Adam berpamitan setelah bertukar nomor ponsel dengan Fabian. Tak berapa lama setelah sahabat lamanya itu berlalu, Gabriel melangkah keluar dari dalam barbershop menghampiri Fabian.
"Fabian."
Fabian mendongak. Seketika, matanya membelalak terpana.
Pria bertubuh raksasa di hadapannya kini terlihat amat berbeda. Potongan rambut undercut tampak sangat pas menyorot garis rahang tegasnya, sementara brewok tebalnya kini telah dirapikan menjadi tipis dan bersih. Gabriel terlihat jauh lebih tampan, maskulin, dan mempesona.
"S-siapa orang tadi?" tanya Gabriel, nadanya datar namun ada desakan tersembunyi.
"Orang? Orang yang mana, Mas?" tanya Fabian balik, mencoba menutupi rasa kagumnya.
"Yang tadi mengobrol dan memelukmu."
"Oh... Itu Adam, Mas. Dia teman dekatku waktu SMA dulu," jawab Fabian jujur.
Gabriel mengatupkan bibirnya rapat-ramat, tak merespon. Tatapannya mendadak menjadi sangat dingin.
"Kita pulang," putus Gabriel singkat.
Fabian mengerutkan dahi bingung.
"Loh? Bukannya Mas tadi bilang mau jalan-jalan dulu?"
"Pulang." Suara Gabriel terdengar berat dan tak terbantahkan.
"I-iya, Mas..." sahut Fabian pasrah.
Sesampainya di rumah, Gabriel langsung melangkah cepat masuk ke kamarnya tanpa menguapkan sepatah kata pun. Fabian hanya menatap punggung tegap itu dengan gelengan kepala sebelum berjalan menuju dapur untuk menyiapkan makan siang.
"Mas Gabriel kenapa, sih? Sikapnya berubah-ubah terus, kayak cuaca," gumam Fabian sambil memotong sayuran.
"Tapi gara-gara ketemu Adam... aku jadi kangen juga sama teman-teman sekolah yang lain."
Sementara itu di dalam kamar, Gabriel berdiri di depan cermin besar. Ia menatap pantulan dirinya sendiri—penampilan barunya yang rapi, trendi, dan segar. Namun, dadanya terasa sesak oleh rasa panas yang asing.
Gabriel mengambil handuk lalu melangkah masuk ke kamar mandi. Ia menyalakan shower, membiarkan air dingin mengguyur seluruh tubuh dan kepalanya yang terasa mendidih.
Di tengah guyuran air, bayangan Fabian yang tersenyum manis dan tertawa lepas saat dipeluk Adam mendadak melintas di pikirannya. Rasa cemburu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya membakar dadanya.
*BUGHHH!*
Dengan seluruh kekuatannya, Gabriel meninju dinding keramik kamar mandi.
"Shit!" umpatnya serak, membiarkan buku-buku jarinya memerah.
Seusai mandi dan berganti pakaian, Gabriel berdiri di dekat jendela kamar. Dari balik kaca, matanya menangkap sosok Fabian yang sedang menyiram tanaman di halaman sambil mengobrol santai dengan Bang Adi.
Tanpa sadar, sudut bibir Gabriel terangkat sedikit.
Tawa Fabian pecah saat Bang Adi melempar lelucon. Melihat senyum lepas dan binar bahagia di wajah pemuda itu, jantung Gabriel mendadak berdebar hebat.
Gabriel meremas dada kirinya. Rasa hangat melingkupi jiwanya—perasaan nyaman yang perlahan merayap dan merobohkan tembok benteng pertahanannya.
"Apa aku menyukai Fabian? Bagaimana bisa aku menyukai seorang pria?" bisiknya pada keheningan kamar.
Ia melangkah mundur dan terduduk di tepi tempat tidur, jemarinya masih menempel di dada.
"Senyum itu...senyum itu adalah sesuatu yang selama ini kucari." Ucap Gabriel.
![MY FUTURE [BXB]](https://img.wattpad.com/cover/358793254-64-k132858.jpg)