bab 29 : berdamai?

15 3 0
                                        

🥀🥀🥀

"Jadi, gimana kabar Ana, Za?" Satu pertanyaan itu melontar dari bibir yang sejak beberapa saat lalu diam menyimak perbincangan tiga orang di hadapannya.

Suasana mendadak hening. Gelak tawa pudar seolah yang sebelumnya dibahas sama sekali tidak ada lucu-lucunya. Tiga pasang mata itu seketika memfokuskan pandangan pada sesosok gadis yang masih rapi dengan balutan seragam putih abunya.

Reza yang ditatap intens oleh Kara memalingkan muka cepat. Dino dan Alana saling melempar pandang sebentar, sebelum ikut menatap Reza seolah ikut menunggu jawaban dari laki-laki yang satu tingkat di atas mereka.

"Liana-" Satu kata itu keluar dari bibir Reza dengan nada terbata.

Serempak Kara, Dino, dan Alana menangkat satu alisnya menunggu lanjutan kalimat Reza.

Reza berdeham, tiba-tiba merasa tenggorokannya tercekat. Lantas menenggak sebotol kopi instan dalam kemasan botol yang beberapa saat lalu mereka beli di minamarket tempat nongkrong saat itu.

"Dia baik," lanjut Reza dengan seutas senyum yang merekah.

Alana dan Dino turut mengukir senyum mendengar itu, merapal ucap syukur dalam hati . Berbeda dengan Kara, ekspresi gadis itu tak terprediksi sejak awal.

"Dia berhasil lawan penyakitnya, Kar. Ana berhasil dapet pendonor ginjal buat gantiin ginjalnya yang rusak."

Reza menelisik Kara dalam diam. Aneh, ucapnya dalam hati. Ini berbeda dari sebelumnya. Kenapa Kara tampak tidak senang dengar kabar Liana yang baik-baik saja? Terakhir kali sebelum Reza berangkat menjenguk Liana, gadis itu yang paling prihatin dan menunggu-nunggu kabar kesembuhan Liana.

"Oh, gue senang dengarnya. Jadi, kapan baliknya? Dia enggak ada tuh ngabarin gue secuil pun, setelah sembuh dari penyakitnya. Apa emang gue yang enggak sepenting itu buat dia?" kata Kara santai, tetapi kesan sarkasnya dibalut sindiran.

Sudut bibir Reza berkedut. Sekarang ia paham kenapa raut Kara kelihatan tidak senang.

"Jadi ceritanya ada yang lagi kesal ini enggak dikabarin sama Ana?" goda Reza.

Alana malah ikut-ikutan Abangnya menjahili Kara. Gadis itu duduk di sebelah kiri Kara, jadi dengan mudah sengaja menyenggolkan lengan ke arahnya.

Kara bersungut terganggu oleh tingkah kakak beradik itu, tetapi tak satupun komentar keluar dari bibirnya.

"Liana belum dibolehin pegang hp, Kar. Jadi belum ada waktu buat hubungi lo. Insyaallah, minggu depan Ana sudah gabung lagi sama kita."

Kara sedikit tergugah mendengar kalimat terakhir yang disampaikan Reza. Seolah menunggu momen untuk penantian panjang itu, hati Kara terasa menggebu-gebu. Apa semuanya akan kembali seperti semula? Sebelum satu hal keji itu merusak tali persahabatan mereka.

Kara, berharapnya seperti itu. Liana adalah sahabat satu-satunya dari kecil. Namun, ini bukan tentang seberapa lama mereka bersama. Hanya perempuan itu yang benar-benar mengerti posisi Kara.

Itu kejadian seminggu yang lalu. Kini, Kara berdiri, berdesak-desakan di antara lautan manusia. Tak peduli terik mentari yang serasa ingin melahap hidup-hidup. Akhirnya waktu itu tiba. Hari kedatangan Liana. Kara paling excited di antara empat orang lainnya yang ikut datang menyambut. Kali ini, Arka, adik Kara turut bersama mereka-berada di deretan belakang Kara bersama Reza, Alana, dan Dino.

Usai terdengar pengumuman bahwa pesawat yang Liana tumpangi, setelah transit beberapa kali, telah landing di bandara Soekarno-Hatta. Degupan jantung Kara semakin menggebu. Dadanya kembang kempis bagai ban yang dipompa cepat. Ada sejuta perasaan aneh yang tak bisa Kara utarakan—bercampur aduk, hingga sosok perempuan putih cantik tinggi semapai itu mencuat di antara kerumanan. Rambut curly dan senyum menawan seolah telah menjadi ikoniknya benar-benar menghipnotis yang menunggunya di sisi seberang.

Kara menahan napas kala gadis itu berjalan mendekat ke arahnya. Suasana tiba-tiba terasa mencekam. Hening. Seolah hanya ada mereka berdua yang terjebak dalam ruang seputih tulang tak berujung. Roda dari tas koper yang ditariknya mendominasi, memberi pertanda jarak antara mereka kian menipis.

Long time no see, Kara.” Kalimat pertama yang terucap dari bibir Liana begitu berdiri tepat di hadapan Kara.

Terkesiap Kara. Di satu sisi, lega bisa mendengar suara itu kembali. Liana benar-benar sembuh, gadis itu kelihatan jauh lebih bugar—seakan menolak fakta bahwa sebelumnya ia pernah sekarat terbaring di ruang Unit Gawat Darurat, nyawa terenggang.

Bola mata yang entah sejak kapan berkaca-kaca, tanpa sepatah kata Kara langsung menghambur ke pelukan Liana. Isak sendu pecah tak terbendung. Kara mengeratkan pelukan kala Liana membalasnya sambil mengulas senyum lebar.

“Gue kangen, Li. Lo jahat banget enggak pernah sekalipun kabarin gue,” gumam Kara.

“Maaf. Maafin aku, Kar ...,” sahut Liana, turut bergumam. Tenggorokannya tercekat, suaranya tertahan seolah banyak hal yang hendak dia tuturkan, tetapi hanya itu yang tertutur dari bibirnya. “Maafin aku buat semuanya.” Setetes cairan bening berhasil lolos dari mata Liana.

Kara mengurai pelukannya, gadis itu menggelengkan kepala. “Gue yang harusnya minta maaf, Li. Bahkan lo sakit aja gue enggak tau.”

“Soal Reza—”

“Enggak, lo enggak salah, Li. Ini bukan salah lo, gue, ataupun Reza. Lo dan Reza emang sebuah kesalahan yang tak termaafkan. Tetapi, gue juga egois, merasa paling tersakiti dalam hubungan ini, dan enggak bisa ngertiin posisi kalian,” sergah Kara memotong ucapan Liana yang mulai membahas hal paling sensitif.

“Enggak, Kara. Bagaimana pun, tindakanku yang rebut Reza dari kamu adalah hal yang kurang ajar dan tidak dibenarkan.” Liana tahu diri. Kara terlalu baik jika kata maaf itu masih diberikannya setelah apa yang Liana perbuat padanya dulu.

Reza yang berdiri di antara Dino, Alana, dan Arka—tak jauh dari posisi Kara dan Liana hanya bisa diam menunduk, merenung. Menyesali tindakan bodohnya dulu. Tindakan yang tidak hanya merusak hubungannya dengan Kara, tetapi juga merusak hubungan persahabatan Liana dan Kara.

Pada akhirnya, hari itu ditutup dengan kisah penuh haru. Entah Kara harus menyebutnya dengan hari permintaan maaf, atau hari perdamaian. Kembalinya jalinan kasih persahabatan yang sempat retak.

🥀🥀🥀

BagasKara : EfemeralCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang