Chapter 14

3.8K 742 34
                                        

Update lagi nih ^^

Update lagi nih ^^

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Di dalam bilik toilet pegawai, Top sibuk merapikan kemeja. Toilet di ruangannya sedang rusak, air merembes ke mana-mana. Jadi, dia menggunakan toilet bersama para pegawai khusus laki-laki.

"Gimana, Mor? Lo berhasil kasih cokelat buat Kasih?"

Suara itu berhasil mengusik Top. Kedua tangannya berhenti memegang kerah kemeja. Telinga memancarkan radar tingkat tinggi untuk menguping.

"Berhasil, dong. Mbak Kasih terima cokelat gue. Kalian harus kasih uang sesuai taruhan kita kemarin."

"Gila, gila. Siapa yang nggak takluk sama lo, ya, Mor? Jangankan anak perawan, istri orang aja bisa lemah sama lo."

"Iya lah. Siapa, sih, yang berani nolak gue? Bayar buru."

"Duh, rewel. Ini gue kasih uangnya."

Tangan Top terkepal sempurna. Sialan. Diam-diam Morison menjadikan istrinya bahan taruhan. Istrinya pasti tidak tahu kalau maksud Morison memberikan cokelat ada niat terselubung. Berani-beraninya Morison bertindak tanpa dipikir dulu.

"Eh, tapi, gue dengar suaminya Mbak Kasih ganteng. Lo yakin bisa menangin taruhan kita naklukin hati Mbak Kasih?"

Top tidak mau tinggal diam. Dia mengambil ponsel dan buru-buru menyalakan perekam suara untuk memberi tahu kepada Kasih. Dia akan memperingatkan istrinya menjauhi Morison. Kalau tidak percaya, maka dia akan menggunakan rekaman sebagai bukti.

"Bisa lah. Taruhan lo semua harusnya lebih tinggi. Senior-senior kita aja bego nggak bisa ngerayu. Kalau sama gue mah aman, gue rayu dikit lagi paling klepek-klepek. Apalagi Mbak Kasih. Duh, nggak susah rayu dia mah. Mbak Kasih target paling mudah. Gue bisa menangin taruhan ini."

Setiap kata yang terucap membuat darah Top mendidih. Kalau dia langsung menghajar Morison, bisa-bisa ketahuan soal hubungannya dan Kasih. Namun, kalau dia diam saja, istrinya akan terus dibahas sebagai bahan taruhan. Top bingung sekarang. Dia benar-benar ingin memukul Morison.

"Eh, eh, itu ada bilik ketutup. Jangan-jangan teman divisi Kasih lagi."

"Coba cek."

Top buru-buru menyudahi rekaman dan memasukkan ponsel. Tidak mau membuang waktu lebih lama, Top membuka bilik. Saat yang sama, dia melihat pegawainya sudah berdiri di depan bilik dengan tangan terangkat ke udara hendak mengetuk pintu.

"Si-si-siang, Pak. Maaf saya pikir teman saya. Untung belum saya ketuk," kata laki-laki itu.

"Siang. Iya, nggak apa-apa," balas Top dingin.

Top berdiri di depan wastafel, melihat dua pegawai lainnya menunduk dan segera masuk bilik seakan-akan ingin menghindar. Tersisa Morison yang dengan santainya mencuci tangan di sampingnya. Top menahan diri untuk tidak melakukan apa-apa dan mencuci tangan berusaha tenang.

Thank You For CheatingTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang