My Future - Bab 8

786 33 3
                                        

Usia kandungan Fabian kini telah menginjak tiga bulan. Perutnya mulai sedikit membuncit halus. Rasa bahagia membuncah di dalam hatinya menyambut kehadiran sang buah hati yang kini tumbuh di dalam dirinya.

Kebahagiaan yang sama—bahkan jauh lebih besar—dirasakan oleh Gabriel. Pria bertubuh tegap itu kini benar-benar bertransformasi menjadi calon ayah yang amat protektif. Ia menjaga Fabian dengan begitu hati-hati, hingga melarang pemuda itu menyentuh pekerjaan rumah sekecil apa pun.

Malam itu, Fabian sedang berbaring santai di kamar. Pintu terbuka pelan, memperlihatkan Gabriel yang masuk membawakan segelas susu hamil hangat.

​"Mas..." sapa Fabian lembut.

​"Lagi apa, Sayang?" tanya Gabriel, berjalan mendekat.

​"Nggak lagi apa-apa, Mas. Cuma tiduran aja."

Gabriel meletakkan gelas susu di meja nakas lalu duduk di tepi ranjang. Ia menatap Fabian lekat. "Ada yang lagi kamu pikirkan?"

Fabian sempat ragu, namun akhirnya mengangguk pelan. "Aku... cuma agak cemas. Bagaimana kalau orang-orang di luar sana tahu aku hamil? Apa pandangan mereka tentang laki-laki hamil seperti aku?"

Gabriel meraih jemari Fabian dan menggenggamnya erat. "Kenapa harus memikirkan omongan orang lain? Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan. Tugasmu sekarang cuma satu: fokus menjaga kesehatanmu dan anak kita sampai dia lahir."

Gabriel menarik tubuh ramping Fabian ke dalam dekapan hangatnya. "Jangan takut. Apapun yang terjadi, aku akan selalu ada di sisimu melewati semuanya."

Fabian menyandarkan kepalanya di dada bidang Gabriel, meresapi kehangatan yang perlahan mengikis seluruh keraguannya.

Fabian sungguh merasa beruntung. Keluarga Pak Chandra menyambut kehadiran calon anggota keluarga baru itu dengan penuh sukacita dan tanpa penghakiman.

Meski belum ada ikatan pernikahan resmi, hubungan Fabian dan Gabriel kini mengalir manis seperti sepasang kekasih yang dimabuk cinta. Gabriel telah sepenuhnya *move on* dari bayang-bayang masa lalunya bersama Vika.

Semangat hidupnya kembali membara. Gabriel mulai aktif bekerja menjabat sebagai direksi di perusahaan milik keluarganya. Rasa lelah akibat kesibukan kantor sirna begitu saja tiap kali mengingat tujuannya: mempersiapkan masa depan terbaik untuk menyambut kelahiran sang buah hati dan menikahi Fabian.

~~~

Siang harinya di rumah, Fabian berjalan ke dapur. Perutnya mendadak terasa sangat lapar. Saat ia hendak menyalakan kompor untuk memasak, Bu Ratih melangkah masuk.

​"Fabi? Lagi apa, Nak?" tanya Bu Ratih ramah.

​"Eh, Ibu... Ini Bu, Fabi mau masak sebentar. Tiba-tiba lapar," jawab Fabian agak canggung.

​"Aduh, jangan masak sendiri! Sini, biar Ibu saja yang masakkkan," ujar Bu Ratih memotong gerakan Fabian.

"Nggak usah, Bu... Biar Fabi aja, nggak enak sama Ibu."

Bu Ratih tersenyum manis lalu menuntun Fabian untuk duduk di kursi meja makan. "Sudah, duduk saja di sini ya. Tunggu sebentar."

Tak butuh waktu lama, semangkuk hidangan hangat tersaji di depan Fabian. Sebelum mulai makan, Fabian menatap Bu Ratih dengan mata berkaca-kaca.

​"Bu..."

​"Iya, Fabi? Ada apa?" tanya Bu Ratih lembut seraya mengusap bahu Fabian.

​"Aku... aku mau minta maaf ya, Bu. Karena kecerobohanku, jadinya seperti ini..." bisik Fabian menunduk.

Bu Ratih mendesah pelan, lalu menggenggam kedua tangan Fabian. "Sayang... dengarkan Ibu. Kamu tidak boleh merasa bersalah sedikit pun. Gabriel sangat mencintaimu. Dia sering sekali bercerita pada Ibu betapa berharganya kamu buat dia. Waktu tahu kamu hamil, raut wajahnya seperti orang yang baru menang lotre jutaan rupiah—dia sangat, sangat bahagia."

Bu Ratih menatap mata Fabian dalam-dalam. "Sekarang Ibu yang tanya... bagaimana dengan perasaanmu sendiri? Apakah kamu juga mencintai Gabriel?"

​Fabian menelan ludah, lalu mengangguk jujur. "Aku... aku sangat mencintai Mas Gabriel, Bu. Tapi aku sering merasa malu dan minder karena aku cuma seorang asisten rumah tangga di sini..."

​"Sssttt!" Bu Ratih menggeleng tegas. "Sejak awal kamu bekerja di sini, Ibu tidak pernah menganggapmu sekadar pembantu. Kamu dan semua orang di rumah ini sudah Ibu anggap seperti keluarga sendiri."

​Air mata Fabian menetes haru. Ia langsung memeluk Bu Ratih erat. "Terima kasih banyak ya, Bu..."

​"Sama-sama, Nak. Sekarang tugasmu cuma fokus menjaga calon cucu Ibu dan jangan memikirkan hal-hal aneh yang bisa memicu stres, ya?" bisik Bu Ratih mengelus punggung Fabian.

~~~

Sekitar pukul 09:00 malam, Gabriel baru kembali dari kantor. Di perjalanan pulang, ia menyempatkan diri mampir membeli beberapa makanan kesukaan Fabian—termasuk satu porsi besar es krim favorit pemuda itu.

Langkah kaki Gabriel membawanya langsung menuju kamar Fabian. Di dalam, ia melihat calon pendamping hidupnya sedang tertidur pulas dalam balutan selimut.

Gabriel melangkah pelan, berlutut di samping kasur, lalu mengusap helai rambut Fabian dengan sangat lembut.

"Mmm... Mas Gabriel...?" Fabian mengerjapkan mata, terbangun oleh sentuhan hangat itu. "Mas baru pulang?"

"Iya, Sayang. Aku baru sampai," sahut Gabriel tersenyum manis. "Aku bawakan es krim kesukaanmu."

Mata Fabian seketika berbinar. Ia langsung bangkit dan duduk bersandar di kepala ranjang.

"Sini, biar aku suapi," ucap Gabriel.

Dengan ketelatenan luar biasa, Gabriel menyuapkan sendok demi sendok es krim itu ke mulut Fabian. Setiap suapan diselingi dengan tatapan mata penuh rasa cinta yang begitu pekat.

"Terima kasih banyak, Mas," bisik Fabian tulus saat es krimnya habis.

Gabriel mengusap sudut bibir Fabian dengan ibu jarinya. "Sama-sama. Boleh Mas pegang perutmu?"

Hati Fabian berdesir hangat mendengar kata "Mas" dan tatapan penuh rasa hormat yang Gabriel berikan. Panggilan sederhana itu terasa amat istimewa bagi Fabian.

"Tentu saja boleh, Mas."

Gabriel bergeser, menekuk lututnya di lantai samping tempat tidur. Dengan lembut, ia mengusap perut Fabian yang mulai sedikit membusung. Gabriel mengangkat sedikit kaos yang dikenakan Fabian, lalu mendaratkan sebuah kecupan hangat dan lama di atas permukaan perut mulus itu.

"Jagoan Daddy lagi apa di dalam sana? Hmm? Daddy sudah tidak sabar ingin segera bertemu kamu," bisik Gabriel penuh kehangatan, membuat Fabian tertawa kecil menyaksikan momen manis itu.

Gabriel mendongak, menatap mata Fabian lekat-lekat. "Kamu bahagia dengan kehamilan ini, Fabi?"

"Tentu saja, Mas. Ini buah cinta kita... mana mungkin aku tidak bahagia?" jawab Fabian mantap.

Gabriel tersenyum merekah. Ia bangkit dan memeluk erat tubuh Fabian.

"Aku sudah menyiapkan semuanya..." bisik Gabriel di telinga Fabian. "Kita akan menikah minggu depan."

Gabriel mengurai pelukannya, menangkup kedua pipi Fabian yang memerah, lalu menempelkan bibirnya di atas bibir Fabian. Ciuman itu mengalir begitu lembut, sarat akan ketulusan, rasa syukur, dan janji perlindungan. Fabian memejamkan mata, membalas lumatan hangat itu dengan seluruh rasa cinta yang ia miliki.

"I love you, Fabi," gumam Gabriel lembut di sela napas mereka.

"Love you too, Mas Gabriel," balas Fabian tersenyum manis.

Malam itu, Gabriel memutuskan untuk tetap tinggal dan tidur di kamar Fabian. Dalam heningnya malam yang syahdu, ia memeluk erat calon istri dan calon buah hatinya, menyambut fajar baru dengan impian masa depan yang begitu indah.

Bersambung…

MY FUTURE [BXB]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang