Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Karrin memasukan ponselnya setelah membaca bubble terakhir dari Daniel.
"Kak Fany." Panggil Karrin menghampiri teman istirahatnya siang ini.
"Aduh gimana bilangnya ya?" Ucap Karrin sungkan.
"hm? Kamu kenapa? Ada apa? Tenang dulu...." Tanya Fany lembut lengkap dengan senyum hangat khas miliknya.
"Kayanya aku harus balik ke kantor sekarang deh kak. Urgent." Ucap Karrin.
"hmm? Ada apa? Yaudah kalo gitu, Kamu ke kantor dulu aja gapapa." Kata Fany.
"Terus Kak Fany gimana?"
"Gapapa, nanti pake taxi atau uber aja gapapa."
"Aduh jadi gak enak."
"Gapapa Dek, gapapa. Lagian ini jam istirahatnya juga udah mau selesai kan?"
"Yaudah kalo gitu, Kak Maaf banget ya harus ditinggal kaya gini."
"ih gapapa tau, gapapa. Yaudah sana kamu udah di tungguin pasti." Ucap Fany yang di angguki oleh Karrin.
"Kak Fan nanti pulang nya hati - hati ya. Nanti kalo udah sampe kantor nanti kabarin aku, kalo ada apa - apa juga langsung telfon aku. Aku duluan." Ucap Karrin setelah sempat memeluk Fany sebagai tanda perpisahan.
Karrin pun berlalu meninggalkan Fany yang akhirnya menyudahi kegiatan belanjanya.
Disisi lain, Daniel datang tepat saat Karrin keluar dari toko yang sudah Karrin sebutkan sebelumnya.
"Mbak Karin buru - buru amat." Gumam Daniel yang melihat Karrin berjalan sedikit tergesa. "Semoga dia baik - baik aja deh." Kembali Daniel bergumam.
Hampir saja Daniel melangkahkan kakinya masuk kedalam toko untuk menemui Tiffany, matanya menangkap sosok yang tak asing baginya tengah bersembunyi dibalik sebuah manequin di samping toko tersebut. Daniel menghela nafas panjang, "Ada aja kelakuan." Gumamnya, kemudian mengubah arah tujuannya.
Greppppp.
Bastian merasakan sesseorang menarik kerah bajunya dari belakang, siapa lagi kalo bukan Daniel.
"Mau kemana bung?" Ucap Daniel santai membuat Bastian sedikit menoleh kebelakang.
"Anjrit!" Umpat Bastian menepis tangan Daniel tersebut.
"Udah macem demit aja lo tiba - tiba muncul." Gerutu Bastian sembari sedikit merapikan penampilannya.
"Lo mending cabut sekarang deh sebelum gue teriakin klepto." Ancam Daniel.
"Sembarangan lo." Protes Bastian
"Ya Apa dong namanya orang yang sembunyi di belakang patung begini?" Pancing Daniel.
"Mengamati cewek kita." Jawab Bastian asal.
"Cewek GUE!" Tegas Daniel.
"Sebelum jadi cewe lo kan cewe gue?"
"Oh iya lupa lagi gue, sebelum jadi cewek gue tuh dia pernah bilang di selingkuhin sama COWOKNYA YANG KEREN ITU. Lo ya?" Sindir Daniel.
"Anjing!" Geram Bastian.
"Gue bilangin sama lo ya Bro, jangan pernah gangguin Fany lagi. Karena gue gak akan tinggal diem." Ancam Daniel kembali.
"Kita liat aja sejauh mana pengawasan lo." Tantang Bastian.
"Okay, kita liat aja gue bakalan bener - bener bikin Fany benci sama lo. Meskipun lo abang sepupunya sendiri."
"Coba aja kalo bisa."
"Deal." Ucap Daniel.
"Cabut lo. Sebelum beneran gue teriakin klepto." Pungkas Daniel memaksa Bastian untuk meminggalkan tempat itu dengan berat hati.
Detik selanjutnya Fany terlihat keluar dari toko tersebut menenteng beberapa paper bag hasil perburuannya dengan Karrina hari ini. Tentu saja hal itu tak terlewat dari pengawasan Daniel. Dengan cepat ia membuat keadaan seolah - olah mereka tak sengaja bertemu.
"Loh? Daniel?" Kata Tiffany saat dirinya telah berhadapan dengan Daniel.
"Eh? Kamu disini? Sama siapa?" Tanya Daniel basa basi.
"Tadi sih sama Karrina, cuma tiba - tiba dia di telfon dari kantor jadi harus pulang duluan. Kamu ngapain disini?" Tanya Tiffany balik.
"Aku cari kado buat mama, kayanya udah lama gak ngasih hadiah aja buat beliau." Jawab Daniel mencari alasan.
"Kok gak bilang aku?"
"Aku takut kamu sibuk hari ini, jadi yaudah aku sendiri dulu aja. Tadi sekalian cari makan siang juga. Kamu udah makan belum?" Tanya Daniel mencoba mengalihkan topik.
"Udah kok tadi makan sama Karrina. Terus ini kamu gimana? Udah dapet kadonya? udah makan siang juga? Kalo belum aku temenin sekalian." Tawar Tiffany.
"Udah kok udah semua, kadonya custome. Jadi nanti dua hari lagi baru jadi. Kamu masih ada yang mau di beli gak yang?" Tanya Daniel.
"Kamu jangan manggil aku Yang secara langsung dong." Protes Tiffany
"Emang kenapa?" Bingung Daniel.
"Aku MALUU!!!!"
"Ahahaha mukanya merah tuh udah kaya kepiting rebus." Goda Daniel.
"Ish! Sebel!!!"
"Ahahah lucunya." Ucap Daniel sedikit mengusak pucuk kepala Tiffany.
"Kamu diem deh ah. AKU MAU PULANG!" Ucap Tiffany meninggalkan Daniel begitu saja.
"wkwkwk loh kok di tinggal sih? Sayang! Tungguin." Teriak Daniel menyusul langkah kaki Tiffany.
***
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Siang itu, untuk yang kesekian kalinya paragraf kegagalan Bastian kembali tertulis. Menciptakan rasa sesak yang kini menyeruak didalam dada. Disana, didalam kendaraan kesayangannya, ia masih berusaaha untuk menetralkan emosinya. Rahangnya masih mengeras, tangannya mengerat pada setir di depannya. Dalam hatinya mengumpat pada semesta karena sama sekali tak memberinya kesempatan untuk sekedar mengucap maaf atas khilaf yang pernah dia lakukan. Disatu sisi, lirihnya menembus langit meminta agar kesempatan itu datang meski hanya sekejap.
"Gue gak tau sekuat apa doa lo sampe sesusah ini buat sekedar ngomong maaf langsung ke lo, Tiffany." Gumamnya.
"Gue cuma mau ngomong itu dan gue bakal menghormati apapun keputusan lo nanti. Minimal kasih gue kesempatan ketemu lo buat ngomong langsung. Sesuah itukah? Sampai semesta pun tak berpihak." Lanjutnya mengusak kasar wajah tampannya.
"Gue cuma gak mau hidup dalam bayang - bayang rasa sesal dan bersalah." Tutupnya.
Setelahnya hanya helaan nafas panjang yang terdengar sebelum ia menginjak pedal gas untuk kembali ke kantor.