My Future - Bab 4

932 38 3
                                        

Tak terasa tiga bulan sudah berlalu sejak Fabian pertama kali menginjakkan kaki di rumah megah itu. Suka dan duka telah ia lewati, termasuk menghadapi amukan impulsif Gabriel pada hari-hari pertamanya.

Namun, kehadiran Fabian terbukti membawa keajaiban. Perlahan tapi pasti, Gabriel mulai menunjukkan perbaikan mental yang signifikan. Senyum dan ketenangan yang mulai kembali pada diri pria itu membawa kebahagiaan luar biasa bagi Bu Ratih dan Pak Chandra.

GABRIEL POV.

Selama bertahun-tahun, duniaku hanya berukuran empat kali lima meter. Gelap, dingin, dan dipenuhi gema kekecewaan yang tak pernah usai.

Pengkhianatan itu membakar habis seluruh rasa percaya yang kupunya. Dulu, aku berpikir satu-satunya cara agar tidak disakiti adalah dengan menutup rapat pintu hati, membiarkan tubuhku ditutupi amarah, dan mengusir siapa pun yang berani mendekat. Aku berubah menjadi raksasa yang menakutkan, mengurung diri dalam bayang-bayang dendam, dan membiarkan jiwaku mati perlahan.

Sampai akhirnya... pemuda itu melangkah masuk ke dalam hidupku.

Fabian.

Awalnya, aku membencinya. Aku membenci kehadirannya yang lancang, wajahnya yang polos, dan cara matanya menatapku dengan ketakutan. Aku mencoba mengusirnya—membanting barang, menghentakkan kaki, bahkan hampir meremukkan tubuh kecilnya saat emosiku tak terkendali. Aku ingin dia lari seperti orang-orang sebelum dia.

Namun, Fabian tidak pernah benar-benar pergi.

Di saat orang lain memandangku sebagai orang gila yang harus dihindari, Fabian justru menatapku dengan mata yang jernih dan penuh kekhawatiran tulus. Saat aku terluka oleh amarahku sendiri, jemari mungilnya yang hangat mengompres dahiku. Saat aku mengamuk, bukannya berlari menyelamatkan diri, dia justru memelukku erat—seolah-olah dialah benteng terakhir yang menahanku agar tidak hancur berantakan.

Perlahan, dingin di dalam dadaku mulai mencair.

Kini, setiap kali fajar menyapa, hal pertama yang kucari bukan lagi bayangan masa lalu yang menyiksa, melainkan suara langkah kakinya di depan pintu. Senyum manisnya yang menyambut pagiku, perhatian kecilnya saat menyiapkan makanan, hingga omelan polosnya saat menyuruhku memotong rambut... semuanya menjelma menjadi candu.

Candu yang sangat manis. Jenis candu yang membuatku enggan untuk kembali ke kegelapan yang dulu.

Saat jemarinya menyentuh rambutku, atau saat tubuh kecilnya berada di dalam dekapanku, ada rasa hangat yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Rasa hangat yang membuatku sadar—bukan dendam yang menyembuhkanku, melainkan pemuda manis ini.

Aku tahu kami sama-sama laki-laki. Aku tahu duniaku dan dunianya dipisahkan oleh batas yang tak biasa. Tapi peduli setan dengan semua itu.

Tuhan tahu aku sudah terlalu lama hidup di neraka. Dan sekarang, setelah Fabian mengembalikan kehangatan yang telah lama hilang dari hidupku, aku bersumpah tidak akan pernah melepaskannya.

POV END.

~~~

Pagi itu, seperti biasa, Fabian membawa nampan sarapan ke kamar Gabriel.

Saat pintu dibuka, ruangan tampak sepi. Suara gemericik air menandakan Gabriel masih berada di kamar mandi. Fabian melangkah pelan dan meletakkan nampan makanan di atas meja.

Tak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Gabriel keluar dengan selembar handuk yang melilit di pinggang kokohnya. Tubuh kekarnya masih berembun sisa air mandi, sementara rambut gondrongnya yang basah berantakan membingkai wajah tampannya.

Gabriel menatap nampan sarapan itu, lalu mengalihkan pandangannya pada Fabian. Sebuah ukiran senyum tipis—namun tulus—terbentuk di bibirnya.

"Terima kasih," ucap Gabriel pelan.

MY FUTURE [BXB]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang