6. IGNITES >>Menghindari Sumber Masalah<<

40.3K 1.8K 18
                                        


Dewi mengetuk pintu kamar Wilona pelan. Dia tahu gadis itu sedang tidak baik-baik saja sejak pulang dari sekolah.

Tanpa persetujuan, Dewi tetap masuk ke dalam kamar gadis itu dan mendapati Wilona yang sedang fokus membaca buku yang cukup tebal.

Dewi mendekat dan mengelus rambut gadis yang sudah ia anggap adik sendiri.

"Lona nggak makan?" Tanya Dewi, lembut.

"Belum lapar, mbak," jawab Wilona singkat. Gadis itu masih sibuk dengan bukunya yang berisi kosa-kata bahasa Mandarin.

Dewi menggeleng pelan karena beberapa buku kamus dari bahasa asing tertumpuk rapi di meja belajar Wilona.

"Tadi kak Wildan bawa pacarnya loh. Cantik banget," kata Dewi, berusaha merayu Wilona agar buyar dari fokusnya.

Trik itu berhasil. Wilona mendongak, menatap Dewi penuh selidik.

"Lagi?" Wilona menghela napas pelan. "Padahal Lona udah bilang jangan bawa pacarnya ke rumah. Kalo papa tau, kak Wildan bisa kena marah."

Dewi mengusap bibir Wilona pelan. "Ini kenapa? Lona dipukul?"

Gadis itu beranjak dari duduknya dan mulai membereskan tumpukan buku di atas ranjang. "Kejedot wastafel," Lona kini kembali menatap Dewi. "Mbak, Lona udah gede, loh. Harus banget diawasin terus kayak gini?"

"Itu pesan mama Lona. Mbak nggak bisa acuh terhadap pesan itu."

Wilona mulai kesal. Apa bedanya saat dia SMP dan sekarang? Dulu dikurung dalam rumah dan homeschooling, membuat dia tidak punya banyak teman. Sekarang pun masih ditahan untuk melakukan apa yang ia suka.

"Kalo gitu harusnya papa jangan masukin Lona ke sekolah biasa," ucap Wilona sebal. Dia keluar dari kamarnya, meninggalkan Dewi yang hanya bisa diam karena merasa bersalah.

🏮🏮🏮

Gadis itu menatap tak suka ke arah Wildan yang sedang sibuk berkutik di depan laptop. Pemuda berusia 20 tahun itu benar-benar keras kepala. Karakter papa dan mama benar-benar jadi satu dalam diri Wildan.

"Besok papa pulang. Jangan bikin masalah," kata Wilona begitu duduk di sofa yang jaraknya jauh dari tempat Wildan duduk.

Pemuda itu hanya melirik adiknya sekilas, kemudian kembali sibuk dengan dunianya sendiri.

Dari awal kedatangan Wilona di keluarganya memang sudah membawa kehancuran bagi Wildan. Tak ada bedanya dulu maupun sekarang.

Meskipun begitu, perlahan waktu membuat Wildan sedikit menerima keberadaan adiknya yang berbeda ibu.

Tapi mamanya benar-benar menganggap Wilona seperti anaknya sendiri. Mau tak mau dia juga harus menerima kenyataan bahwa dia bukan lagi anak tunggal.

Wajah Wilona sedikit mirip dengan papa, tapi entah bagaimana, lama-lama gadis itu juga jadi mirip mamanya.

Wildan memperhatikan Wilona yang sedang asyik sendiri dengan ponselnya.

"Kayaknya ada yang seru?" Sinis Wildan. "Lo nggak boleh suka sama cowok. Masih kecil."

Wilona mendengus pelan. "Terus cuma kakak aja yang boleh pacaran? Aturan macam apa itu?"

"Nurut aja kalo masih mau jadi adik gue," kata Pemuda itu. Dia masih mengerjakan beberapa tugas kuliah yang sudah ia telantarkan seminggu lamanya.

Gadis itu kembali asyik dengan ponselnya, membuat Wildan jadi penasaran.

"Lo punya pacar?" Tanya Wildan, serius.

Wilona memutar bola matanya, muak. "Emangnya senyum sendiri di depan hp selalu karna punya pacar?"

"Lo dibully gara-gara banyak yang nggak terima cowok-cowok pada ngejar lo, ingat itu." Wildan menatap adiknya dengan tatapan tajam. "Kalo sampe lo pacaran, jangan harap cowok itu selamat dari gue," ancamnya.

IGNITES (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang