Hari yang ditunggu-tunggu pun akhirnya tiba.
Gabriel dan Fabian kini berdiri berhadapan di depan altar pernikahan yang dihiasi bunga-bunga putih yang indah. Keduanya terlihat begitu tampan dan elegan dalam balutan jas hitam yang terpotong sempurna.
Gabriel tak henti-hentinya mengulas senyum bahagia, menatap lekat paras manis Fabian di hadapannya. Manik matanya berbinar haru—akhirnya, perjalanan panjang dan meliuk itu membawanya pada pelabuhan terbaik dalam hidupnya.
Setelah pengucapan janji suci dan ucapan sah bergema, Gabriel meraih tengkuk Fabian lalu mendaratkan ciuman hangat di bibirnya sebagai lambang terikatnya dua jiwa dalam ikatan pernikahan yang sah. Tepuk tangan riuh dari para undangan membumbung tinggi.
Di tengah kebahagiaan yang meluap, mata Fabian sempat berkaca-kaca menatap langit-langit gedung. Ada rasa rindu yang merayap halus di dadanya—ia berharap kedua orang tuanya bisa menyaksikan hari membahagiakan ini dari balik alam yang berbeda.
Hari pernikahan yang megah ini sekaligus menjadi perayaan kehamilan Fabian yang genap menginjak usia 4 bulan. Perutnya kini makin membuncit halus, menyimpam calon jagoan kecil yang sudah diprediksi berjenis kelamin laki-laki.
"Sayang... Mas bahagia banget akhirnya bisa duduk bersanding sama kamu," bisik Gabriel seraya menggenggam erat jemari Fabian di atas pelaminan.
Fabian menyandarkan bahunya pelan. "Aku juga, Mas..."
"Berjanjilah kalau kamu tidak akan pernah meninggalkan Mas... Mau dalam keadaan sehat, sakit, kaya, ataupun miskin," pintanya tulus.
Fabian menatap mata pekat suaminya. "Aku berjanji, Mas."
"Dan Mas janji atas nama Tuhan... Mas akan jadi suami dan ayah yang baik untuk kamu dan anak kita nanti," tutur Gabriel mantap.
Pesta malam itu berlangsung begitu istimewa dan megah. Dihadiri oleh kerabat dekat, sahabat, hingga relasi bisnis keluarga Pak Chandra, Gabriel berdiri bagaikan seorang raja yang berhasil memboyong pujaan hatinya. Bagi Fabian, hari itu adalah titik balik di mana ia menemukan kehangatan rumah dan tujuan hidup yang sejati.
~~~
Malam harinya, hening mulai menguasai kamar pengantin mereka yang beraroma mawar segar.
"Capek banget ya..." gumam Gabriel, menyandarkan tubuhnya di tepi kasur.
Fabian tersenyum lembut. Ia melangkah mendekat, dengan telaten membantu melepaskan jas berat dan membuka ikatan dasi yang melilit leher Gabriel.
"Namanya juga pesta pernikahan, Mas," kekeh Fabian manis seraya meletakkan jas ke atas kursi.
Belum sempat Fabian berbalik, Gabriel melingkarkan tangannya di pinggang Fabian, menariknya ke dalam pangkuan dan langsung mengecup bibirnya hangat.
"Sekarang kita sudah resmi... Jadi, apa Mas boleh minta 'hak' Mas malam ini?" bisik Gabriel serak dengan tatapan menggodanya.
"Minta apa...?" pancing Fabian pelan.
Gabriel mulai mendaratkan kecupan-kecupan halus di sepanjang garis leher Fabian, mengendus aroma tubuhnya yang harum, dan sesekali menyesapnya lembut hingga membuat Fabian meremang.
"I want you, Baby..." bisik Gabriel parau.
Fabian memegang dada tegap Gabriel, memiringkan kepala. "Tapi kan aku lagi hamil, Mas... Nanti kenapa-kenapa lagi."
"Mas bakal pelan-pelan banget, Sayang. Dokter Siska juga bilang kan, berhubungan saat usia kandungan empat bulan itu aman dan bagus," bujuk Gabriel lembut.
"Nanti aja deh Mas... kalau aku udah lahiran," tawar Fabian malu-malu.
"No... Mas mau sekarang, Sayang. Percaya sama Mas ya? Mas bakal bikin kamu nyaman..."
Pertahanan Fabian akhirnya runtuh di bawah tatapan penuh ketulusan dan desakan cinta dari suaminya.
Malam pertama itu mengalir dengan begitu indah. Gabriel memegang janjinya—ia menyentuh dan menikmati tiap inci tubuh Fabian dengan kelembutan yang luar biasa. Tak ada rasa egois; Gabriel memastikan Fabian merengguk kenikmatan dan rasa dicintai yang sama besarnya. Setiap sentuhan dari ujung kepala hingga dada hangat Fabian dibelai dengan penuh pemujaan cinta.
~~~
Sinar fajar menerobos lembut celah jendela ketika Fabian mulai terbangun.
Tubuhnya terasa agak pegal namun penuh kehangatan setelah melewati malam pertama yang begitu pekat bersama Gabriel. Fabian memiringkan tubuhnya, menatap paras tampan suaminya yang masih tertidur pulas dalam balutan selimut.
Fabian mengusap rahang tegas Gabriel, masih seakan tak percaya bahwa pria gagah ini kini telah resmi menjadi pasangannya. Sebuah senyuman manis terukir di bibir Fabian. Ia mendekatkan wajah lalu mengecup kening Gabriel dengan sangat lembut.
"I love you, Mas..." bisiknya pelan.
Fabian beranjak perlahan dari ranjang, mengenakan jubah mandi, lalu melangkah menuju dapur untuk menyiapkan sarapan hangat bagi sang suami.
Tak lama setelah Fabian keluar, Gabriel mengerjapkan mata. Ia tersenyum tipis seraya menyentuh keningnya yang baru saja dikecup.
Di dalam heningnya pagi, Gabriel merenungi takdir hidupnya. Selama bertahun-tahun ia terpuruk dalam depresi karena pengkhianatan Vika. Namun, kehadiran Fabian yang telaten, sabar, dan tulus mengurusnya telah menyapu bersih kegelapan itu. Kini Gabriel sadar sepenuhnya: Fabian adalah satu-satunya sosok yang ia butuhkan hingga akhir hayatnya.
~~~
Di dapur, Fabian sedang sibuk memotong bahan makanan saat sepasang lengan kekar mendadak melingkar rapat di pinggangnya dari belakang.
"Good morning, Sayang..." bisik suara berat Gabriel di ceruk lehernya.
Wajah Fabian merona merah. "Iya, Mas... Good morning."
Gabriel memutar pelan tubuh Fabian agar mereka berhadapan. "Can I have a morning kiss?" goda Gabriel seraya tersenyum manis.
Tanpa menunggu jawaban, Gabriel langsung menyapu bibir Fabian dalam lumat manis yang singkat namun hangat. "I love you."
Gabriel lalu berlutut di lantai dapur, menyejajarkan posisinya dengan perut membuncit Fabian. Ia mengelusnya penuh kasih sayang.
"Good morning, Jagoan Daddy... Lagi apa kamu di dalam sana? Cepat lahir ya, Nak. Daddy udah nggak sabar mau ajak kamu main bola, main game, dan yang paling penting... Daddy udah nggak sabar mau memeluk kamu," bisik Gabriel lalu mendaratkan kecupan hangat di perut Fabian.
Fabian menatap pemandangan itu dengan mata berbinar haru.
Gabriel bangkit dan kembali merengkuh tubuh Fabian ke dalam pelukannya. "Terima kasih ya, Fabi... Berkat kamu, Mas bisa jadi pria yang lebih baik. Berkat kamu, Mas tahu caranya melepaskan masa lalu yang tidak berharga... Dan berkat kamu juga, Mas sadar betapa dalamnya rasa cinta Mas untuk kamu dan anak kita."
Fabian membalas pelukan itu tak kalah erat.
"Ekhemm...!"
Suara dehaman halus di ambang pintu dapur membuat mereka berdua Sontak menoleh. Bu Ratih berdiri di sana dengan senyum menggoda.
"Aduh... anak Mama pagi-pagi gini udah bikin orang tua iri aja," goda Bu Ratih tertawa kecil.
Gabriel terkekeh, bukannya melepas, ia malah makin erat memeluk Fabian, seolah enggan terpisah satu senti pun dari sang pujaan hati.
Tak lama kemudian, hidangan sarapan telah tertata rapi di atas meja makan besar. Seluruh anggota keluarga telah berkumpul.
Pak Chandra memimpin doa bersama dengan penuh rasa syukur sebelum mereka menyantap makanan. Suasana hangat, tawa renyah, dan keakraban menyelimuti meja makan pagi itu.
Fabian mengusap lembut perutnya di bawah meja, merasa sangat bersyukur karena telah menemukan rumah dan tujuan hidup yang sejati. Sementara Gabriel di sampingnya menatap sang istri dengan pendar cinta mendalam—merasa menjadi pria paling beruntung karena telah menemukan masa depan yang indah bersama Fabian dan buah hati mereka.
Bersambung...
![MY FUTURE [BXB]](https://img.wattpad.com/cover/358793254-64-k132858.jpg)