Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Jam menunjukan pukul 20:31 WIB, Daniel baru saja memarkiran motornya tepat didepan gedung Arkatama & Co.
"Shit!" Umpatnya. Bagaimana tidak, tempat itu sudah sepi tak berpenghuni, menyisakan dua orang security jaga disana. Daniel membuka helm full facenya menanggalkannya pada tanki kuda besi miliknya. Menghembuskan nafas kasar sebagai luapan emosinya.
"A'?" Panggil seorang security yang mengenalinya. Daniel menoleh dan menunduk singkat sebagai balasan.
"Nyari Teh Fany?" Tanya security tersebut.
"Iya mang, udah pulang ya?" Tanya Daniel.
"Udah 'a, tadi udah pulang jam empat tet." Jawa Security itu.
"Hmm. Yaudah mang makasih ya." Ucap Daniel.
"yaudah a' saya balik ke pos dulu." Pamit sang security.
"Manggak, manggak." Ucap Daniel mempersilakan.
Sepeninggalan sang security, Daniel masih berdiam ditempatnya memikirkan tempat — tempat yang mungkin dikunjungi Fany saat ini.
"Udah balik rumah apa ya? Coba gue cek dulu deh." Gumam Daniel. Kembali melajukan kendaraanya menuju tempat tinggal Fany.
Menyisir jalanan malam Kota Jakarta yang sedikit lengang kala itu, Daniel membiarkan pikirannya melayang. Meruntut kembali kejadian seminggu terakhir ini, memaksa otaknya bekerja mencari tau kesalahan apa yang telah ia buat sampai membuat Fany memberi jarak diantara mereka. Namun nihil, tak ada kejadian yang berarti bahkan bisa dibilang tak ada kendala diantara keduanya. Tapi mengapa sikap Fany berubah? Entahlah Daniel pun tak tau. Dua puluh menit berkendara akhirnya Daniel sampai pada tujuan utamanya, kedaman Tiffany Anastasya. Ia segera memarkir motornya didepan gerbang sebelum turun untuk memeriksa sekeliling kediaman Tiffany.
"Lampunya masih belum nyala? Berarti belum balik dong?" Gumam Daniel. Kali ini dengan tekad bulat Daniel berusaha menghubungi Tiffany. Berulang kali ia mengirim chatt dan menelfon gadisnya, namun sama sekali tak ada balasan dari Tiffany. Helaan nafas frustasi kembali terdengar dari bilah bibirnya. Rasa khawatir semakin menyelimuti hatinya, hingga membuatnya membayangkan beberpaa kemungkinan terburuk yang dapat menimpa Tiffany diluar sana.
"Gimana kalo di jambret, di copet, amit — amit ketemu begal." Gumam Daniel. Tanganbya reflek mengacak rambut frustasi.
"Tolong bales , bilang kamu dimana." Lirihnya entah pada siapa.
Tak berselang lama, ponsel Daniel bergetar pertanda ada notifikasi baru disana.
"Alhamdulillah." Serunya dengan senyum mengembang diwajah tampannya. Sayangnya senyum itu mendadak luntur ketika melihat nama Karrin tertera disana.
"Karrin?" Gumamnya sembari membuka pesan yang Karrib kirimkan padanya. Jarinya lihai menari diatas layar ponsel miliknya membalas bubble demi bubble dari Karrin.