My Future - Bab 3

1K 42 1
                                        

Malam makin larut, jarum jam telah menunjuk angka 11:00. Suasana kediaman megah itu mendadak sunyi senyap seiring para penghuninya yang telah lelap dalam tidur.

Namun di dalam kamarnya, Fabian hanya bisa berguling ke kiri dan ke kanan. Wajahnya yang memar masih terasa agak nyeri, membuat matanya enggan terpejam.

​Ia menatap langit-langit kamar yang remang, lalu bergumam pelan.

"Bakal betah nggak ya aku kerja di sini? Baru hari pertama aja nyawa udah berasa di ujung tanduk..."

Ceklek.

Suara engsel pintu terdengar dibuka perlahan. Sontak Fabian terperanjat! Dengan gerakan kilat, ia menutup mata dan menarik selimut hingga dada, pura-pura tertidur pulas.

​Langkah kaki tegap terdengar mendekat ke tepi ranjang. Fabian menahan napasnya rapat-rapat. Sosok itu adalah Gabriel.

"Fabian..." bisiknya amat pelan dengan suara berat yang khas.

Gabriel berdiri dalam hening, menatap wajah Fabian yang tampak sangat polos dan damai saat tertidur. Perlahan, pria bertubuh raksasa itu mendaratkan jemari kasarnya di atas pucuk kepala Fabian, mengelus rambut halus pemuda itu dengan lembut.

"I'm sorry..." bisik Gabriel tulus.

Di balik matanya yang terpejam rapat, jantung Fabian melompat hebat. Antara syok dan tak percaya—pria garang yang tadi siang hampir meremukkan tulang giginya, kini berdiri di sisinya dan mengucapkan kata maaf?

Setelah membisikkan penyesalannya, Gabriel berbalik perlahan dan keluar kamar, menutup pintu tanpa menimbulkan suara.

Begitu pintu terkunci rapat, Fabian langsung terduduk tegak. Jemari mungilnya meraba pucuk kepalanya yang baru saja diusap. Rasa hangat menyergap dadanya.

Tanpa sadar, sebuah senyuman tipis terukir di bibirnya yang masih sedikit membengkak.

~~~

Keesokan harinya, Fabian berdiri di dapur menata nampan berisi sarapan hangat untuk Gabriel. Jujur saja, trauma kejadian kemarin masih berbekas di hatinya, namun profesionalisme menuntutnya untuk tetap menjalankan tugas.

Setelah menarik napas dalam-dalam untuk mengumpulkan keberanian, Fabian melangkah ke lantai dua.

*Tok... tok... tok...*

"Permisi, Mas Gabriel... aku bawakan sarapan," panggil Fabian sedikit gemetar.

Tak butuh waktu lama, pintu terbuka. Fabian seketika membeku. Gabriel berdiri di ambang pintu hanya dengan selembar handuk putih yang dililitkan di pinggangnya—memamerkan dada bidang, perut sixpack, dan otot kekarnya yang masih basah sisa air mandi.

Fabian langsung menundukkan kepala dalam-dalam, matanya melotot menatap lantai. "M-maaf, Mas... ini sarapannya."

Gabriel menatap pemuda di depannya datar. "Simpan di sana," tunjuknya ke arah meja di dalam kamar.

"Baik, Mas," sahut Fabian canggung. Ia bergegas masuk, meletakkan nampan di meja dengan hati-hati. "Kalau begitu saya permisi dulu..."

Dengan langkah tergesa-gesa Fabian berbalik hendak kabur. Namun sial! Kakinya tersandung ujung karpet tebal.

"Aaaaa!"

Fabian hilang keseimbangan dan jatuh meluncur ke depan. Refleks, tangannya menggapai apa saja untuk berpegangan—dan tangannya tak sengaja menyambar kain handuk di pinggang Gabriel!

*SRAKKK!*

Handuk itu terlepas total.

Fabian tersungkur di lantai. Saat ia mendongak ingin meminta maaf, matanya langsung terbelalak sempurna. Pemandangan tak terduga terpampang jelas tepat di depan wajahnya—"aset" milik Gabriel melambai bebas tanpa sehelai benang pun!

MY FUTURE [BXB]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang