Berjejaring dengannya dalam hidupku membuatku berpikir, dosa besar apa yang pernah kulakukan hingga membuatku berada dalam satu ikatan dengannya. Begitu perkataan Ayyasya Fatikha setelah bertemu dengan seorang Raffasya Rahsya Asy-Syauqi.
"Jangan per...
Allah enggak pernah salah pilih waktu atau cara. Mungkin kita lihatnya dari sisi paling pedih, tapi Allah lihatnya dari sisi yang kita belum sanggup pahami.
SYA ___________________
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
SELANG infus masih tertancap sempurna di tangannya. Mata sayu. Wajah pucat. Tatapan kosong. Semua itu mendominasi keadaanya saat ini. Aku tak tau apa yang ia pikirkan sekarang. Ketika Gio di sini pun ia tak banyak bicara.
Aku sedikit melirik bagian atas kepalanya, apakah ada luka di sana? Atau jangan-jangan dia hilang ingatan?
"Kenapa?" tanyanya setelah aku menengok ke arah kepalanya. Baik-baik saja.
"Enggak, Pak. Tadi, kaya ada hewan kecil di bantal," bohongku.
"Kamu pikir saya punya kutu?" tanyanya sedikit geram.
"Eh, bukan. Maksud saya tadi ternyata cuma semut lewat, Pak." Aku menggaruk leherku berbalut jilbab meski tak gatal.
Setelah suasana sudah sedikit ringan, aku meletakkan buah-buahan di meja. Ternyata bubur yang diberi Gio tadi belum tersentuh sama sekali. Bubur itu masih tersegel rapat dengan balutan sterofoam.
Aku mulai mengupas sebagian buah-buahan dan meletakkannya pada piring kecil. Kelihatannya sangat segar. Namun, sayang, di mata orang yang sakit ini rasanya tak lebih dari sekadar air tawar.
"Terima kasih, Sya. Padahal saya enggak minta kamu direpotkan." Perkataan Rahsya membuat aktivitas mengupasku berhenti sejenak. Enggak minta kamu direpotkan? apa aku tidak salah dengar?
Seketika aku flashback dengan perilakunya yang hampir 24 jam meminta bantuanku. Entah di kantor membuatkan kopi, follow up pekerjaan, monitoring proyek, koordinasi antar tim, bertemu klien, sekretaris rapat, babu saat photoshoot, hingga menelponku reservasi tempat meeting dan reschedule jadwal produksi di tengah malam.
"Iya, Pak. Lagian ini juga jadi tugas saya," ucapku dan melanjutkan aktivitasku.
"Bahkan merawat ketika atasannya sakit? Saya pikir tidak ada dalam job desc," jelasnya.
Aku mulai memikirkan hal ini. Memang benar apa yang dikatakan Rahsya. Pekerjaanku ini adalah asisten manajer produksi bukan asisten rumah tangga. Aku rasa ini berlebihan jika dilihat dari sudut pandang pekerjaan.
Tetapi dalam hidup, tidak semua harus dikotak-kotakkan. Setiap perilaku memiliki porsinya masing-masing. Kapan harus bertindak, kapan harus diam.
Apa salahnya jika manusia memiliki rasa kemanusiaan. Bukankah itu hal dasar yang sejatinya harus dimiliki manusia?
Aku sama sekali tidak merasa terbebani. Aku yang sudah terbiasa dengan merawat anak-anak panti yang sedang sakit, tak tega pula melihat manusia yang merupakan bagian dari rekan kerjaku terbaring lemah. Bukan karena dia Rahsya. Tapi karena dia manusia.