Berjejaring dengannya dalam hidupku membuatku berpikir, dosa besar apa yang pernah kulakukan hingga membuatku berada dalam satu ikatan dengannya. Begitu perkataan Ayyasya Fatikha setelah bertemu dengan seorang Raffasya Rahsya Asy-Syauqi.
"Jangan per...
Bagi mereka yang hatinya masih terketuk dengan iman, ia yakin bahwa di setiap kesulitan selalu datang bersamaan dengan kemudahannya. Mereka hanya menunggu waktu. Yang akan terjadi pasti terjadi. Dan— itulah yang terbaik.
SYA _______________________
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
MATAKU terbuka kembali setelah tidur kurang lebih hanya tiga jam. Ya, pukul setengah dua dini hari tadi mataku baru bisa terpejam dan kini harus bangun saat waktunya salat subuh.
Jelas masih lelah. Setelah semalam lembur, ditambah insiden yang tak terduga. Rasanya aku ingin tidur lebih lama lagi.
Saat aku berjalan ingin mengambil air wudhu di keran samping dapur, Bang Hammam juga akan melakukan hal yang sama. Raut wajahnya masih sama seperti semalam saat aku baru pulang jam satu dini hari. Mengerikan. Asli. Sangat betah dia menampilkan tampang menusuknya.
Katanya, ia akan baru menceramahiku pagi-pagi. Mungkin maksudnya sebagai ganti kultum subuh.
Bang Hammam itu tipe orang pendiam tapi sekali marah auranya melebihi harimau yang kehilangan mangsanya.
Setelah subuh, sebenarnya aku berniat untuk bergegas mandi dan berangkat lebih awal agar tidak kena omel. Namun, ternyata Bang Hammam selalu lebih awal dariku.
Saat aku membuka pintu kamar, Bang Hammam sudah berdiri dan sudah rapi dengan sweatshirt dan trousers-nya. Keren tapi wajahnya masih seperti triplek.
"Kenapa pulang malam?" tanya Bang Hammam to the point. Ah iya, dia itu kurang suka dengan basa-basi. Bagi dia, selaku orang yang task-oriented basi-basi adalah hal yang membuang-buang waktu.
Apalagi dia adalah seorang konselor psikologi, dia paham betul bahwa chit-chat disebut juga 'noise' sehingga membuat pesan utama yang harusnya tersampaikan malah jadi tersamarkan.
Aku kira Bang Hammam bakal tahu alasan aku pulang malam karena aku sudah menghubungi bibi. Atau mungkin dia ingin tahu alasan lebih lengkapnya.
"Lembur, Bang. Pas mau balik jalanan macet. Akhirnya cari jalan lain. Nah, waktu sampai belakang Ragunan, aku liat kecelakaan. Ternyata itu bosku, Bang. Yaaa akhirnya dibawa ke rumah sakit, lah," jelasku jujur. Dia masih menelisik dan memeriksa apakah ada kebohongan yang aku tutupi.
Ya Allah, gini, ya rasanya punya abang sepersusuan yang kadang galak, kadang ngeselin, kadang bijak. Tapi banyak bikin naik darahnya.
"Terus kamu nganter dia ke rumah sakit?" tanyanya lagi dengan ekspresi yang tidak berubah sedikitpun.
"Iya, sama bapak-bapak yang kebetulan lewat naik mobil. Akhirnya kami numpang," balasku sambil mempersiapkan mental dan jawaban untuk pertanyaan selanjutnya. Rasanya seperti anak magang yang lagi interview kerja.