Berjejaring dengannya dalam hidupku membuatku berpikir, dosa besar apa yang pernah kulakukan hingga membuatku berada dalam satu ikatan dengannya. Begitu perkataan Ayyasya Fatikha setelah bertemu dengan seorang Raffasya Rahsya Asy-Syauqi.
"Jangan per...
Harta yang banyak memang bisamencukupi kebutuhan hidup tapi belum tentu bisa buat beli tiket surga
SYA
____________________
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Menjadi pensiunan direktur dari perusahaan besar adalah salah satu definisi menikmati hari tua yang sesungguhnya. Materi tercukupi, keperluan terpenuhi, apalagi? hidup mungkin hanya tinggal memikirkan mati.
Namun semua itu tak berlaku bagi Pak Marvin. Nyatanya ia pensiun bukan karena sudah melampaui batas umur, bahkan umur beliau masih terbilang cukup untuk bisa menjabat beberapa tahun ke depan.
Takdir tak ada yang tahu, beliau terpaksa melepaskan jabatan dari perusahaan yang ia bangun karena penyakit yang dideritanya.
Beliau melepaskan segala title yang ada di bahunya dan meninggalkan berbagai hiruk-pikuk pekerjaan yang telah menopang hidupnya selama ini. Namun semua masih tercukupi. Hartanya mungkin bisa menghidupi tujuh generasi.
"Saya baru menyadari, bahwa sumber ketenangan itu bukan dari harta, melainkan dari Sang Pemilik Ketenangan itu sendiri,"
"Kalau berbicara soal harta, saya baru menyadari bahwa salah satunya hal yang tidak bisa didapat dengan harta itu adalah waktu yang sudah lewat. Menyesal? iya. Kehilangan waktu di masa lalu sebelum menyiapkan waktu untuk masa 'pulang' rasanya sangat-sangat rugi,"
"Betul. Harta yang banyak memang bisa mencukupi kebutuhan hidup tapi belum tentu bisa buat beli tiket surga." Mendengar itu membuat seluruh badanku merinding. Seumur-umur baru kali ini aku mendengar ucapan yang menggetarkan dari salah satu orang yang sangat berpengaruh di kota metropolitan ini.
Sungguh, maha kuasa Allah yang memiliki kehendak dalam membolak-balikkan hati manusia.
Bersamaan dengan cahaya matahari yang mulai meredup. Mobil Rahsya sudah keluar dari gerbang panti asuhan. Saat aku mengalihkan pandangan ke seberang aula panti, sangat jelas terlihat raut gembira dari anak-anak yang tengah membuka berbagai jenis bingkisan dari Pak Marvin.
Melihat mereka ceria membuatku ikut tersenyum. Bahagianya mereka itu sederhana. Tidak perlu jauh-jauh liburan ke luar negeri atau makan makanan mewah di restoran terkenal. Melainkan, mereka butuh orang-orang yang peduli dan sayang kepadanya. Itu lebih dari cukup.
Meski tak bisa dipungkiri bahwa kasih sayang dari kedua orang tuanya adalah salah satu kasih sayang tertinggi yang ia harapkan di sepanjang hidupnya.
Cukup lama aku berdiri di teras, aku kembali masuk ke ruang tamu dan membantu bibi membereskan toples-toples dan membawa dua cangkir kosong yang sebelumnya terisi dengan teh hangat ke dapur.
"Bi, kok Ayyasya ngerasa enggak asing, ya, sama Pak Marvin," tanyaku.
"Ya enggak asing, lah. Beliau sejak kamu sekolah dasar, sebulan sekali pasti ke sini buat nengokin anak-anak panti. Tapi semenjak beliau sakit, mungkin dua bulan atau tiga bulan sekali ke sini,"