Beberapa bulan kemudian...
Di koridor rumah sakit, Gabriel berjalan mondar-mandir tanpa henti. Wajahnya pucat, jemarinya saling bertaut erat, dan peluh dingin menetes di pelipisnya.
Saat ini, di balik pintu tebal ruang operasi, Fabian sedang berjuang mempertaruhkan nyawa menjalani proses bedah Caesar.
Melihat Gabriel yang diliputi kepanikan luar biasa, Pak Chandra dan Bu Ratih melangkah mendekat dan merangkul bahu putra mereka.
"Gab... tenang, Nak. Semuanya akan baik-baik saja. Percayakan semuanya pada Tuhan dan tim dokter," bisik Bu Ratih menenangkan.
"Gabriel takut, Ma..." bisik Gabriel dengan suara bergetar.
Pak Chandra menepuk dada Gabriel.
"Jangan biarkan rasa takut menguasaimu. Lebih baik fokus berdoa untuk keselamatan Fabian dan calon anakmu."
Di dalam hatinya, ketakutan terbesarnya kembali mencuat—ia sangat takut kehilangan Fabian, sosok lentera hidup yang telah menyelamatkannya dari kegelapan.
~~~
Setelah tiga jam yang terasa bagai ribuan tahun, lampu ruang operasi akhirnya padam. Dokter keluar seraya melepas maskernya.
Gabriel langsung memburu maju. "Bagaimana, Dok?! Bagaimana keadaan istri dan anak saya?!"
Dokter tersenyum lebar. "Puji Tuhan, semuanya berjalan lancar dan selamat. Selamat ya, Pak Gabriel... Anda dikaruniai dua jagoan kecil yang sangat tampan dan sehat!"
Gabriel terpaku. "D-dua...?"
"Iya, Pak. Istri Anda mengandung anak kembar identik, dan keduanya laki-laki," terang Dokter ramah.
Mata Gabriel seketika berkaca-kaca. Dada tegapnya bergemuruh oleh rasa haru dan syukur yang tak terkira.
"Bolehkah saya melihat mereka dan istri saya, Dok?" tanya Gabriel tak sabar.
"Tentu, tapi tunggu sebentar ya. Kami akan memindahkan Fabian dan kedua bayi ke ruang perawatan terlebih dahulu."
Gabriel bersimpuh di lantai koridor, menutup wajahnya sambil terisak bahagia dalam pelukan kedua orang tuanya. Kehadiran dua malaikat kecil itu adalah hadiah paling indah yang pernah Tuhan anugerahkan dalam hidupnya.
~~~
Di ruang perawatan yang tenang, Fabian sudah kembali sadar dari pengaruh pembius.
Rasa haru dan tak percaya masih menyelimuti hatinya. Seorang pria sepertinya kini telah menjadi ibu sekaligus orang tua bagi dua jagoan kecil yang begitu menggemaskan.
Di sisi ranjang, Gabriel sedang duduk memangku salah satu bayinya, sementara bayi yang satu lagi terlelap tenang di dalam boks bayi di sampingnya. Gabriel menatap Fabian dengan pendar cinta yang begitu pekat.
"Terima kasih... terima kasih sudah hadir dan menjadi bagian terindah dalam hidupku, Sayang," bisik Gabriel tulus.
Fabian mengulas senyum manis, menyentuh pipi Gabriel. "Aku pun tak tahu harus berkata apa lagi, Mas... Aku sangat bahagia dan bersyukur bisa menjadi bagian dari hidupmu."
Lengkap sudah kebahagiaan mereka. Janji suci yang diikrarkan kini berbuah kehangatan yang sempurna.
~~~
**Dua Tahun Kemudian...**
Di sebuah taman kota yang asri dengan hamparan rerumputan hijau dan bunga-bunga yang bermekaran indah, Gabriel dan Fabian duduk bersisian di atas bangku taman.
Mata mereka tak lepas memerhatikan dua balita mungil yang sedang berlari-lari kecil kesana kemari dengan gembira.
Valentino dan Vicenzo—dua jagoan kecil mereka yang tumbuh sehat, aktif, dan luar biasa tampan.
Dengan penuh kehangatan, Gabriel melingkarkan tangannya di bahu Fabian, menyandarkan dagunya pelan di kepala sang istri. "Terima kasih sudah melahirkan Val dan Vic ke dunia ini, Fabi..."
Fabian menoleh, mengecup rahang suaminya. "Terima kasih juga karena Mas sudah menjadi suami dan ayah terbaik untuk kami."
Di depan mereka, Valentino dan Vicenzo terlihat saling berebut bola plastik sambil tertawa renyah, membuat suasana taman terasa makin menggemaskan.
Seringai jahil mendadak terukir di wajah Gabriel. "Sayang..."
"Kenapa, Mas?" tanya Fabian polos.
"Sepertinya... Val dan Vic sudah butuh adik baru deh," bisik Gabriel dengan mata berbinar-binar.
Tepat saat itu, Val dan Vic berlari menghampiri mereka sambil mengoceh riang.
"Daddy...! Papa...!"
Melihat anak-anaknya mendekat, keisengan Gabriel makin menjadi-jadi. Ia merangkul Valentino. "Val... kamu mau punya adik bayi lagi nggak?"
Valentino yang polos langsung mengangguk bersemangat. "Mau, Daddy!" Sementara Vicenzo masih sibuk menepuk-nepuk bolanya di rumput.
Gabriel menoleh lagi ke arah Fabian seraya menaik-turunkan alisnya. "Bagaimana kalau nanti malam kita langsung proses buat adiknya?"
Wajah Fabian seketika merona merah padam. "P-proses apa sih, Mas?! Malu diomongin di depan anak-anak!"
"Proses bikin adik baru buat Val dan Vic lah," goda Gabriel santai.
"Nanti-nanti aja deh, Mas! Mereka juga masih kecil-kecil begini," tolak Fabian malu-malu.
"Nggak ada nanti-nanti. Mas mau nanti malam pokoknya," tegas Gabriel terkekeh.
"Tapi, Mas—"
"Nggak ada penolakan ya, Sayang. Istri yang baik harus nurut sama suami," potong Gabriel dengan senyum kemenangan yang amat menggemaskan.
Fabian menghela napas pasrah. Seperti biasa, kalau Gabriel sudah memasang wajah 'pemaksa manis'-nya, Fabian tidak akan pernah bisa menang.
Gabriel lalu berbisik lagi dengan wajah tanpa dosa, "Pokoknya Mas mau target kita punya 10 anak! Biar rumah kita ramai kayak lapangan bola!"
"HAH?! SEPULUH?!" seru Fabian melotot sempurna.
Fabian yang frustrasi bercampur gemas langsung menoleh lurus ke arah kamera (ke arah pembaca) lalu berteriak histeris,
"TIDAAAKKKKKK...!"
Meski kisah cinta mereka diawali dari sebuah kesalahpahaman dan masa-masa yang rumit, siapa yang menyangka bahwa takdir justru merajut kesalahan itu menjadi awal dari kebahagiaan yang sejati.
Gabriel pernah memiliki masa lalu yang amat kelam dan traumatis, begitu pula Fabian yang harus berjuang keras meniti jalurnya sendiri. Namun, keberanian untuk saling menerima, menyembuhkan, dan mencintai telah membimbing mereka menuju rumah tangga yang hangat.
Bersama Valentino, Vicenzo, dan calon-calon buah hati mereka di masa depan, Gabriel dan Fabian membuktikan bahwa tak peduli seberapa gelap masa lalu seseorang, Tuhan selalu menyediakan akhir cerita yang indah bagi mereka yang percaya pada kekuatan cinta.
~💖 TAMAT 💖~
![MY FUTURE [BXB]](https://img.wattpad.com/cover/358793254-64-k132858.jpg)