlalu lama, meskipun dia kesal dan jengkel karena kejahilan Winter, dia akan bisa kembali tersenyum karena kekonyolan sahabatnya. Winter adalah satu-satunya teman yang dia punya, makanya dia sudah terbiasa dengan tingkah dan sikap gadis kecil itu. Dan Karina tahu, sahabatnya ini pasti menyadari bahwa dia sedang memperhatikan seseorang di seberang kolam renang itu.
"Tapi gue tau, cinta lo ke gue ngga sebesar cinta lo ke Ms. hot-sexy-and-perfect, si lifeguard di sana."
Winter menunjuk secara terang-terangan ke arah Giselle, dan Karina hanya bisa menjerit tertahan saat dia melihat liftguard itu menatap ke arah mereka dari kejauhan. Dia merasa semua darah mengalir ke wajahnya dan berakhir memerah seperti kepiting rebus.
Please, semoga dia ngga denger omongan si pendek gila ini
"Tapi dianya cinta lo atau ngga?" Bisikan Winter terdengar hingga ke seluruh area yang membuat mereka menjadi pusat perhatian semua orang di sana.
"I will kill you!" Karina menjerit.
Detik berikutnya, dia melompat dan membekap mulut sahabatnya, tidak peduli bahwa dia menyebabkan keributan kecil hingga membuat orang lain yang bersantai di sekitar mereka mengalihkan perhatian mereka ke dua orang yang tiba-tiba terlibat dalam pertandingan gulat.
Beberapa saat kemudian Karina menghentikan pergerakannya saat Winter juga melepaskan cengkeraman pada pergelangan tangan Karina dan menepuk sisi tubuh sahabatnya dengan pelan, menunjuk ke seseorang di belakang Karina. Pandangan sekilas ke lantai keramik menunjukkan sosok familiar seseorang yang dia perhatikan tadi.
Familiar hanya karena Karina menghabiskan sebagian besar musim panasnya dengan berkunjung ke kolam renang itu sambil memperhatikannya.
Aduh... ini gue harus gimana? Gak berdaya gue kalo dia disini
"Apa ada masalah disini?"
Dalam seperti lautan dan menenangkan seperti ombak, hati dan pikiran Karina terasa damai saat mendengar suara Giselle. Winter menarik dan menghembuskan nafas panjang saat akhirnya Karina melepaskan mulutnya, tapi gadis cantik itu tak mau berbalik untuk menyapa Giselle.