Bagas baru pulang gereja kala itu. Kisaran pukul setengah dua belas, Bagas melintasi jalan menuju kompleks perumahan Kara. Berteduh dari peliknya sinar sang surya, Bagas menepi ke pinggir jalan. Lelaki itu turun dari motor. Dihampirinya salah satu stand jualan yang nangkring di bawah naungan pohon lebat tempat Bagas berteduh.
Katanya sambil mengulas senyum ramah, "Bang, nasi kuningnya satu, ya."
Bapak kumis, si penjual makanan jadi itu terkekeh geli. Alih-alih memanggil 'Pak' seperti pelanggannya yang lain. Bagas selalu berhasil membangkitkan jiwa mudanya lewat panggilan 'Bang'-nya. Padahal tahun depan, umurnya sudah setengah abad lebih sepuluh tahun. Lihat, wajahnya pun mulai dipenuhi kerutan—tidak semenarik kala muda dulu.
Serta senyum tipis di bibir, Bapak penjual itu mengacungkan jempolnya ke udara. Mengonfirmasi pesanan Bagas yang memilih duduk lesehan di trotoar jalan.
Sementara Bagas, sembari menunggu pesanannya tiba. Lelaki itu mengelapi kuncuran keringat di pipi yang juga merembes sampai ke leher. Cuaca dua pekan belakangan ini berbanding terbalik di bulan Desember kemarin yang hampir tiap harinya terguyur hujan. Memang sudah paling klop-nya kalau minum yang segar-segar.
Tak berselang lama nasi kuning pesanan Bagas sudah terpangku di atas telapak tangan kirinya. Se-cup es teh jumbo nangkring di meja menjadi menu sederhana. Tidak butuh waktu puluhan menit untuk Bagas melahap habis pesanannya.
Bagas bersandar pada batang pohon besar tempatnya bernaung. Perutnya terasa kembung, efek kekenyangan kah? Sepertinya begitu. Pagi tadi Bagas lupa sarapan. Jadi otomatis perutnya terasa penuh lain-lain ketika makan dalam keadaan perut kosong.
Semilir angin yang menenangkan menyapu lembut wajah hingga kelopak mata perlahan terpejam. Sensasinya terasa segar begitu kucuran keringat dilambai-lambaikan angin, kesannya seperti menggelitiki. Si bapak penjual makanan menarik senyum tipis, sejak tadi memperhatikan Bagas diam-diam dari tempatnya.
Menit berganti menit. Berselang waktu kemudian, Bagas hampir terlelap. Dering notifikasi masuk, menarik Bagas dari alam bawah sadarnya. Bola matanya langsung melek kembali. Tergesa menarik benda pipih itu yang tersemat di kantung celana bagian depan.
Luluh lantah raut ceria itu—bertahan sepersekian detik, kemudian dalam sekejap pudar kembali. Si pengirim pesan yang muncul di pop layar ponselnya sama sekali bukan yang Bagas harapkan. Bukan notif yang ditunggu-tunggunya hampir sepekan ini.
Kamu di mana, Kai? Bunda nyariin katanya kenapa enggak sampai-sampai?
Kamu baik-baik aja, kan, Kai?
Bagas mengabaikan pesan yang dikirim oleh kontak bernama Arine. Selanjutnya, panggilan masuk secara beruntun membuat Bagas menggeram. Tidak bisakah sehari saja gadis itu tidak menganggunya? Memberinya sedikit jeda untuk Bagas menghirup udara dengan lega.
Bagas bersama motornya menjauh dari stand jualan tersebut usai membayar pesanannya. Tadinya, Bagas hendak langsung pulang. Tetapi, kembali berubah pikiran berkat chat itu. Ada bagusnya juga Arine mengabarinya, itu cukup menguntungkan di satu sisi. Bagas punya peluang untuk menghindar dari gadis gila itu barang sehari saja. Gadis itu pasti sudah gelisah di rumah menunggunya pulang. Memikirkan bagaimana raut resah campur kesalnya membuat sudut bibir Bagas berkedut tipis.
Tujuan Bagas kini adalah rumah Awan, tempat pelariannya paling ampuh di kala edisi ngumpet-ngumpetan seperti ini. Namun, ada satu tempat yang ingin Bagas kunjungi sebelum ke rumah Awan. Tempat yang mungkin bisa saja menjadi jawaban untuk keresahan Bagas sepekan ini. Cukup memandangnya dari jauh saja, memastikan keadaannya baik-baik saja. Menurut Bagas itu sudah lebih dari cukup.
Laju motor Bagas melambat hingga akhirnya berhenti di depan sebuah pagar bangunan megah. Rumah yang sudah cukup familiar Bagas kunjungi beberapa pekan lalu, sebelum hari di mana Bagas duga awal dari semua kerenggangan itu dimulai.
KAMU SEDANG MEMBACA
BagasKara : Efemeral
RomansaCover by canva Tentang Kara yang tidak pernah mendapat bahagia oleh semesta. Dan, tentang Bagas yang menemani wanita berbeda keyakinan dengannya mencari cercah keping-keping kebahagiaan yang bersembunyi di balik kelamnya malam. *** Start : 01 Oktobe...
