Bab 7 : Menutup Kisah Lama
🥀🥀🥀
Makan malam berlangsung canggung di kediaman Ananta. Sejak tadi yang terdengar hanya dentingan sendok beradu dengan piring. Sama sekali tak terdengar obrolan ringan. Namun, malam itu ada yang berbeda dari makan malam sebelumnya. Untuk pertama kalinya lagi setelah sekian lama, Kara ikut serta keluarga tersebut makan malam.
Awalnya Kara sungkan untuk turun, tetapi lagi dan lagi Aila, gadis berusia tujuh tahun itu mengusik ketenangan Kara. Masuk tanpa permisi ke kamar Kara dan mengganggu Kara yang sedang menyelesaikan satu bab ceritanya. Biasanya gadis itu turun makan setelah Ayah dan anggota keluarga lainnya sudah berada di kamar masing-masing.
"Ma, Kak Ara kenapa susah banget, sih diajakin makan malam?" lontar gadis imut itu di sela-sela makannya. Bibirnya monyong beberapa senti ke depan mengunyah daging yang baru saja disuapkan ke dalam mulut.
Sontak aktivitas makan keempat orang dewasa itu terhenti. Dania, ibu tiri Kara, melirik Ananta dengan pandangan bertanya. Tetapi, pria itu cuek bebek seakan topik yang Aila bahas sama sekali tidak penting untuknya.
Sambil mengunyah makanan dalam mulut, Arka melirik Kara yang duduk di sebelahnya. Aktivitas makan gadis itu seketika terhenti. Sepertinya selera makannya sudah hilang.
Sendok diletakkannya di piring agak kasar. Terdengar suara kursi berderit panjang. Kara beranjak dari tempat duduknya hendak melengos pergi dari hadapan keempat orang itu. Namun, langkahnya terhenti oleh suara berat sang ayah.
"Mau ke mana kamu?" Kara melirik sebentar. Keningnya mengerut protes. "Duduk!"
Tetapi ucapan tegas selanjutnya, membuat nyali gadis itu menciut. Mau tidak mau turut pada instruksi sang ayah.
Kara menunduk takut-takut, tak berani menatap wajah dingin yang selalu mengintimidasinya itu.
"Mas." Tangan Dania terjulur mengusap lengan pria di sebelahnya itu.
Dania menegur suaminya lewat tatapan, seolah meminta agar Ananta tidak bersikap kasar lagi pada Kara, putri sulungnya. Walau sebetulnya Dania pun belum sepenuhnya menerima kehadiran Kara dalam kehidupan mereka, tetapi wanita itu memilih diam. Memangnya apa lagi yang bisa dia lakukan jika takdir sudah berkehendak.
Ananta menghela napas kasar. Wajah memelas penuh permohonan dari istrinya adalah salah satu kelemahan terbesarnya. Pada akhirnya Ananta mengalah. Anggukan kecil dari pria itu membuat seutas senyum menenangkan terbit indah di bibir Dania.
Ananta menenggak segelas air putih, lalu kembali menatap Kara dan Arka bergantian. "Kara, Arka. Dua bulan lagi kalian semester, kan?" tanyanya.
"Iya, Yah." Arka mengangguk. Sementara Kara diam menyimak.
Gadis itu hanya mendongakkan wajahnya saja sesaat Ananta memanggil namanya dengan tanpa beban. Apa Ayah perlahan menerima kehadiran Kara? Begitu pertanyaan yang sempat terbesit di hati kecilnya.
Namun, sepertinya Kara terlalu banyak berharap. Lihatlah, sangat tidak sesuai dengan ekspektasinya. Selalu seperti itu. Kara jatuh oleh angan yang dibuatnya sendiri.
"Ayah minta kalian belajar yang rajin. Ayah tidak mau melihat nilai merah di raport kalian nantinya," ujar Ananta tegas.
"Terutama kamu, Kara." Ananta berdesis. Tatapannya begitu dalam tersirat akan sebuah harapan, tetapi Kara tidak menyadari itu.
Saat bola mata mereka tidak sengaja bertemu, cepat-cepat Kara menundukkan wajah. "Baik, Yah," sahutnya terbata.
Sementara senyum di bibir Dania mengembang. Wanita itu menatap teduh pemandangan di depannya. Sedikit ada kemajuan. Sepertinya Ananta mulai menerima kehadiran Kara di tengah-tengah mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
BagasKara : Efemeral
RomantizmCover by canva Tentang Kara yang tidak pernah mendapat bahagia oleh semesta. Dan, tentang Bagas yang menemani wanita berbeda keyakinan dengannya mencari cercah keping-keping kebahagiaan yang bersembunyi di balik kelamnya malam. *** Start : 01 Oktobe...
