Suara burung bercicit terdengar samar di telinga Yohan. Di duga sudah menjelang pagi untuk sekolah setelah sehari libur. Badannya masih merasa lelah akibat kemarin banyak beraktivitas. Tapi tak ada pilihan atau dia harus menghormat bendera jika telat.
"Ugh.." Yohan bangkit dari kasurnya bersuhasa mengumpulkan nyawa yang tersisah.
Memikirkan kejadian kemarin saat mereka pulang, Erik tampak tak cukup baik.
Tepat setelah hujan reda, supir Erik menjemput mereka. Saat itu Yohan sudah kembali mengenakan baju. Keduanya duduk di kursi belakang. Erik mengajaknya berbincang hal-hal biasa, seperti pr sekolah, waffle mereka yang tidak berbentuk, dan lain nya.
Yohan hanya menanggapi seperti biasa tapi tangan Erik tampak gemetar seperti menggigil.
"Haahh.. bikin kepikiran aja" keluhnya lalu beranjak pergi keluar kamar.
.
.
.
Kelas berjalan seperti biasa. Dan sudah waktunya untuk jam istirahat siang. Menyalin jawaban di pagi hari menyibukkan Yohan hingga tak sempat memikirkan pria yang kemarin seharian bersama nya.
Guru keluar kelas selepas mengucapkan sepatah dua kata tentang pr, lalu anak2 mulai membereskan meja mereka.
Raka yang melihat wajah teman sebangku nya dengan muka tidak menyenangkan, akhirnya membuka mulut.
"Lu kenapa, huh?! Bukannya harrusnya gue ya yang marah di tinggalin lu berdua. Ya walau yang bayar bukan gue sih" timpalnya dengan nada kesal.
Tak ada tanggapan.
Apa sekarang dia tuli? Pikir Raka
"Oi!" Serunya sambil menyenggol bahu Yohan.
Yohan tampak terkejut. Tak seperti biasanya. Biasa ia akan pura-pura tak kaget dan bersikap tenang. "Huh?" Dengan agak linglung.
Raka mengerutkan alisnya. "Lu ga dengar tadi gue ngomong apa? Seorang Raka?! Seorang Raka di kacangi?! Hiks sedih banget gueh~" dia mulai berdrama sebagaimana mestinya kesehariannya setiap hari. Mengelus-elus dadanya seperti seorang ibu yang terhianati anaknya.
Malas menanggapi, Yohan keluar kelas menyadari kelas sudah berakhir.
"Woi Yohan!!" Teriak Raka yang tidak menyangka ditinggalkan. Sayangnya Yohan sudah tidak terlihat di ruang kelas.
Pemuda dengan memori terbatas di otaknya itu berhenti di depan kelas XI B. Berpikir keras mengingat-ingat dimana kelas Erik saat dia terseret masalah utang saat itu. Tak peduli seberapa keras dia berpikir, sepertinya dia berdiri di kelas yang salah.
Tak perlu waktu lama saat dia hendak pergi ke kelas XI A, Abin keluar dari kelas yang hendak Yohan tuju. Keduanya saling bertatap sejenak. Yohan hendak membuka mulut, tetapi belum sempat kata-katanya keluar, dia berbalik dan menuju arah yang berlawanan.
Abin terdiam di tempat seperti tidak peduli.
Pintu toilet terbuka dengan cepat dan seorang pemuda yang linglung masuk dan duduk di toilet duduk yang tertutup.
"Gue ngapain sih?" berpikir dengan otaknya. Entah apa yang ia pikirkan. Semua terasa rumit.
Mengetahui Abin yang tadi sendirian, "Dia ga sekolah?" Pikirnya dalam hati.
.
.
.
Sudah 3 hari Erik tidak muncul di sekolah. Saat kemarin akhirnya Yohan memberanikan diri untuk bertanya, Abin menjawab bahwa Erik demam.
Mengirim pesan tentu saja tidak muncul di otak Yohan.
Beberapa menit yang lalu bel sekolah tanda semua pelajaran telah usai, telah berbunyi. Akhir-akhir ini bagi Yohan waktu berjalan begitu lambat. Seperti biasa, Yohan tak membawa hp ke sekolah. Sebab lupa. Pemuda berwajah kecil itu tak sabar sampai di rumah. Dia mempercepat langkah kakinya. Memikirkan niat untuk mengirim pesan dan menanyakan keadaaan Erik.
KAMU SEDANG MEMBACA
USURER [BL]
Teen FictionSeorang yang asing terus terlibat dengan Yohan. Tanpa sadar Yohan mulai terbiasa dengan perlakuan Erik yang suka menempel padanya. Suatu hari Erik terungkap diam-diam menyelidiki Yohan, hubungan mereka pun tak berjalan seperti biasa. Tapi ternyata Y...
![USURER [BL]](https://img.wattpad.com/cover/357685904-64-k106145.jpg)