knock knock

607 68 0
                                        

Stefani terkesiap, menelan angin, termundur

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Stefani terkesiap, menelan angin, termundur. Debaran jantungnya begitu jelas, panik dan takut menjadi satu.

Dia bergerak cepat masuk ke dalam kamar, menutup pintu keras-keras dan menguncinya. Masih dengan tangan yang memegang ganggang pintu, dia kembali dikejutkan dengan suara ketukan di kaca jendela kamarnya.

Dia berbalik, punggung menempel di daun pintu, matanya yang ketakutan melihat ke arah jendela kamarnya yang tertutup gorden putih transparan.

Stefani bisa melihat dengan jelas ada bayangan di sana, bayangan sosok yang paling dia benci di muka Bumi.

“PERGI! PERGIII!” Pekiknya pada bayangan di luar jendela kamar itu. Dibanding takut, Stefani malah terdengar seperti marah.

“MATII! MATIII!”

Sekarang, suara ketukan itu pindah ke pintu kamarnya. Dia bergerak menjauh dari pintu kamarnya, dia melihat sekitar, mencari sesuatu yang setidaknya bisa ia gunakan untuk membela diri.

Dia melihat sesuatu di atas lemarinya, dia ingat apa yang disimpan di atas sana selama belasan tahun dia pergi. Sebuah raket tenis miliknya yang dulu hanya pernah beberapa kali dipakai dan terbengkalai setelahnya.

Tanpa melepas pandangnya dari pintu, dia buru-buru membuka tas penyimpan raketnya yang sudah usang itu, susah payah dia mengeluarkan raketnya dan mengacungkan raket itu ke arah pintu.

Darahnya berdesir, dia tak pernah menyangka hal seperti ini akan terjadi. Stefani bisa saja berhalusinasi karena rasa takut yang memang ia pendam, namun, kalau ternyata Wonbin sendiri belum tuntas bagaimana?

5 tahun bersama, tentunya Stefani tahu jika kekasihnya itu sosok yang licik.

Tapi, Stefani sudah memastikan jika menghunuskan pisaunya ke tempat-tempat yang fatal. Stefani yakin itu.

Lagi, ketukan terdengar di kaca jendela kamarnya, lalu ganti terdengar di pintu kamarnya, berulang kali seperti itu hingga suara bising ketukan itu menguasai ruangan.

“BERHENTI! STOP! STOOPP!!!”

“AKU GAK MAU KETEMU KAMU LAGI! AKU GAK MAU! PERGI! PERGIII!!”

Pekikan tinggi bercampur tangis itu tak disangka membuat ketukan di jendela dan pintu berhenti. Kini kamar itu kembali sunyi, yang terdengar hanya suara angin malam dan jangkrik dari luar rumah.

Stefani termundur, dia terduduk di lantai, punggung bersandar pada kasur, dia menangis tersedu memeluk raketnya, ketakutan dan marah.

Malam itu memang dingin, namun hawa dingin yang tiba-tiba terasa di dekat lehernya tidak seperti hawa dingin malam itu.

Kurang waspada, dua buah tangan kini sudah ada di lehernya, mencekik Stefani dari belakang.

Di saat napasnya hampir habis, sebuah suara yang familier berbisik di dekat telinganya.

"Haha... Asik ya mainin nyawa orang?"

 Asik ya mainin nyawa orang?"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
NIGHTMARE - park wonbin ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang