Bab 27 : Hari Patah Hati
🥀🥀🥀
Jika diberi pilihan, Kara dengan kesadaran penuh akan memilih agar tidak pernah dipertemukan sosok laki-laki bernama Bagas. Laki-laki yang beberapa hari belakangan ini terjebak skenario dadakan bersama Kara. Sialnya, Kara menikmati setiap moment bersamanya. Bohong, jika Kara mengatakan tidak luluh oleh setiap perlakuan manis Bagas.
Bukan kemauan Kara. Selayaknya insan pada umumnya, Kara pun hanya bisa tunduk pada permainan takdir semesta. Terkadang takdir semenyebalkan itu, entah sengaja menjebak kita dalam labirin berkelak-kelok yang membawa kita pada keberuntungan, atau ... kesialan?
Bersama Bagas, mungkin sebuah kesialan. Musibah untuk Kara. Belum cukup seminggu, sudah tak terhitung jari pengagum laki-laki itu mendatangi Kara protes soal kedekatan mereka. Mereka menyuruh Kara menjauhi Bagas kalau mau hidup tenang.
Untungnya, Kara tidak cukup lemah untuk melawan dan menentang dengan lantang. Cih, jelas Kara bukan si tokoh utama cerita yang hanya menundukkan kepala, lalu diam-diam menyeka sudut matanya pakai ibu jari jika ditindas. Sungguh dramatis.
Hingga tiba harinya, di mana Kara sendiri yang memutuskan untuk membentang jarak sejauh mungkin dengan laki-laki itu.
Siang itu, di minggu kedua usai pemilihan ketua osis. Mulanya semua baik-baik saja. Kara, Bagas, dan teman-temannya masih sempat makan-makan di kantin, merayakan kemenangan Arka menjadi penerus osis periode satu tahun ke depan. Kara masih mengulas senyum tipis sembari menatap kagum pencapaian adiknya yang selalu di atas beberapa tingkat darinya. Tersipu malu ketika Alana dan Cakra kompak melempar gurau perihal kedekatan Kara dan Bagas.
Semua itu sirna kala bel tanda pulang berdering nyaring. Kara berdiri mematung di depan parkiran sekolah, memandang gamang punggung sepasang remaja yang kelihatan begitu serasi dan romantis. Si laki-laki yang tak lain adalah Bagas memasangkan helm ke kepala si perempuan, lalu membantunya naik ke jok belakang motor.
Kara terkesiap di tempat. Sesuatu bergelenyar aneh serasa mengoyak dada. Ternyata bukan cuma Kara seorang, tuturnya dalam hati. Kara kira hanya ia satu-satunya perempuan yang diperlakukan spesial oleh Bagas. Ternyata, seperti yang barusan ia lihat, Kara hanyalah salah satunya. Agaknya Bagas memperlakukan semua perempuan sama. Kara tertawa dalam hati. Menertawakan kebodohannya, bisa-bisanya pernah terbawa suasana oleh perlakuan Bagas.
Bersamaan deru motor menjauh dari radiasi Kara, satu pesan masuk pada handphone yang terselip di saku rok Kara. Cukup menarik atensi Kara untuk mengalihkan perhatian. Kara memeriksa notifikasi tersebut. Nama Bagas tercetak tebal di pop layar sebagai si pengirim pesan.
Bagas
Ra, sorry hari ini gue enggak bisa anter balik. Gue masih ada urusan mendadak sama anak osis baru.
Pulang duluan aja, ya. Bye, besok gue jemput lagi, oke?
Tidak ada air mata, walau sesak di dada meradang kian terasa. Sama sekali tak meneteskan air mata meski kekecewaan penuhi kalbu. Kara sudah terlalu biasa dikecewakan seperti ini. Lantas, kenapa Kara masih menaruh harapan dan kepercayaan pada orang-orang?
Tidak, ini bukan pertama kalinya Kara ditinggalkan begitu saja. Seharusnya Kara tidak perlu merasa paling tersakiti. Seharusnya Kara intropeksi diri, bukannya ini yang ia mau? Bukankah ia sendiri yang memberi pelung lelaki itu masuk dan memporak-porandakan hatinya?
“Kar, pulang sekolah nanti jangan langsung balik, mau enggak?” Bagas membuka obrolan saat mengantar Kara ke kelas usai dari kantin. Di belakang, mengekor Alana dan Dino yang tiada habisnya melemparkan siulan jahil pada mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
BagasKara : Efemeral
RomanceCover by canva Tentang Kara yang tidak pernah mendapat bahagia oleh semesta. Dan, tentang Bagas yang menemani wanita berbeda keyakinan dengannya mencari cercah keping-keping kebahagiaan yang bersembunyi di balik kelamnya malam. *** Start : 01 Oktobe...
