William, dia......menangis.
Selama 2 tahun aku tinggal di sini, semua ekspresi William hanyala ekspresi datar yang acu tak acuh.
Dia hanya mengungkapkan semuanya melalui perkataan datar dan mengubah air wajahnya.
"Kenapa anda, bisa menerima hal itu dengan mudah"suara William bergetar.
"William kenapa kau menangis?"tanyaku duduk.
"Tidak hanya saya, para pelayan Dirumah ini. Sangat menyukai anda"ucap William.
"Kami menghormati anda sebagai Tuan kami, kami tidak membutuhkan tuan Baru"ucap William.
Air mulai membanjiri matanya. Aku berdiri perlahan dan menyentuh wajah William.
Wajah yang biasanya datar.
"Hahaha, jadi kau juga bisa menangis ya, William"ucapku tersenyum, tapi air mata yang ku tahan dari tadi mulai mengucur dari pelupuk mataku.
"Sial, kenapa aku juga ikut menangis"ucapku sambil menutup mataku.
Tidak ini tidak bisa di hentikan.
Rasa sakit dan sesak ini membuatku menumpahkan semua kekesalanku.
Aku yang biasanya hanya menangis dalam diam, mulai menangis sambil berteriak. Rasa sakit yang selalu ku tahan selama jni, Rasa Kecewa dan Cinta ini menggebu seakan bisa membuat jantungku meledak.
"Wiliam, kenapa Cinta sesakit ini"ucapku
"Hiks, hiks"
William sedari tadi menangis sambil berdiri ikut duduk dan memelukku.
Pelukkan yang tidak di berikan oleh Killian dan Orang tua ku sendiri.
_____
Karna terlalu lama menangis aku berakhir dengan ketiduran.
Aku membuka mataku, aku berada di kamar dengan infus di lengan kiriku.
"Ah, mata ku. Sakit"ucapku menggosok mataku.
"Ah kepalaku pusing"gumamku
Brak
Tiba tiba suara pintu terdorong keras
"Kay"terdengar suara yang sangat familiar.
Pria yang selalu ku doa kan untuk tidak perna kembali.
Aku melihat pria yang memiliki Rupa mirip denganku, dengan mata ungu yang ku benci itu.
"Kak Lay"ucapku.
"Kay, astaga. Saat kakak sampai. Kakak dengar kalau kau sakit"ucap kakak memelukku.
"Tidak, hentikan, jangan peluk aku. Menjijikan. Menjijikan. Menjijikan"
"Lepaskan"ucapku.
"Eh, apa. Apa kau tidak merindukan kakak?"tanya kakak.
"Sudah lepaskan"teriakku sambil mendorongnya.
"Lay...."terdengar suara Killian, Killian berlari menghampiri kak Lay yang terjatu ke lantai.
"Apa kau baik baik saja?"tanya Killian pada Lay.
"Emh, aku baik baik saja"ucap Lay
"Kay, kau kelewatan"ucap Killian berdiri. Dan Park dia menampar wajah bagian kiriku. Sehingga membuatku menabrak ke ujung kasur.
"Killian, hentikan"ucap Lay.
"Pergi"ucapku.
"Kau sudah berani memerintahku"ucap Killian mengangkat tangannya.
"PERGI"teriakku sambil berdiri.
"Enyahlah dari hadapanku"teriakku.
"Kay, kepalamu"ucap Lay hendak menyentuhku.
Srrt
"Singkirkan tanganmu dariku"ucapku menepiskan tangan Lay.
"Kay"ucap Lay.
"William, Suruh tuan mudah serta nyonya mu ini pergi"teriakku pada William yang sedari tadi terdiam di depan pintu.
"Baik tuan"ucap William.
"Hah, Sialaaan"teriakku sambil melempar Bantal.
____
"Tuan"ucap Wiliam sambil mengobati luka di dahi ku.
"Ada apa?"tanyaku
"Tuan, Nyonya ada disini"ucap William.
"Ibu, kenapa tiba tiba?"tanyaku.
"Nyonya sudah mendengar berita tentang kembalinya kakak Anda dan sekarang mereka sedang bertengkar di bawah"ucap William menyelesaikan balutan Perban.
"Apa?, Tidak boleh. Ibu tidak boleh marah"ucapku berdiri.
Tapi tubuhku benar benar terasa lemah.
"William, cepat tolong aku keluar"ucapku.
"Baik tuan"ucap william mulai memapah ku.
"$($(($$(("
Mulai terdengar cekcok dari lantai bawah.
"Aku tidak akan menerimah dia Dirumah ini"teriak ibu pada Killian.
"Ini hidupku, aku yang akan memutuskannya"ucap Killian.
"Kau sudah menikahi Kay , jadi kenapa kau harus menikahi kakaknya lagi"ucap ibu.
"Eh, menikahi Kay?"tanya Lay.
"Tidak, Kay itu hanya pengganti. Saat kau kembali dia sudah tidak di butuhkan lagi"ucap Killian.
"Killian jaga kata katamu"ucap ibu mengcengkram pot bunga dan meremuknya dengan tangan kosong.
"Aku sudah bilang padamu, kalau aku mencintai Lay bukan Kay. Kau memaksa aku menikahinya karna hutang budimu. Jadi kenapa kau melibatkan ku"Teriak Killian.
"Bajingan, aku tidak membesarkanmu menjadi bajingan"ucap ibu.
"Ibu"ucapku bergegas menghampiri ibu.
"Ibu, tolong tenanglah"ucapku memegang lengan ibuku.
"Kay, apa kau baik baik saja nak?"tanya ibu memelukku.
"Emh aku baik baik saja"jawabku tersenyum.
"Kay, ayo jelaskan kepada ibu. Kalau Killian tidak mendorongmu melainkan kau jatuh sendiri"ucap Lay tiba tiba.
"Eh?"
"Emh" sambil mengangguk.
"Yang harusnya bahagia disini adalah kakakku"
"Aku terjatuh sendiri, aku terpeleset dan menghantam mejah"ucapku tersenyum.
"Bukanka ibu sudah dengar, Killian sama sekali tidak memukul Kay. Melainkan Kay terpeleset"ucap Lay tersenyum.
"IBU?!"ucap ibu dengan nada dingin.
"Siapa dirimu dengan seenaknya memanggilku ibu"ucap ibu memandang Lay dingin.
"Ta tapi, bukanka ibu sudah mendengar kata kata Killian tadi"ucap Lay.
Park tiba tiba ibu mendaratkan sebuah tamparan ke wajah Lay.
"Yang boleh memanggilku ibu, hanyalah anak dan menantuku. Dan kau hanyala kakak dari menantuku"ucap ibu dengan mata dingin.
"Kay, bawalah barang barangmu dan pergi kerumah ibu. William bantu Kay"ucap ibu
"Baik nyonya"ucap William.
Killian yang terdiam tak berkutik dan Lay yang duduk di lantai sambil memegang wajah. Saat ini suasana hatiku tidak bisa diungkapkan
Aku membenci diriku yang sedang tertawa saat melihat Lay sengsara. Karna kehidupan kami yang sangat sangat berbeda.
17 tahun yang lalu
Aku dan lay terlahir di keluarga orang Kaya yang sangat mementingkan Nilai dan pandangan orang lain.
Aku memiliki 2 kakak termasuk Lay, yang dimana kakak pertamaku juga laki laki.
Di Rumah itu selalu membanding kan nilai study yang seakan itu adalah kunci ke suksesan.
Ayahku seorang dokter hebat peringkat 3.
Ibuku seorang ilmuan yang selalu memenangkan piala emas dengan penemuan-penemuannya.
Karna terlahir dari ibu dan ayah yang hebat kami sebagai anak juga harus memaksa otak kami untuk mengikuti study yang dimana tingkatannya sudah sangat berbeda.
Kakak pertamaku Alex saat berumur 16 mendapatkan penghargaan murid terpintar seangkatannya.
Lay mendapatkan penghargaan setiap tahun karna ahli dalam matematika.
Sedangkan aku, karna aku tidak terlalu pintar dalam study aku selalu tertinggal dari kakak kakakku.
Setiap tahun di marahi karna selalu berada di peringkat ke 5 membuatku mulai berhenti belajar dan berpindah ke hobby baru, yaitu baseball
Olahraga yang menghabiskan waktu bersama teman teman tanpa sekalipun membahas tentang peringkat di dalamnya.
Itu menyenangkan sangat menyenangkan, tapi tidak bagi keluargaku.
"Tidak, jangan. Hiks hiks" di hari kami menuju kejuaraan,
Semua perlengkapan besbool ku dibakar oleh ibuku.
"Tidaaaaak, hentikan"teriakku mendorong ibu.
Dan hari itu juga klub baseball kami kalah karna kekurangan anggota.
Setelah hari itu semua temanku menjauhi dengan mengatakan karna aku semuanya Gagal.
Masa lalu yang tak terlalu indah.
Setelah hari itu aku mulai membenci keluargaku.
Aku sudah tidak peduli lagi tentang pujian atau apalah itu.
Aku membenci semua orang.
Hingga tiba tiba saat umurku 12 aku bertemu seorang wanita muncul dihadapan, wanita dengan Rambut merah pekat.
"Nak kenapa kau berada disini?"tanya wanita itu.
Aku yang duduk di kursi taman di malam larut itu hanya diam.
"Ah, apa kau tidak mau menjawab bibi?"tanya dia sambil tersenyum.
Matanya kehitaman bengkak karna hawa dingin dan setelah menangis cukup lama.
KAMU SEDANG MEMBACA
please love me(BL)
Romancekay memiliki orang yang sangat ia cintai, seorang pria tampan yang begitu menawan. tapi ... sebesar apapun cinta kay pada pria itu. kay tetaplah seorang pengganti kakak kembarnya
