bab 23 : antara awan & bagas

59 3 0
                                        

Bab 23 : Antara Awan & Bagas


🌹🌹🌹

Usai mengantar pulang Kara, Awan langsung menancap gas ke gereja tempat Bagas beribadah. Tidak memakan waktu sampai setengah jam Awan sudah sampai. Jarak dari rumah Kara dengan gereja tersebut memang tidak terlalu jauh. Mungkin hanya sekitar satu setengah sampai dua kilometer.

Awan membuka helm full face dan menyugar rambut hitam lebat ke belakang. Dahinya mengerut begitu mengedarkan pandangan ke dalam pekarangan gereja. Tak satu pun kendaraan terparkir padahal tadi dari ujung kiri sampai ujung kanan sumpek oleh jejeran motor maupun mobil, bahkan hampir tiada celah.

"Loh, udah pada bubar? Apa ibadahnya udah selesai?" Awan bergumam. Bagas pasti udah balik, lanjutnya dalam hati.

Dirogohnya kantung depan celana. Benda berbentuk pipih keluar dari sana. Awan terlonjak kaget, bola mata membulat besar. Begitu mengaktifkan layar handphone yang pertama kali muncul adalah puluhan notif chat dan panggilan dari Cakra. Beberapa menit yang lalu. Artinya saat Awan sedang dalam perjalanan balik. Pantas saja tak mendengar bunyi notif tersebut.

Awan menekan tombol panggil. Begitu panggilann tersambung langsung disambut suara cempreng Cakra yang seolah ingin menelannya hidup-hidup.

"Lu ke mana aja, Sat? Bagas udah nungguin lo dari tadi di situ kagak nyampe-nyampe katanya?!"

Awan meraup wajahnya kasar sembari merutuki diri sendiri. "Gue minta maaf soal itu. Gue bisa jelasin nanti. Tapi yang penting, Bagas udah nyampe rumah, kan?"

"Baru aja nyampe. Mukanya seram bat cok. Mending lu cepat balikin dah tuh motor sebelum dicincang abis," kata Cakra di seberang sana.

"Iya-iya, ini gue langsung otw." Awan menjauhkan benda pipih itu dari telinga dan mengakhiri panggilan. Usai menyimpan ponsel ke tempat semula dan kembali memasang helm ke kepala, Awan langsung tancap gas ugal-ugalan. Untung jalanan tidak ramai pengendara malam ituitu sehingga Awan lebih leluasa mengeluarkan skill balapan abal-abalnya.

"Ngilang ke mana aja, sih, lu? Bikin mood pak bos anjlok aje!"

Baru juga parkir motor, Awan sudah disambut sentakan dari Cakra. Tahu-tahu pemuda itu sudah menunggunya di teras depan bangunan megah milik keluarga Christopher. Duduk berpangku kaki di bangku panjang bagian pojok bangunan sambil kedua tangan bersedekap dada.

"Bagas mana?" Mengabaikan ocehan Cakra, Awan bertanya akan hal lain.

"Kamar." Cakra memberi kode lewat endikan dagu. Lanjut mencibir kala Awan berlalu begitu saja dari hadapannya.

"Kebiasaan banget gue selalu ditinggalin, dicarinya pas butuh doang." Lelaki beralis tebal dan pemilik bibir merah jambu alami itu mendumel, lalu beranjak dari duduknya menyusul Awan.

🌹🌹🌹

"Dari mana?" Nada dingin terkesan sinis itu menginterupsi Awan. Langkahnya sejenak terhenti di depan pintu. Aura mencekam tak bersahabat menguar dari punggung sosok jangkung yang duduk membelakangi di bangku tempat belajar.

Awan mengambil langkah berani melangkah lebih dalam, hingga berada beberapa centi tepat di belakang punggung Bagas. Laki-laki itu berdeham, lalu cekatan merapikan rambut yang acak-acakan sebagai pengalih gerogi. Jantungnya pun berdegup tak seperti biasa. Pandangannya berkeliaran menyimak sekitar. Perubahan nuansa kamar cukup terasa. Entah sejak kapan Bagas mengganti latar kamarnya yang semula dark, kini sudah mulai tersentuh oleh beberapa warna terang.

Hingga tatapan Awan terpaku pada lukisan akrilik yang menempel di dinding tepat di atas meja belajar Bagas. Sebentar, sejak kapan lukisan seram yang pernah membuat Awan kencing celana saat pertama kali menginap di kamar Bagas itu dicopot. Bukannya selama ini Bagas melarang siapapun menyentuh lukisan keramat yang diberi predikat aesthetic itu?

BagasKara : EfemeralCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang