Beberapa menit yang lalu setelah Erik memperkenalkan dri di depan. Saat ini guru sedang menulis di papan tulis sambil menjelaskan.
Erik berpangku dagu. Dia sedang melamun. "Eh bin,"
"Hem"
"Yohan lagi ngapain~?"
"Gatau"
"Gue ga sabar mau ketemu dia~" Erik membanting kepalanya ke meja.
"Kenapa di sana?" Tanya guru yang sedang mengajar.
"Dia agak pusing Bu" jawab Abin.
Karna yang menjawab adalah Abin, si murid teladan, guru itu percaya. "Kalau pusing ke UKS, jangan mengganggu teman yang lain" guru itu kembali menulis di papan tulis.
"Baik Bu" jawab Abin.
Tiba-tiba Erik bangkit "Gimana kalau gue alesan ke UKS terus nerobos ke kelas Yohan?"
"Katanya lu mau deketin Yohan pelan-pelan. Kalo lu ga sabaran, yang ada dia ngerasa aneh terus ngejauh"
"Heeeuuu..." Erik kembali layu. Dia menunjukkan tangannya yang gemetar ke Abin. "Liat, gue tremor dari tadi"
"Ngapain juga tadi lu bawa-bawa acara ngerjain pr"
"Gue bingung sat"
Abin kembali menulis. "Eh, dia itu pelupa"
"Kayanya. Napa?"
"Lucu aja"
DUBRAK!
Erik mendobrak meja sambil memelototi Abin. "HAAAA?!!!"
"Kenapa lagi itu disana?!" Teriak guru
Erik berdiri dan menarik kerah baju Abin.
"Bercanda"
.
.
.
.
.
Perjalanan pulang sekolah. Mereka sedikit lebih lama karena tertahan di ruang guru, akibat keributan tadi pagi di kelas.
"Guru sialan. Jam istirahat di tahan. Jam pulang juga masih di tahan. Ahhkkk!"
"Kalo lu gampang emosian gitu, Yohan beneran gamau sama lu"
"Ya ya, bacot banget bajingan satu ini"
"Tadi gue bercanda.. Maaf deh. Gue cuma mau ngetes doang. Sabar dikit gitu loh"
"Itu karna gue baru ketemu Yohan. Terus lu malah ngerjain gue. Gatau lagi, gue mau pingsan. Yohan pasti udah nyampe rumah~"
Akhirnya mereka sampai di luar gerbang sekolah. Anak-anak sudah hampir pulang semua.
Erik lesu seperti akan mati.
Abin melihat sekeliling. Lalu matanya tertuju pada anak dengan tas navy yang berjalan sendirian. Dia lalu memegang kepala Erik dan mengarahkannya ke Yohan. "yakin lu mau pingsan sekarang?"
Seketika baterai Erik penuh. Dia pun berlari menghampiri Yohan dan merangkulnya.
.
.
.
.
.
Setelah di tinggalkan yohan. Erik melihat sesuatu di tangannya. "Sepuluh ribu?" Entah kenapa Erik salah tingkah.
Mobil Pajero yang tadi pergi kini datang kembali.
Erik bergegas masuk. "Ikutin dia"
"Baik, den"
Bzzzt bzzzt! Suara hp Erik berdering.
Itu dari ayahnya. Ayah Erik menyuruh Erik pulang untuk mengurus sesuatu.
"Sialan!!"
Erik terpaksa pulang. Tapi dia berpesan pada supirnya untuk mengikuti Yohan.
Ternyata pertemuan dengan ayahnya memakan banyak waktu. Setelah selesai, Erik bergegas menghubungi supir untuk menjemputnya.
"Dia dimana?"
"Di rumah, den"
"Bagus. Kesana lagi"
"Bukankah lebih baik tidak menggunakan kendaraan yang mencolok, den?" Tanya supir sedikit ragu.
"Kalo dia ga masalah"
.
.
.
.
.
Erik sampai di rumah Yohan dengan segenap rayuannya.
"Duduk diem disini" perintah Yohan. Lalu dia menuju kompor menyiapkan makan untuk Erik.
"Oke" jawab Erik sambil tersenyum.
Erik sudah meredahkan dirinya. Jadi dia tak akan meluap-luap lagi sehingga emosinya tak terkontrol. Dia mau menjadi anak yang baik dan penurut untuk Yohan.
Erik melihat sekeliling. Ada foto dengan bingkai di samping tv. Seorang perempuan yang merangkul Yohan.
"kakaknya yang waktu itu"
Seketika matanya tertuju pada hp yang berada di bawah meja tv. Erik melirik sejenak Yohan yang sedang sibuk, lalu dia mengambil hp itu.
Erik heran kenapa bisa hp Yohan berada di bawah kolong tv.
Ternyata layarnya tidak di kunci. Buru-buru Erik mengirim pesan pada nomornya. Sukurnya hp Erik sudah di silent, jadi Yohan tidak akan tau. Setelah itu dia menghapus pesannya lagi.
Belum sempat melihat yang lain, sepertinya Yohan hampir selesai menyiapkan makanan. Erik langsung menyelipkan hp Yohan ke sofa.
"Nih" Yohan meletakkan nasi goreng di atas meja makan.
Erik langsung menghampiri Yohan dengan tersenyum.
.
.
.
.
.
Keesokan paginya. Erik sengaja berangkat lebih awal. Dia sudah tau kalau Raka temannya Yohan, akan berangkat lebih dulu dari Yohan.
Erik duduk di kursi milik Yohan. Di dalam kelas Yohan ada sekitar 5 orang, termasuk Erik.
Tak lama, benar saja Raka datang. Dia sambil bersenandung dan sedikit melompat-lompat. Saat di depan mejanya dia terkejut.
"AAA!!"
Erik tersenyum muak.
"L-LU! L-LU MAU J-JADIIN.. GUE KACUNG JUGA YA?!! AAAA!!! TOLONG!!!" Raka sambil mundur-mundur dengan gaya Ultraman.
Mereka pun jadi pusat perhatian.
"Ssstt. Nggak. Sini gue kasih tau rahasia"
Raka mendekat, dan dia di beri seribu ucapan manis yang membuat kepalanya semakin besar.
"Hahh?! Beneran?!!" Heboh Raka.
"Anak ini gampang di tebak" Erik
Raka pun duduk di kursinya dan mengoceh tentang ketampanannya. Tak lama di tengah percakapan yang heboh, Erik bertanya. "Lo temenan sama Yohan dari kapan?"
"Eumm.. semenjak SMA"
"Pernah main ke rumahnya?"
Raka kaget. "Belom huhuhu~ dia ga pernah ngajak~ padahal gue itu sahabat terbaik dia~" jawab Raka merengek
"Bagus! Gue yang pertama" batin Erik
"Menurut lu, Yohan itu orangnya gimana?"
"Euu.. pelupa, lemot, bodo.."
"Oi, kenapa lu malah ngehina?"
"Euuu.. apa lagi ya. Ah! Dia pinter masak"
Erik tersentak. "kok bisa?"
"Biasa kalo uprak masak"
Erik lega.
Anak-anak mulai berdatangan. Erik sudah bosan mendengar celotehan Raka yang tak ada habisnya. Dia terus menguap.
Selang beberapa menit. Raka berhenti mengoceh.
"Woooo! Yohan!" Teriak Raka
Reflek Erik melihat ke arah pintu. Lalu dia tersenyum. Di sana ada Yohan dengan wajah bingungnya. Sekejap baterai Erik kembali terisi penuh.
.
.
.
Flashback selesai ...
.
. . .
. . . . .
. . .
.
KAMU SEDANG MEMBACA
USURER [BL]
JugendliteraturSeorang yang asing terus terlibat dengan Yohan. Tanpa sadar Yohan mulai terbiasa dengan perlakuan Erik yang suka menempel padanya. Suatu hari Erik terungkap diam-diam menyelidiki Yohan, hubungan mereka pun tak berjalan seperti biasa. Tapi ternyata Y...
![USURER [BL]](https://img.wattpad.com/cover/357685904-64-k106145.jpg)