Oliver Aiku ▸ Blind Date

649 40 15
                                        

Jika bukan semata-mata karena dipaksa, mungkin saat ini (Name) lebih memilih untuk berada di rumah, menonton sesuatu yang seru, atau bahkan tidur dan menyembunyikan diri dari cuaca dingin. Namun, sahabatnya ini dengan antusiasme setinggi gedung Burj Khalifa, mengajaknya keluar untuk melakukan kencan buta. (Name) memilih menyebutnya terkurung di ruang karaoke bersama pemuda yang tampak mencurigakan.

Sedari tadi, dia hanya duduk tanpa meminum minuman apa pun yang dipesan oleh temannya. Bukannya apa, tetapi pulang ke rumah terdengar lebih enak daripada minum dan melakukan karaoke bersama sahabat perempuannya dan dua pemuda tidak dikenal. Sejujurnya, ini adalah pertama kalinya dia melakukan kencan buta. Karena dari SMP bahkan hingga lulus SMA pun dia belum pernah pacaran. Jadi, dengan niat baik─walau dirinya menyebut ini niat buruk─sahabatnya itu mencarikannya pemuda yang mau diajak kencan buta.

"(Name)-chan, ayo bernyanyi! Selanjutnya giliranmu dengan Aiku-san!" seru sahabatnya.

"Tidak usah! Aku tidak pandai bernyanyi! Suaraku jelek!" sangkalnya seraya terkekeh dengan ekspresi menahan malu. Sedangkan pemuda bernama Oliver Aiku─yang menjadi pasangan kencan butanya─mengulaskan senyuman lebar sebelum mengulurkan tangan padanya seolah mengajak untuk bernyanyi.

"Ini bukan kompetisi menyanyi," ujar Aiku.

(Name) mengerjapkan kedua matanya, lalu dengan ragu-ragu meraih uluran tangan Aiku. Pemuda berambut dwiwarna itu terkekeh, kemudian menariknya perlahan dari kursi. Selanjutnya mereka menyanyikan satu lagu meskipun terkadang (Name) malu-malu untuk mengeluarkan suaranya. Aiku tersenyum gemas melihat tingkah perempuan di sampingnya.

Singkatnya, setelah kencan buta itu selesai, sahabatnya dan pasangannya pergi bersama entah ke mana, tetapi (Name) yakin mereka singgah dulu ke suatu tempat. Ah, entahlah. Dia takkan memikirkan hal seperti itu. Yang harus dia pikirkan adalah situasinya sekarang di mana dia berada di perjalanan menuju stasiun kereta bersama pemuda bernama Aiku.

(Name) benar-benar canggung karena ini adalah pertama kalinya dia berjalan berdua dengan seorang pria selain ayahnya. Dia tidak tahu apakah dirinya harus membuka pembicaraan atau diam saja. Apalagi Aiku tampaknya begitu menikmati perjalanan mereka. Terlihat dari ekspresinya yang tenang. Dia takkan munafik dan mengaku bahwa Aiku memang tampan. Terlebih dengan postur tubuh yang menjulang tinggi dibarengi rupa menawan.

"(Name)-chan, kalau boleh, apakah kau bisa membagikan nomor teleponmu padaku? Aku harap, kau mau kencan buta kita ini lanjut ke tahap selanjutnya," ujar Aiku.

"Eh? Iya, boleh!"

Kenapa aku gugup? batin (Name).

Aiku mengulaskan senyumnya. "Kau lucu. Untung saja sahabatku tertarik pada temanmu, bukan padamu," ucapnya seraya terkekeh.

(Name) mengangguk, lalu memberikan nomor teleponnya pada Aiku. Sepertinya tidak ada salahnya untuk mencari pacar. Selama kuliah ini, dia belum merasakan apa namanya didekati pemuda-pemuda famous di kampusnya. Jangankan yang terkenal, mahasiswa biasa pun tampak tidak tertarik padanya. Dia mengaku wajahnya tidak secantik perempuan-perempuan di majalah gravure. Namun, apakah dirinya ini tidak cantik sehingga tidak ada yang mendekatinya? Fakta menyedihkan hari ini adalah dia tidak menarik di mata siapa-siapa.

"Omong-omong, kalau tidak salah, kita satu SMA." Aiku membuka pembicaraan, lagi.

"Benarkah? Apakah itu artinya kita satu angkatan?" tanya (Name).

"Hm, kau anak yang pendiam. Tidak banyak yang kutahu tentangmu, tetapi aku ingat kau anggota ekstrakurikuler teater."

(Name) tersenyum kikuk. "Ah, kalau diingat-ingat, aku memang pendiam, sih. Namun, sekarang aku tidak sependiam itu. Aku mulai membuka diri dan menjadi orang yang aktif di kampus," balasnya.

𝘼𝙆𝙎𝘼𝙍𝘼Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang