bab 30 : tekad

20 3 0
                                        

“Kara, kamu—” Liana terperangah mendapati Kara di pojok perpustakaan membaca buku—sebuah kemustahilan yang mungkin berada di list terakhir kamus hidup seorang Askara Putri Anindita. Nada cemprengnya menggema di sekitar lorong tempat mereka berada mengusik ketenangan beberapa pengunjung.

“Berisik, Ana! Turunin dikit volume suara lo.” Bola mata Kara menelisik tajam Liana.

Spontan Liana menutup mulut pakai telapak tangan sembari mengambil tempat di hadapan Kara. Melirik kanan kiri, kemudian memusatkan pandangan pada sosok anomali di depannya. Alih-alih menjawab kebingungan yang tercetak di raut wajah Liana, ia kembali khidmat pada aktivitas semula seolah tak pernah terganggu dengan yang sebelumnya terjadi.

“Kar, kamu enggak lagi kesurupan, kan? Enggak lucu tau kamu tiba-tiba kerasukan arwah tokoh pelopor literasi pendidikan.” Masih dengan nada menginterogasinya, Liana menatap Kara lamat-lamat.

Mulanya Kara abaikan. Suara bisik-bisik Liana seolah dianggapnya angin lalu semata. Namun, lama-lama itu cukup mengganggu. Hingga Kara hilang konsentrasi.

“Sejak kapan jadi suka baca, Kar?”

“Apa semenjak aku sakit kamu jadi sering mojok di perpus karena enggak punya temen?” Liana menebak asal, dengan pede-nya.

Sotoy,” celetuk Kara menutup buku yang dibaca, kemudian beranjak dari duduknya.

Kara hendak mengembalikan buku itu ke rak semula. Liana mengekori dari belakang. Pertanyaannya masih menggantung, Kara selalu menjawabnya dengan hal-hal sarkas. Seolah yang dilontarkan Liana terkesan merendahkan, padahal sebatas rasa penasaran saja dengan perubahan drastis Kara.

“Aku senang kalo kamu berubah, Kar. Tapi sumpah, ini bukan kamu banget!” cerca Liana.

Kara terkekeh sinis. Sudah ia duga dari jauh-jauh hari. Pasti akan terjadi hal seperti ini—semua akan bertanya-tanya dengan perubahannya yang cukup mendadak. Kadang Kara berpikir, sepicik itukah pandangan orang-orang padanya. Seburuk itukah kesan Kara di mata publik, hingga ketika ia mencoba sesuatu hal yang baru dari dirinya semua pasang mata tertuju padanya dengan gurat kebingungan.

Wishlist gue di akhir tahun 2023 kemarin, salah satunya ini.” Sengaja Kara menggantung ucapannya.

Dua gadis itu sedang berjalan di koridor. Sekolah sudah mulai sepi. Sebagian besar murid sudah pulang. Guru mata pelajaran di jam terakhir hari itu memang tidak masuk. Guru-guru sedang rapat membahas pelaksanaan Ujian Nasional untuk kelas XII.

“Maksud kamu—” Liana, gadis yang berjalan di sebelahnya, menerka-nerka. Wajahnya berseri-seri, excited. “Kamu benar-benar pengen berubah, Kar? Kamu pengen belajar serius, kan, supaya bisa daftar dan lolos di PTN impian bareng aku?”

Kara menatap manik Liana sebentar. Cercah harapan di kedua maniknya itu seolah menambah motivasi Kara untuk rajin belajar.

“Lebih tepatnya, gue pengen dapet nilai yang bagus dari nilai-nilai gue di semester sebelumnya. Gue harus lebih rajin belajar buat ngejar ketertinggalan gue dari semua materi mata pelajaran.”

Sedikit ragu. Namun, melihat kobaran tekad di bola mata Kara. Seperti api yang menyala-nyala, butuh percikan lebih banyak lagi, lalu siap menyambar. Seutas senyum melengkung sepanjang sudut bibir Liana.

“Aku dukung tekadmu, Kar. Aku yakin kamu pasti bisa.” Liana mengeja kalimat terakhir, seolah dengan sengaja menekankan lima kata itu.

Bibir Kara melengkung tipis. Setitik sorot sendu terpancar dari kedua bola matanya, terharu mendengar kata-kata Liana.

Thanks, Li. Sejauh ini, gue belum pernah dapet apresiasi dari siapapun. Gue bakal tunjukin ke orang-orang, terutama bokap gue, kalo gue juga bisa, dan kata-kata pujian itu layak gue dapatin.”

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 27, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

BagasKara : EfemeralCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang