Chapter 12

9 1 0
                                        

Manusia diciptakan juga untuk saling menjaga, kan? Bahkan ketika logika sudah bukan lagi jadi tumpuan.

SYA

__________________

KERJA bagai kuda kembali terulang malam ini

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


KERJA bagai kuda kembali terulang malam ini. Jangan ditanya bagaimana kondisi punggung, mata, dan tanganku yang kian digerakkan kian pegal. Namun tidak ada pilihan lain selain menyelesaikan mem-back up file karena besok harus sudah mulai editing.

Tidak sendiri, aku masih ditemani beberapa dari tim editing yang juga sibuk menyelesaikan photo culling dan color correction dari pemotretan-pemotretan sebelumnya.

Rahsya? jangan ditanya. Dia sudah menghilang sejak berakhirnya evaluasi internal yang selesai sebelum azan maghrib tadi. Dia pergi tidak menitipkan pesan apapun kepada anak buahnya. Bahkan tasnya masih tergeletak di samping meja kerjanya.

Jam dinding menunjukkan pukul 22.00 dan aku masih memegang laptop Rahsya yang sedang dicas hingga kabelnya menjuntai seperti selang infus. Mela yang terkenal anak editing paling kalem pun terlihat mulai ngomel-ngomel karena software yang ngadat.

Aku semakin dibuat tercengang ketika melihat Ivan yang ketiduran karena kekenyangan memakan beberapa potong pizza. Lain halnya dengan Rafi yang kini sudah membekap tubuhnya dengan hoodie hitam dan sengaja meninggikan watt matanya dengan secangkir kopi panas.

"Ini file yang udah ku back up aku simpan di hard disk, ya," kataku pada tim editing.

"Aman, Kak Sya," balas Naira yang sedang mengoleskan minyak kayu putih di pelipisnya.

"Eh, guys, folder sesi dua belum keisi, ya?" tanya Rafi sambil sesekali menyesap kopinya.

"Baru on progress, bro. Baru sesi satu yang udah lengkap," jawab Rendi.

"Sip. Hati boleh kosong tapi folder jangan," receh Rafi yang terdengar oleh Rendi hingga ia menyemburkan air putih yang belum sempat ia telan.

Bruss

"Anj- astaghfirullah. Siapa yang nyiram gue?!" teriak Ivan yang terbangun karena semburan air dari Rendi yang mengenai wajahnya. Ivan langsung mencoba duduk meskipun nyawa masih belum terkumpul.

Aku pun semakin dibuat tertawa. Bisa-bisanya ia yang seorang non muslim tapi ucapannya melebihi orang muslim yang ada di sini. Dia lebih memilih istighfar dan me-cancel umpatannya.

"Eh, sorry, Van. Gara-gara si Rafi, nih, recehannya kayak nyeritain jalan hidupnya," kata Rendi sambil mengelap ujung bibirnya.

Menghiraukan ucapan Rendi, Ivan malah nyeletuk,

"Ah, bodo amat. Btw tadi gue ngimpi ada malaikat yang nagih gue. Katanya tagihan nyelesaiin editannya belum lunas," ucap Ivan sedikit panik.

"Hayo, loh. Malaikatnya klien, sih," jawab Rafi sekenanya.

SYATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang