Bab 16 : Pacarnya Kara
🥀🥀🥀
"Terima kasih," ujar Kara gagap, berdiri kaku di samping mobil yang baru saja mengantarnya pulang.
Laki-laki si pengendara mobil merah dada itu menoleh sekilas---dalam diam menelisik raut wajah Kara, lalu membuang pandang lurus ke depan. Bagas hanya bergumam pelan menanggapi ucapan gadis itu. Lain halnya dengan dua manusia laknat di kursi jok belakang mobil yang sedari tadi cekikikan, bahkan bersiul jahil menggoda Kara dan Bagas.
Awan dan Cakra, dua lelaki itu masih salah paham perihal Bagas dan Kara yang punya hubungan lebih dari sekadar teman. Padahal, kenyataannya saling kenal saja tidak. Mereka hanya dua orang asing yang dipertemukan tanpa sengaja oleh semesta namun sedikit terlibat konflik ringan.
Rasanya bibir Kara gatal ingin mendumel bahkan mengumpati reaksi laki-laki itu. Sebisa mungkin Kara menahan tangannya yang gregetan untuk tidak menyerang wajah sok tampan itu dengan mencabik-cabiknya hingga tak berbentuk.
Kara mencoba menurunkan egonya untuk sekali itu saja. Alhasil, Kara hanya bisa mencibir dalan hati.
"Btw, enggak mau mampir dulu?" tawar Kara pada Bagas, tidak lebih dari sekadar membalas jasa lelaki itu karena sudah mengantarnya pulang dengan selamat.
"Enggak. Makasih," sahut Bagas menolak mentah-mentah.
Kara mendengkus. Nada suaranya ketus sekali. Apa tidak bisa ditolak secara halus saja? Lagi pula tawaran Kara tak lebih dari formalitas belaka, malah lebih bagus kalau laki-laki itu menolak tawarannya. Tahu begini, Kara tidak perlu repot-repot menurunkan ego demi cowok songong itu.
Suara deham Cakra mengambil alih suasana. "Cuma Bagas, nih, Kar yang ditawarin? Gue sama Awan enggak, nih?" kata Cakra mengerling jahil.
Atensi Kara beralih pada dua lelaki yang duduk bersandar di jok belakang. Kara cengengesan melihat raut tak bersahabat---yang justru terkesan jenaka---dari Awan dan Cakra. "Bukan gitu maksudnya, Cak," ujarnya meralat.
Suara dengkusan Awan menarik perhatian Bagas, Cakra, dan juga Kara.
"Mentang-mentang Bagas pacarnya, kita dilupain sama Kara." Lelaki itu melengoskan matanya membuang pandang.
Cakra melotot dan langsung menyikut Awan. Berniat mengajak lelaki itu bercanda malah bawa perasaan. Namun, Awan tak peduli dengan itu. Sudah cukup panas telinganya mendengar gombalan jahil yang Cakra lontarkan untuk Bagas dan Kara sepanjang perjalanan menuju rumah Kara. Rasa cemburu yang menggebu-gebu tak mampu Awan pendam lagi. Jika mengetahui hubungan Bagas dan Kara saja sudah membuat hatinya menggelora panas, apalagi dengan menyaksikan langsung adegan romantis keduanya.
"Anjim, nyelekit banget kisah cinta lu, cok. Belum memulai, udah disuruh mengakhiri aja. Pokoknya turut dukacita atas perasaan nelangsa lu, Wan," lontar Cakra iba, tapi kesannya malah meledek.
Cakra menepuk-nepuk punggung Awan seolah sedang menyemangati. "Yang sabar, ya, Sob. Ini ujian, tapi jangan sampai jadi ulangan," tambah Cakra semakin melantur.
Sontak Awan menatap sosok tengil di sebelahnya itu dengan mata mendelik tajam. "Lo pikir gue udah almarhum? Pake turut dukacita segala," cibirnya sedikit menyentak.
"Sempat mikir ke sana, sih. Soalnya tangan gue dah gatel buat mandiin mayat sohib baik gue." Cakra menaikturunkan alisnya dengan bibir menyungging senyum jahil.
"Bangsat!" Wajah Awan merah padam. Giginya saling bergemelatuk menahan emosi.
"Gue enggak butuh dikasihini sama lo. Lagian, siapa juga yang cemburu?" Awan mengangkat dagu tinggi, mengelak. Dia tidak ingin terlihat mengenaskan di hadapan Bagas. Ya, selagi laki-laki itu belum tahu tentang perasaannya pada Kara. Cukup Cakra yang tahu. Awan tidak mau jadi bulan-bulanan bahan ledekan Bagas dan Cakra.
KAMU SEDANG MEMBACA
BagasKara : Efemeral
RomanceCover by canva Tentang Kara yang tidak pernah mendapat bahagia oleh semesta. Dan, tentang Bagas yang menemani wanita berbeda keyakinan dengannya mencari cercah keping-keping kebahagiaan yang bersembunyi di balik kelamnya malam. *** Start : 01 Oktobe...
