Bab 11 : Keadaan yang Sedikit Membaik
🥀🥀🥀
Hari itu, tepatnya di minggu kedua akhir tahun. Kara masih ingat jelas. Hari pertama semester ganjil. Meski cuaca tidak mendukung. Agak mendung. Tetapi, tidak dengan hati Kara yang berbunga-bunga.
Sepanjang perjalanan menuju sekolah, tak henti bibir gadis itu menebar senyum. Sampai-sampai gadis kecil imut di tengah-tengah mereka, antara Kara dan Arka, mengerut kening bingung dengan wajah lugu. Bibir mengerucut beberapa senti ke depan, sementara matanya berkedip-kedip lambat. Hatinya jadi bertanya-tanya, apa yang membuat kakaknya sampai seceria itu. Tidak biasanya Kara menonjolkan ekspresi secara berlebihan.
Kara merasa satu-persatu masalahnya selesai membuat beban di pundak berkurang sedikit demi sedikit. Kara rasa semua yang pernah retak perlahan menyatu lagi atau kembali pada tempatnya semula.
Mengenai hubungan toxic-nya dengan Reza yang sudah menemui titik ujung, juga antaranya dengan Dino dan Alana. Bahkan sekarang, keluarganya mulai menerima kehadiran Kara secara pelan-pelan.
Kara semakin akrab dengan kedua adiknya. Mereka bertiga yang selalu berangkat bareng ke sekolah sejak beberapa minggu belakangan. Kara juga mulai luluh akan perlakuan lembut Dania, ibu tirinya. Kara merasa seperti melihat sosok ibu kandung---yang jelas-jelas tidak pernah Kara tahu bagaimana bentuk wajahnya---di sorot teduh Dania.
Terakhir, Ayah. Senyum tipis pria itu tadi pagi seolah terukir untuk Kara seorang. Elusan lembut di puncak kepala saat Kara menyalami tangannya berpamitan. Sensasi aneh yang Kara rasakan membuatnya meremang. Menikmati setiap elusan itu. Hingga detik elusan lembut itu terhenti, ada rasa kecewa yang mencuat dalam hati Kara.
"Berdoa dulu sebelum kerja soal." Begitu samar-samar terdengar ucapan Ananta sebelum Kara menjauh dari hadapannya.
Kara balas dengan anggukan singkat dan lengkungan sabit di bibir.
"Bang, liat deh. Kak Ara aneh banget. Senyum-senyum dari tadi di atas motor," adu gadis kecil itu pada abangnya yang baru saja mengantarkannya hingga gerbang sekolah.
"Oh ya?" Arka mengangkat sebelah alisnya, sedikit tertarik dengan pembahasan sang adik.
"Bang Arka enggak liat, sih. Soalnya fokus nyetir motor," kata Aila lagi.
Arka menolehkan wajah ke belakang, mendapati Kara yang sedang bersandar pada motor sambil senyum-senyum tidak jelas. Sementara kedua tangan saling melipat di depan dada.
Begitu bola mata keduanya bertubrukan, senyum di wajah itu seketika pudar berganti raut datar. Cepat-cepat pula Arka memalingkan pandangan saat kepergok diam-diam memperhatikan gadis itu. Lebih tepatnya saat merasakan aura-aura marabahaya.
"Apa lo liat-liat?!" Kara berseru galak. Bola matanya juling.
"Tuh, kan. Aila bilang apa. Kak Ara tuh aneh banget hari ini. Tadi senyum-senyum sendiri, sekarang marah-marah enggak jelas." Cibiran dari samping mengalihkan atensi Arka. Aila, gadis itu bergidik ngeri dan berlalu dari hadapan Arka tanpa sepatah kata pun.
Arka hanya menanggapi tingkah lucu Aila dengan gelengan kepala dan lanjut terkekeh. Sudah bela-belain diantar pagi-pagi ke sekolah, malah enggak berterima kasih setelah sampai. Memang dasar betina!
Sebenarnya, Aila dan Kara itu sebelas dua belas. Bedanya, Aila suka menyerocos tidak jelas tanpa kenal waktu dan tempat. Sedangkan Kara mengomel di waktu-waktu tertentu saja. Selain dirinya yang anak laki-laki dalam keluarga Daneswara, sepertinya hanya Arka pula yang lebih waras dari kedua saudaranya.
"Kakak lo mungkin lagi kesurupan, Ai!" seru Arka dari gerbang pada adiknya yang hampir hilang dari pandangan.
Lelaki tertawa lepas. Merasa geli sendiri dengan seruannya beberapa saat. Hingga tawa itu reda saat tengkuk belakangnya dihadiahi timpukan helm yang cukup keras.
KAMU SEDANG MEMBACA
BagasKara : Efemeral
RomansaCover by canva Tentang Kara yang tidak pernah mendapat bahagia oleh semesta. Dan, tentang Bagas yang menemani wanita berbeda keyakinan dengannya mencari cercah keping-keping kebahagiaan yang bersembunyi di balik kelamnya malam. *** Start : 01 Oktobe...
