8 murid Home School mulai melingkar membelakangi di tengah 7 kursi yang juga melingkari mereka. Segera memulai permainan, Chan menarik nafas nya dalam begitu juga dengan yang lain nya. Master Tzuyu tersenyum, sebelum membunyikan lonceng nya ia lebih dulu memutar kaset dengan musik Carol Of The Bells, musik yang menenangkan.
Sebenarnya lonceng itu di bunyikan hanya untuk bersiap. Melainkan saat musik nya mulai berputar, mereka seluruh nya segera berlari saling merebut kursi. Matanya seakan penuh kilat bersiap merebut nya dari satu sama lain. Master Tzuyu masih dengan senyuman merekah nya. "Duduklah mencari tempat yang nyaman. Dengarkan... Cermati... Dan tentukan!" katanya.
Selang beberapa menit, akhirnya musik itu berputar memainkan iramanya. Semuanya bergerak berlari menabrak satu sama lain. Tak peduli siapa yang jatuh dan siapa yang akan terluka. Mereka terfokus pada kursi yang harus mereka tempati.
Chan saling menatap kala dirinya berlari dan memegang kursi yang sama dengan Changbin. Meneguk ludah nya susah, Chan tersenyum lalu mengalah dan segera berlari mencari kursi yang kosong atau seseorang yang lengah menduduki sebuah kursi. Kini tatapan nya tertuju pada pada 1 kursi yang kosong cukup jauh darinya. Berlomba berlarian bersama Minho yang menyeringai. Chan lebih dulu duduk disana namun Minho tak terima, menendang tubuh Chan. Beruntung laki-laki itu tak jatuh dan tetap mempertahankan tempat nya. Dirasa tendangan nya tak cukup, akhirnya Minho menarik kasar tubuh Chan agar laki-laki itu tersungkur. Dan, benar saja Chan benar-benar terjatuh hingga lutut nya terbentur tanah. Minho tersenyum puas lalu menduduki tempat itu.
Chan melihat nya. Kali ini ia yang menyeret tubuh Minho hingga laki-laki bengir itu berkali-kali kesal. "Pengecut sialan!" umpat Minho pada Chan kala laki-laki berdarah Aussie itu berhasil menjatuhkan Minho dan menduduki kursi nya kembali seraya memasang wajah meledek, Minho menatap nya, musik belum berakhir. Itu artinya masih ada waktu untuknya!
Dari pada berkelahi lebih lanjut dengan Chan. Kini ia memandang para gadis yang tengah rapat mendudukan diri di kursi nya masing-masing. Minho menyeringai kembali, bangkit lalu segera berlari dan menarik paksa tangan Yeji. "Lepas anjing!" umpat nya kesal pada Yeji.
Yeji tetap kekeuh pada dirinya mempertahankan kursi. Banyak dari mereka yang berteriak menyoraki agar Yeji tetap bertahan, seperti Changbin yang di samping nya kini. "BERTAHANLAH YEJI!!"
Di rasa Yeji cukup sulit untuk di lepaskan. Ia kini beralih pada Ryujin. Menendang kursi itu kasar namun tak sampai membuat pemilik nya terjatuh. Ryujin merengut kesal, semakin eratkan tangan nya pada kursi. "PERGI BAJINGAN!!!" teriak nya kencang. Minho semakin kesal di buat nya. Menarik kasar tubuh Ryujin hingga gadis yang di cap galak oleh Hyunjin itu terjatuh mengaduh sakit. Lutut nya berdarah, Minho benar-benar kejam padanya.
Ia merengut, mencebikan bibir nya lalu bangun hendak menghajar Minho. Namun sial, irama musik nya terhenti, tangan nya yang sudah ia layangkan ke atas kembali turun. "Kau!" menggeram kesal seraya menunjuk wajah Minho yang kini justru mengeluarkan lidah nya untuk mengejek.
Pada akhirnya Ryujin pergi dari arena permainan tentu dengan perasaan kesal dan kaki yang di hentak hentak kan.
Permainan kembali di mulai, seperti di awal. Mereka saling membelakangi lalu segera berlari menduduki kursi yang melingkar pada mereka, kali ini kursi itu berkurang satu. Hingga pada alunan musik mulai terdengar di indra pendengaran mereka. Berlari dan saling merebut kembali tak bisa di hindar kan.
Lagi-lagi kesialan berada di tangan Minho. Laki-laki bengir itu menghela napas lantas memandang sekitar, ada beberapa teman nya yang tengah berkelahi baik fisik maupun bersilat lidah. Ia tatap para gadis yang sudah duduk rapi di kursi nya masing-maisng, hingga pada atensi nya berakhir tertuju pada seorang laki-laki lugu tengah duduk dengan memegangi kursi nya erat-erat kala Minho menyeringai padanya. Tak lain dan tak bukan itu adalah Seungmin.
Minho beranjak mendekati nya, menyeringai sebentar lalu meludahi nya dengan kasar. Seungmin terkejut bukan main, laki-laki ini selalu menindas nya namun ia tak bisa berbuat apa-apa.
"P- Pergilah!" pinta Seungmin terbata.
"Berikan kursi nya pada ku."
"Tidak!"
Mendengar penolakan dari Seungmin membuat amarah Minho kembali naik, tangan nya mengepal kuat hingga kaki nya terangkat untuk menendang Seungmin. Namun usaha nya sia-sia, meski Seungmin mengaduh sakit dan mata nya berkaca-kaca hampir menangis, laki-laki lugu itu tetap berani mempertahankan kursi nya. "Oh, kau mau melawan ku culun?!" seringai Minho lagi-lagi terpatri.
Kini pemuda itu mengepalkan satu tangan nya tepat di depan wajah Seungmin kemudian ia tiup kan seakan keberuntungan harus ada pada nya. Pada detik berikut nya, suara hantaman antara tulang jari dan tulang pipi menembus pendengaran mereka. Yeji meringis kala melihat pipi Seungmin memerah bengkak akibat pukulan Minho. Tatapan gadis itu kini beralih pada Sang Master yang justru tersenyum anggun menatap murid nya berkelahi. Sungguh Yeji tak mengerti apa sebenarnya yang ada di pikiran para Master. Apakah mereka memang sengaja membuat murid-murid nya bertengkar??
Changbin menggeram kala tangan Minho beralih menarik seragam Seungmin hingga pemuda lugu itu terasa leher nya seperti di cekik. Changbin berdiri tegas, dengan langkah yang panjang ia menarik lengan Minho lantas berhasil memberikan satu pukulan pada wajah Minho. Minho terhuyung hampir jatuh merasakan kepala nya pusing teramat, luka jahit nya belum sembuh dan sekarang ia harus berkelahi dengan pukulan pukulan teman nya. Meski Minho tak membalas pukulan dari Changbin, namun laki-laki bengir itu menatap Changbin tajam seakan ia tengah mengancam Changbin untuk lebih berhati-hati.
Di sisi lain Hyunjin dan yang lain berteriak heboh kala melihat di depan layar sana Changbin dengan berani memukul Minho hingga laki-laki itu mengumpat beberapa kali.
"Tak ku sangka, ternyata dia benar-benar seperti preman!" gumam Jeongin masih dengan mencermati apa yang selanjut nya akan terjadi. Felix sendiri tersenyum puas. Lihat lah sekarang, bahkan mata nya hampir hilang sejak ia tertawa lepas sedari tadi bersama Jisung. Yuna menggeleng, "dasar para lelaki gila!"
Kembali pada arena. Dapat di lihat masih ada perseteruan antara Minho dengan permainan yang Master Tzuyu berikan saat ini. Mata Minho menusuk tajam pada para gadis yang kini tengah waspada dengan pemberontakan apabila Minho mengincar mereka kembali.
Minho tersenyum licik menatap Lia yang justru duduk dengan santai seraya melipat kedua tangan nya di dada. Minho mendekati nya perlahan, ia mendekatkan wajah nya dengan Lia, mengucapkan beberapa kata lalu menarik gadis yang ia pilih sebagai kekasih nya hingga terjatuh. "Maaf cantik, tapi aku tak bisa mengalah untuk mu kali ini." Itu yang Minho katakan. Dengan sekali tarikan yang ia beri, gadis itu terjatuh dan Minho berhasil merebut kursi nya. Sangat mudah.
Mendarat kan pantat nya pada kursi yang baru saja berhasil ia rebut lantas mengelus kepala Lia yang kini menatap nya dari rerumputan penuh kesal.
Musik nya berhenti, itu artinya di permainan ini Lia kalah dan harus di eliminasi. Menepis tangan Minho kasar lalu beranjak hampiri Ryujin yang kini sudah tertawa terbahak-bahak. Ryujin mengutuk gadis itu, dan tuhan mengabul kan keinginan nya.
"Diamlah!" Lia mencebik, dalam hatinya jelas pasti ia merutuki kekasih nya tersebut. Ryujin berhenti tertawa kemudian menyeka air mata yang keluar dari ujung mata nya, astaga ia sangat puas melihat wajah Lia yang berapi-api saat ini.
HOME SCHOOL

KAMU SEDANG MEMBACA
HOME SCHOOL : SKZ ft. ITZY
Mystery / ThrillerMereka sengaja dikirimkan oleh orang tua mereka ke asrama terbaik di Korea, yaitu Home School. Anehnya, Home School lebih terlihat seperti penjara ketimbang sekolah. Suasana Home School tampak mencekam karena terletak di tengah hutan. Home School m...
