Stefani yakin, sangat yakin bahwa dia sudah membunuh Wonbin.
note: seluruh isi dari cerita berikut hanya fiksi! karakter dan sifat seluruhnya hanya karangan semata!
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sejak kecil Stefani sudah dibiasakan untuk memanjangkan rambutnya, dia suka dengan rambut legam lurusnya, dan dulu Wonbin juga.
Dia selalu mengusap sayang rambut Stefani, memainkan ujung rambutnya sembari mengobrol ringan dengan Stefani.
tahun ketiga dalam hubungan mereka, elusan sayang itu sudah hilang, berganti dengan jambakan marah ketika Wonbin marah kepada Stefani.
Bukan hanya fisik yang ia sakiti, namun lisannya pun ikut menyakiti perasaan Stefani. Setiap kalimat yang keluar dari mulut Wonbin terdengar begitu kotor dan jahat.
“Berani lagi keluar sama Angel, gue benturin muka lo ke tembok!”
Di tahun ketiga itu, Stefani terpaksa harus memutus komunikasi dengan kawan-kawannya karena Wonbin. Wonbin bilang dia tak suka dengan teman-teman Stefani, dia bilang kalau mereka memberikan pengaruh yang buruk pada Stefani.
Stefani tak tahu harus mengadu kepada siapa, karena ponselnya pun selalu diperiksa oleh Wonbin. Dia tak bisa seleluasa dulu untuk menghubungi kawan-kawannya.
Stefani suka sekali merawat kulitnya, banyak yang memuji karena dia memiliki kulit yang bersih. Wonbin juga suka sekali dengan kulit Stefani yang bersih, tapi rasa suka itu seolah hilang begitu dia berani menyundutkan ujung rokoknya ke lengan Stefani hanya karena dia menjawab ucapan Wonbin.
Bukan hanya sekali, namun berulang kali, sejak saat itu Stefani pasti menghindari Wonbin jika lelaki itu terlihat sedang merokok.
Meskipun begitu mereka masih tidur di kamar yang sama, dengan Stefani yang selalu menyimpan gunting di bawah bantalnya, berjaga-jaga jika Wonbin melakukan hal kejam lain kepadanya.
Perlahan namun pasti, Stefani berusaha untuk keluar dari cengkraman Wonbin. Dia berpikir bagaimana caranya untuk kabur dari tempat tinggal Wonbin tanpa jejak. Namun sial, tak ada satupun cara yang bisa ia lakukan selama Wonbin masih hidup.
Sebagai korban kekerasan domestik seperti ini, tentunya Stefani berulang kali punya pikiran untuk mengakhiri hidup. Namun, dia juga tak akan rela begitu saja mati tanpa membalaskan dendamnya pada Wonbin.
Enak sekali pikir Stefani, dia mati lalu Wonbin masih bisa bernapas dan hidup bebas setelah semua hal keji yang ia lakukan.
1 Juli, Wonbin mengajak Stefani pergi berlibur ke area pegunungan yang hanya berjarak 30 menit dari tempat tinggal Wonbin. Ada villa tua di sana yang masih disewakan untuk mereka yang ingin berkunjung.
Wonbin punya tenaga yang lebih besar dibandingkan Stefani, jika ingin menghabisinya, pertama, dia harus melemahkan Wonbin terlebih dahulu.
Di sekitar villa hanya ada pepohonan, jarak villa itu sangat jauh dari rumah penduduk sekitar yang rata-rata berada di kaki gunung.
Saat Wonbin pamit pergi, Stefani, dia menyempatkan diri untuk keluar dari villa, masih memikirkan bagaimana caranya untuk pergi, dia menyusuri jalan, untuk dia yang hanya bisa berjalan kaki, jarak dari villa hingga ke kaki gunung sangat jauh, jika dia melukai Wonbin dan pergi kabur, tentunya dia akan tetap terkejar.
Stefani berhenti di tengah jalan, matanya melirik sebuah tumbuhan di pinggir jalan. Dia sudah merencakan jauh-jauh hari skenario penghabisan Wonbin, tentunya dia sudah mencari tahu banyak hal termasuk segala racun yang bisa dia cari dan gunakan dengan mudah.
Melihat tumbuhan itu, Stefani merasa seolah dirinya telah ditolong, seolah alam membantunya untuk membuka jalan lepas dari jeratan kusut Wonbin.
Hemlock beracun, Wonbin tak akan sadar jika daun itu sudah bercampur dengan makanannya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.