Bab 5 : Batu Sandungan
🥀🥀🥀
"Thanks," ujar Kara datar.
Gadis itu turun dari motor Arka dan langsung melenggang pergi begitu saja usai mengatakan kata terima kasih. Bahkan belum sempat Arka membalas ucapannya.
"Sama-sama."
Arka geleng-geleng kepala melihat kelakuan sang kakak. Dipandanginya sekilas punggung yang perlahan menjauh darinya itu, lalu turun dari motor disusul helaan napas berat.
Baru hendak melangkah menyusuri koridor, suara meledek dari belakang menginterupsi langkah Arka.
"Cieee, berangkat bareng siapa lo tadi?" celetuk suara dari samping kiri Arka.
"Pacarnya, ya?" timpal suara lain dari samping kanan Arka.
Dua lelaki yang baru datang dengan seragam amburadul, baju sengaja dikeluarkan dan kancing bagian teratas sengaja dibuka. Menatap Arka penuh selidik. Juga senyum jahil masing-masing terukir di bibir.
Arka memutar bola mata malas. Baru pagi-pagi sudah dipertemukan saja dengan kakak kelasnya yang sengklek-sengklek itu. Kelakuan mereka sebelas dua belas dengan Kara suka sekali menguji kesabaran dan membuat kepala mengepul panas.
"Kalo diliat dari belakang cantik juga, sih. Selera lo ternyata keren juga, Bro," celoteh Cakra terkekeh.
"Emang lo, modelan tante girang aja diembat. Mungkin Agus lovers yang biasa nangkring di lampu merah lu doyan juga!" Bibir pedas Awan mulai beraksi. Pada dasarnya, lelaki itu selalu sensitif dan bibirnya mengeluarkan kalimat tajam jika itu menyangkut Cakra.
Cakra melotot, menatap garang Awan di sebelah Arka. "Lo pikir gue belok?!" seru Cakra dan lanjut mencibir, "Sirik aja loh!"
Awan mendengkus. "Itu tau," gumamnya.
Pusing melihat dua orang itu bertengkar. Arka berlalu dari hadapan dua orang itu memberikan ruang kosong agar leluasa memperdebatkan hal yang tidak penting, atau kalau sampai adu jotos itu lebih seru.
Arka menghampiri seorang lelaki berseragam lengkap dan rapi seperti tatanan rambutnya yang disisir rapi ke sebelah kiri. Sejak tadi menjadi penonton adegan random dua sahabatnya itu dari depan lorong sekolah. Badannya sedikit bersandar pada tiang koridor.
Arka melakukan high five dengan lelaki pemilik raut wajah super datar. Sama sekali tak ada senyum yang terbesit di sudut bibirnya. Sebelas dua belas dengan Arka, tetapi yang satu itu jauh lebih parah. Dari jarak dekat dapat Arka rasakan aura mencekam yang dipancarkan lelaki itu.
Arka berdiri di sebelah lelaki itu. Arka ikuti arah pandangnya. Sedikit senyum tipis tersungging di bibirnya, lanjut kepala yang menggenang-geleng.
Di seberang sana, perdebatan panas Awan dan Cakra sudah berubah menjadi pertengkaran kecil. Saling dorong-mendorong pakai bahu bak anak Sekolah Dasar ketika sedang berantem sama temannya.
"Mending selera gue yang aneh, daripada lo yang kena cap buaya darat bertampang good boy!" Giliran Cakra yang membungkam lawan debatnya.
"Biarin. Itu artinya tampang gue berkelas. Banyak yang suka sama gue," tukas Awan tak mau kalah. Bahkan lelaki itu sudah memasang senyum remeh merasa menang atas perdebatan itu.
Cakra mendengkus. "Berkelas kagak, murahan iya!" cibirnya.
"Kayak gue dong limited edition," lanjut Cakra sombong, memeletkan lidah mengejek dan langsung ngacir dari hadapan Awan yang sudah berapi-api.
KAMU SEDANG MEMBACA
BagasKara : Efemeral
RomanceCover by canva Tentang Kara yang tidak pernah mendapat bahagia oleh semesta. Dan, tentang Bagas yang menemani wanita berbeda keyakinan dengannya mencari cercah keping-keping kebahagiaan yang bersembunyi di balik kelamnya malam. *** Start : 01 Oktobe...
