Stefani yakin, sangat yakin bahwa dia sudah membunuh Wonbin.
note: seluruh isi dari cerita berikut hanya fiksi! karakter dan sifat seluruhnya hanya karangan semata!
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Raket itu ia ayunkan dengan sembarang, mengarahkannya ke bagian-bagian vital yang tentunya akan menimbulkan rasa sakit yang luar biasa jika terkena pukulannya.
Tak perduli apakah yang sedang ia serang sekarang sungguh Wonbin atau hanya imajinasinya saja, Stefani tetap ingin membunuh sosok itu lagi. Dia harus bebas, harus lepas.
“Mati! Pergi! Pergi! PERGI!”
Bersamaan dengan pekikan di akhir kalimatnya, dia mengayunkan pinggiran raketnya ke arah kepala Wonbin. Stefani, dia juga terkejut dengan luapan kekuatan yang ia keluarkan sekarang yang mampu membuat Wonbin jatuh ke atas meja kaca di sampingnya.
Melihat Wonbin yang sepertinya sudah tak sadarkan diri di antara pecahan kaca itu, Stefani berlari ke arah dapur, mencari benda tajam yang bisa ia gunakan untuk mengakhiri Wonbin sekali lagi.
Ibunya dulu suka sekali memasak olahan daging, dan Stefani masih ingat di mana ibunya menyimpan pisau daging mahalnya.
Dia membuang raketnya, kembali ke ruang tengah dengan pisau daging erat di tangan.
Berhenti, detak jantungnya seketika berhenti berfungsi tatkala sosok Wonbin hilang, dan hanya menyisakan meja kaca yang rusak.
Rasa waspada Stefani meningkat, dia bergerak mendekat ke arah dinding, menempelkan punggungnya di sana, mencari tempat aman agar sosok itu tak muncul dari belakangnya seperti yang sudah pernah terjadi.
Matanya menyusuri sekitar, lama dia berdiri di sana, hatinya perlahan-lahan mulai terasa sakit, dalam kepala dia merasa semua hal ini sangat tak adil.
“Kenapa... Kenapa?! Aku cuma mau bebas! Jangan ganggu! Jangan gangguuu...!”
Stefani menangis sambil berdiri, memohon pada siapapun sosok yang muncul sebagai Wonbin tadi.
Lama dia menangis di sana, jantungnya kembali diuji dengan suara ketukan dari pintu depan rumahnya.
Tak berani bergerak, dia hanya berdiri di tempatnya, padahal di luar begitu terik, apa mungkin kejadian seperti semalam akan terjadi lagi?
“Fan? Stefani? Lo di rumah?”
Matanya terbuka lebar, ada secercah harapan yang tiba-tiba muncul. Dia tanpa rasa takut berjalan cepat menuju pintu depan rumah, membuang jauh pisau daging yang ia bawa ke sudut ruang.
Cepat dia membuka kunci pintu rumah, begitu dibuka, dia menangis bahagia melihat sosok yang kini ada di teras rumahnya.
“Hyunjin..”
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.