"Master!" seru Felix yang sama sekali tak di idah kan oleh master Yugyeom, alih-alih memberi tanggapan yang baik master Yugyeom justru tertawa terbahak seakan meremehkan Felix. Jelas hal itu membuat Changbin dan Felix mengernyit bingung, mereka tak tau apa alasan master nya tertawa setelah menjatuhkan bakaran lembar kertas milik Felix.
Hingga pada detik berikut nya, master Yugyeom berhenti tertawa dan membenarkan seragam master milik nya seraya memasuk kan kembali pemantik ke dalam saku. Master Yugyeom tak menggubris panggilan dari Felix dan kini beranjak pada bangku Changbin. Mengambil kertas itu pada detik sebelum nya master Yugyeom sempat menatap tajam pada Changbin. Membaca nya tanpa ragu hingga pada kata paling akhir, master Yugyeom tak berucap atau melakukan aksi nya seperti pada beberapa menit yang lalu, membakar kertas milik murid nya. Alih-alih membakar nya, master Yugyeom justru mengambil satu apel merah utuh di meja nya dan di lemparkan pada Changbin yang beruntung berhasil laki-laki itu tangkap.
"Thank you, master!"
Felix mengernyit tak terima, "master!" memanggil master nya kembali hendak berprotes. Master nya mengangkat satu alis kirinya seakan-akan ia bertanya mengapa. Sebelum berucap, Felix sempatkan melirik Changbin sekilas, "kenapa lembar kertas ku di bakar? padahal master belum membaca nya?" ucap Felix. Master nya terlihat seakan-akan ia tengah berpikir, setelah beberapa detik hening akhir nya master Yugyeom berdekhem dan mengambil satu pulpen merah yang tergeletak di meja nya. "Ayo! mari!" katanya seraya melangkah mendekati Felix.
Felix pun berdiri sedikit ragu, jujur saja ia cukup seram jika berdekatan dengan master nya. "Anak muda yang malang. . " master Yugyeom menghela nafasnya pelan, "waktu adalah emas, yang perlu kau ketahui hadapi semua masalah tanpa ragu. . . jangan tunjuk kan kelemahan mu pada orang lain, atau kau akan terjebak," bersamaan dengan itu ia mencoret kan tinta pulpen nya pada jidat Felix dan mundur duduk kembali ke tempat nya setelah menyeselesai kan tugas nya.
Felix mengernyit bingung, entah apa yang master nya tulis di jidat. Felix menoleh menghadap Changbin lalu bertanya, "apa?" Changbin menunjuk jidat Felix lantas berucap, "failed." Felix mendesah kesal beriringan dengan kecewa yang mendalam, seperti nya ia juga harus membakar Home School sama seperti ia yang membakar pabrik milik ayah nya dulu.
. . . { 𐂡 } . . .
Mereka yang tidak lolos di kelas nya masing-masing kini berkumpul pada tempat dimana kelinci-kelinci kecil mereka berada, duduk di rerumputan sejajar pada bawah pohon yang rindang, menatap lurus menyedih kan.
"Bagaimana bisa aku memilih master Yugyeom untuk menjadi master pembimbing ku. . " kata Felix lalu memasang wajah sedih yang di susul dengan rengekan Yuna, "oh . . astaga kau benar. . aku ingin kembali . . " timpal Yuna seraya memasang wajah tak kalah sedih dengan Felix. Mengambil satu bebatuan kecil atau bisa di bilang sebuah kerikil, Felix melempar nya pada Hyunjin yang tengah menyibak rambut nya ke belakang seraya memejam, hal itu sontak membuat Hyunjin terkejut, "sial" rengut laki-laki itu. "Hey! kau. . bagaimana bisa kau tidak lolos?" tanya Felix pada Hyunjin yang masih merengut.
Hyunjin berdecak sekali, "kau tau? master itu curang!"
"Right! aku dan Hyunjin bisa saja mengalahkan nya kalau saja master itu tida curang!" timpal Jisung dengan ekspresi bangga namun di selingi dengan kecewa, "brengsek memang!" kata nya kembali. Hyunjin dan Jisung masih tak terima jika mereka berdua kalah dengan master nya. Di tambah dengan ekspresi teman-teman nya yang mangut-mangut kala mendengar cerita mereka membuat mereka semakin nyata seolah-olah master Mark benar-benar melakukan kecurangan yang sangat fatal.
"Kalian masih beruntung. Aku dan Yuna hampir saja tewas di tengah hutan," ujar Jeongin membuat teman-teman nya terkejut, "aku dan Yuna tersesat di tengah hutan untuk mencari bunga, hampir 1 jam kita dehidrasi saat aku tengah mencari jalan tiba tiba tumbuhan merambat membelit kaki ku dan Yuna. Lihat!" kata Jeongin lalu menunjuk kan kaki nya yang kini di balut oleh perban. Yuna mengangguk menyetujui, "huee. . bahkan aku hampir menangis" rengek Yuna kembali, "bodoh! kau bahkan sudah menangis!" timpal Jeongin.
KAMU SEDANG MEMBACA
HOME SCHOOL : SKZ ft. ITZY
Mystery / ThrillerMereka sengaja dikirimkan oleh orang tua mereka ke asrama terbaik di Korea, yaitu Home School. Anehnya, Home School lebih terlihat seperti penjara ketimbang sekolah. Suasana Home School tampak mencekam karena terletak di tengah hutan. Home School m...
