My Future - Bab 6

924 38 2
                                        

Fabian mengerjapkan matanya, berusaha mengumpulkan kesadaran yang masih tersapu kantuk. Namun, dahi Fabian berkerut heran saat menyadari dirinya tidak lagi terbaring di atas karpet lantai yang dingin, melainkan sudah berada di atas kasur empuk dengan selimut menutupi dadanya. Sementara itu, Gabriel sudah tak ada di sampingnya.

Pandangan Fabian beralih ke jam dinding di sudut kamar. Seketika matanya melotot sempurna.

​"Ya ampun! Udah jam sembilan pagi?!" seru Fabian panik, melompat dari kasur.

​Ia telah melewatkan jam sarapan Gabriel! Beberapa hari terakhir ini Fabian memang sangat sibuk mengurus rumah dan Gabriel sendirian, terlebih kedua orang tua Gabriel sedang berada di luar negeri untuk urusan bisnis.

Dengan gerakan secepat kilat, Fabian berlari ke dapur, menyiapkan sarapan hangat, lalu membawanya menaiki tangga menuju kamar Gabriel.

​Tok... tok... tok...

Fabian mendorong pintu kamar yang tak terkunci. Seperti biasa, Gabriel sedang melakukan latihan fisik berat. Namun, raut wajahnya jauh lebih kelam dari biasanya—isyarat jelas bahwa pria itu sedang menimbun emosi yang siap meledak.

"Mas... sarapan dulu yuk," panggil Fabian lembut, melangkah mendekat.

Gabriel tak bergeming. Ia terus mengangkat barbel besi di tangannya dengan urat-urat leher yang menegang kaku, mengabaikan kehadiran Fabian sepenuhnya.

​"Mas Gabriel..." Fabian memberanikan diri mendekat, bermaksud menyentuh lengannya untuk menyuruhnya beristirahat. "Sarapan dulu—"

​SRAKKK!

​PRANGGG!

Tanpa peringatan, Gabriel melemparkan barbel 5 kilogram di tangannya ke arah pintu! Besi berat itu melayang kencang, melintas hanya beberapa sentimeter di samping kepala Fabian sebelum menghantam daun pintu hingga retak.

​"KELUAR!" bentak Gabriel dengan suara menggelegar penuh amarah yang pekat.

Rasa takut mendalam merayapi seluruh tubuh Fabian. Tanpa berpikir dua kali, ia berbalik dan berlari kencang keluar dari kamar mencekam itu.

​Di dalam kamarnya, Gabriel meluapkan sisa emosinya dengan melempar barang-barang di sekitarnya hingga hancur.

"AKHHH!"

~~~

Fabian terduduk di tepi ranjang kamarnya, menangkup wajah dengan kedua tangan yang gemetar hebat. Napasnya terengah-engah.

"Mas Gabriel gila apa ya?! Kepala aku hampir pecah kena barbel!" gumam Fabian ketakutan.

Saat Fabian sedang berusaha menenangkan detak jantungnya yang berpacu liar...

*Ceklek.*

Pintu kamarnya terbuka. Fabian mendongak dan seketika menahan napas. Gabriel berdiri di sana, menatapnya dengan raut wajah yang tak lagi garang, melainkan hancur dan penuh penyesalan.

"M-Mas..." cicit Fabian, refleks mundur hingga punggungnya menempel pada kepala ranjang.

Gabriel melangkah mendekat dengan cepat. Namun bukannya menyerang, pria bertubuh raksasa itu justru menjatuhkan tubuhnya dan merengkuh Fabian dalam pelukan yang sangat erat—begitu erat hingga Fabian sulit bernapas.

"Sorry... I'm sorry..." bisik Gabriel dengan suara bergetar di bahu Fabian.

"Tolong... jangan lakukan itu lagi..."

Fabian terpaku, bingung dengan perubahan sikap Gabriel yang mendadak.

"Tolong jangan tinggalkan aku lagi... Tolong jangan temui Adam lagi..." panggil Gabriel parau.

Detik berikutnya, bahu tegap Gabriel bergetar hebat. Isak tangis pilu terdengar memecah keheningan kamar. Fabian merasakan kebasahan di pundaknya dari air mata Gabriel yang menetes deras. Tangisan itu bukan sekadar tangisan marah, melainkan ungkapan rasa takut kehilangan dan kekecewaan luar biasa yang selama ini terendam di dasar jiwanya.

Melihat rasa rapuh yang tersembunyi di balik tubuh kekar itu, rasa takut Fabian perlahan menguap, berganti dengan rasa iba yang mendalam.

Fabian melingkarkan tangannya di punggung Gabriel, mengelusnya lembut untuk memberikan ketenangan.

"I'm here for you, Mas... Aku di sini," bisik Fabian tulus.

"Please don't leave me again..." lirih Gabriel pasrah di pelukan Fabian.

Satu jam kemudian, suasana tegang itu melunak. Gabriel dan Fabian kini duduk berhadapan di meja makan dapur, menikmati masakan hangat yang sempat tertunda tadi.

Gabriel menatap Fabian yang sedang mengunyah, lalu bersuara pelan, "Aku... ingin jalan-jalan ke taman."

Fabian mendongak, lalu mengukir senyum manis. "Tentu! Habis makan ini kita jalan-jalan ya."

Melihat senyuman itu, sudut bibir Gabriel ikut terangkat tipis.

~~~

Seperti janji mereka, siang menjelang sore itu mereka menghabiskan waktu di taman kota yang tak jauh dari kediaman. Mereka berjalan menelusuri sudut taman yang tenang hingga sampai di area hamparan rumput hijau yang rindang.

Gabriel yang mengenakan celana jeans dan hoodie hitam tampak kasual namun sangat tampan. Sementara Fabian terlihat amat menggemaskan dengan celana bahan dan atasan *oversized* yang agak kebesaran di tubuh rampingnya.

Mereka duduk bersisian di atas rumput. Gabriel meraih sebuah bunga kecil berwarna merah yang tumbuh liar di dekatnya, lalu dengan telaten menyelipkannya di belakang telinga Fabian.

Gabriel menatap wajah manis di depannya. "Cantik."

Fabian tersenyum merona menatap mata pekat Gabriel. Namun, tak lama kemudian, raut wajah Gabriel mendadak redup berselimut kabut gundah.

"Kenapa, Mas? Kok mukanya sedih lagi?" tanya Fabian cemas.

"Aku takut kamu pergi..." gumam Gabriel jujur.

"Aku nggak bakal ke mana-mana, Mas. Aku kan kerja di sini," hibur Fabian lembut.

"Vika dulu juga berjanji hal yang sama..." bisik Gabriel lirih.

Fabian terdiam sejenak. Ia paham trauma pengkhianatan masa lalu masih membayangi pikiran Gabriel. Namun Fabian juga sadar, sejak kehadiran dirinya di rumah itu, dendam dan amarah gelap Gabriel pada Vika dan Tomi perlahan-lahan mengikis.

Fabian mengaitkan jemarinya di jemari tebal Gabriel, melempar lelucon kecil hingga tawa Gabriel akhirnya pecah kembali.

Mendengar gelak tawa Gabriel yang renyah dan lepas, hati Fabian hangat. Gabriel pun merasakan hal yang sama—senyum manis Fabian adalah lentera terang yang menyapu bersih kegelapan di dalam hatinya.

"Fabian..." panggil Gabriel pelan.

Fabian menoleh. "Iya, Mas?"

"Boleh aku mencium mu?"

Belum sempat Fabian mencerna pertanyaan itu, Gabriel sudah memangkas jarak. Pria itu menangkup pipi Fabian dan mendaratkan bibirnya di atas bibir Fabian yang hangat.

*Deg!*

Mata Fabian terbelalak sempurna, tubuhnya membeku. Namun, Gabriel memejamkan mata, melumat bibir Fabian dengan begitu lembut, penuh rasa kehati-hatian dan kerinduan yang mendalam.

Perlahan, kehangatan itu meruntuhkan pertahanan Fabian. Terbawa oleh atmosfer romantis dan keasrian taman, Fabian perlahan memejamkan mata dan membalas ciuman lembut Gabriel.

Beberapa saat mereka larut dalam tautan manis itu, hingga akhirnya Gabriel mengurai ciumannya perlahan. Ibu jarinya mengusap lembut bibir Fabian yang sedikit basah.

"Sweet like candy..." bisik Gabriel dengan tatapan berbinar hangat.

Di bawah naungan pohon rimbun dan gembiranya angin sore, mereka melewatkan hari dengan tawa dan kebahagiaan baru. Bagi Gabriel, tak ada kebahagiaan yang lebih nyata daripada melihat senyuman Fabian—senyuman tulus yang telah menyembuhkan jiwanya yang sempat patah.

Bersambung…

MY FUTURE [BXB]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang