Matahari makin meninggi, memancarkan sinarnya yang hangat ke seluruh sudut rumah megah itu. Suasana hunian yang tadinya sepi perlahan mulai hidup dengan hiruk-pikuk pagi.
Di dapur, Fabian dengan cekatan membantu Bi Marni, asisten rumah tangga senior di sana, merapikan piring dan menyiapkan hidangan di atas meja makan panjang.
"Fabi, ayo sini ikut makan bareng!" sapa Bu Ratih dari meja makan.
Fabian tersenyum canggung. "Terima kasih, Bu. Saya makan di belakang aja nanti sama Bi Marni."
"Nggak ada beda-bedain di sini. Udah, ayo duduk! Sekalian ada hal penting yang mau Ibu omongin," potong Bu Ratih ramah namun tegas.
Tak enak menolak, Fabian akhirnya duduk dengan canggung.
"Fabi, minggu depan Ibu sama Bapak mau pergi ke Dubai selama empat hari untuk urusan bisnis," terang Bu Ratih sambil mengoleskan selai pada rotinya.
"Tolong jaga Gabriel baik-baik selama kami nggak ada, ya."
"Baik, Bu. Saya akan berusaha semaksimal mungkin," jawab Fabian mantap.
Bu Ratih tersenyum lega. Fabian lalu melirik ke arah tangga yang sepi. "Oh iya, Bu... Mas Gabriel nggak ikut makan bersama?"
"Dia jarang mau turun, Fabi," jawab Bu Ratih pelan.
"Kalau begitu, biar saya panggilkan ke atas, Bu," tawar Fabian sigap.
"Jangan!" tegur Bu Ratih cepat, membuat Fabian mengurungkan niatnya.
"Jangan dipanggil atau dipaksa turun. Lebih baik kamu antarkan saja makanannya ke dalam kamar."
Fabian pun mengangguk paham.
Fabian mengangguk paham. Mereka pun melanjutkan sarapan pagi dengan tenang.
~~~
Setelah Bu Ratih dan Pak Chandra berangkat bekerja, suasana rumah kembali hening. Fabian berdiri di dapur, menata nampan berisi piring nasi, lauk-pauk, dan segelas air putih untuk ditujukan ke kamar Gabriel.
Dengan langkah perlahan, Fabian menaiki tangga menuju lantai dua.
*Tok... tok... tok...*
"Mas Gabriel... sarapannya saya antarkan ya," panggil Fabian memecah keheningan.
Perlahan, Fabian memutar gagang pintu dan mendorongnya sedikit. Di dalam kamar, sosok tinggi kekar itu sedang berdiri tegap, menatap kosong ke luar jendela besar.
"Permisi, Mas... Ini aku bawakan sarapan," cicit Fabian gugup.
Gabriel berbalik seketika. Tatapan matanya yang tajam dan pekat membuat bulu kuduk Fabian meremang. Pria besar itu melangkah maju menghampirinya. Langkahnya begitu mengancam hingga Fabian refleks mundur selangkah.
*BUGHHH!*
*PRANGGG!*
Nampan di tangan Fabian terlepas dan menghantam lantai. Makanan berserakan. Tubuh Fabian bergetar hebat ketika tinju besar Gabriel menghantam dinding tepat di samping telinganya. Hawa panas dari napas Gabriel terasa memburu di wajah Fabian.
Mata Gabriel yang liar menatap lekat-lekat netra Fabian yang menyipit ketakutan.
"Keluar!" gertak Gabriel dengan suara berat, dalam, dan penuh ancaman.
Tanpa perlu diperintah dua kali, Fabian langsung memunguti pecahan piring dengan tangan gemetar, lalu berlari keluar kamar menuruni tangga secepat yang ia bisa.
Tiba di dapur, Fabian menghempaskan tubuhnya di kursi dan langsung meneguk segelas air dingin hingga kandas. Napasnya memburu.
"Ada apa sih sama dia?" gumam Fabian sambil mengelus dadanya.
![MY FUTURE [BXB]](https://img.wattpad.com/cover/358793254-64-k132858.jpg)