Michael Kaiser ▸ Grow Better

365 38 15
                                        

Seandainya seseorang bertanya siapakah orang yang paling aku sayangi di dunia, sudah jelas aku akan mengatakan bahwa kakakku─Michael Kaiser─adalah orangnya. Sampai dunia runtuh sekalipun, tidak ada orang yang bisa mengubah jawabanku. Entah itu ayah maupun ibu. Sebab, Michael yang paling banyak berkorban di dalam jurnal hidupku. Michael yang paling sering menemaniku ketika aku ragu melangkah. Michael yang paling banyak melindungiku dari kerasnya dunia. Tidak ada orang lain. Hanya Michael yang menyayangiku sekalipun aku bukan orang hebat. Lalu, aku juga akan menyayangi Michael apa adanya.

"Hari ini aku membawa roti. Ini masih enak untuk dimakan karena hangat. Aku tidak mencuri, kok. Aku membelinya, (Name)." Michael memperlihatkan sebungkus roti hangat kepadaku dengan kondisi tubuhnya yang masih kotor.

"Apakah ayah tidak marah jika melihatmu membeli roti?" tanyaku sambil menatap Michael ragu.

Michael merangkul bahuku perlahan, kemudian menjawab, "Ini uang yang kudapatkan karena jerih payahku. Kau jangan cemaskan persoalan itu. Ayo makan rotinya sebelum dingin."

Ketika kami berdua hendak menikmati roti hangat itu di tengah musim dingin yang membuat kami menggigil, pintu kamar kami terbuka. Ayah berdiri di ambang pintu dengan wajahnya yang galak. Michael buru-buru berdiri di depanku karena dia tahu apa aksi ayah selanjutnya. Memukuli kami berdua. Itu menyedihkan.

Kami masihlah anak-anak yang akan takut bahkan ketika mendengar langkah kaki itu mulai mendekat. Aku menggenggam erat ujung pakaian Michael dan berharap malam ini kami bebas dari segala dera yang dilakukan ayah. Namun, aku terkesiap saat melihat ayah menarik lengan Michael tanpa sebuah aba-aba. Ayah melempar Michael ke dinding dengan gerakan tangkas. Untuk anak-anak seukuran kami─bahkan untuk orang dewasa─itu bantingan yang tidak manusiawi.

"Mana susunya, Bodoh?! Bisa-bisanya kau melupakan susu! Bagaimana bisa aku buang air besar tanpa susu?! Kalau kau lupa mengambil susu lagi, aku akan membunuh kalian berdua!" Ayah meneriaki Michael dengan kasar sambil menendangnya.

"Ayah!" Aku ikut bergabung ke dalam konversasi panas itu untuk menghentikan ayah dari memukuli Michael. Aku tidak bisa melihat Michael terluka. Dia satu-satunya alasan aku hidup setelah ibu meninggalkan kami tanpa kejelasan.

Ayah beralih dari Michael. Dia mencengkeram kerah bajuku sampai rasanya leherku tercekik. Dengan mulutnya yang bau alkohol, dia berteriak, "Kau anak tidak berguna! Kau mengingatkanku kepadanya! Kau jalang! Kalian berdua anak wanita murahan itu! Aku membenci kalian! Aku ingin kalian mati!"

"Kenapa kau tidak membunuh kami saja dibanding menyiksa kami?! Jika kau tidak bisa menjadi suami yang baik, setidaknya jadilah ayah yang baik!" Ini pertama kalinya aku berbicara lantang seolah aku ingin duniaku berakhir sekarang. Aku sudah tidak peduli dengan ucapan kasarku kepada ayah.

"Aku ini memang sampah! Wanita yang kucintai meninggalkanku! Aku hanyalah orang tidak penting yang bakatnya sudah layu! Orang malang yang tidak berjalan sesuai keinginannya! Namun, kalian berdua lebih buruk! Kalian berdua adalah sampah yang terlahir dari diriku dan wanita jalang itu!"

Ayah mencekik leher kami berdua dan berusaha menghentikan pasokan oksigen yang masuk. Aku memberontak untuk mencari udara, tetapi tangan ayah mencengkeram semakin kuat. Telapak tangannya yang kasar seolah benar-benar ingin mengakhiri nyawa kami di malam ini. Aku menoleh kepada Michael yang tampaknya sudah putus asa.

-

Hari ini, aku sedang diam di kamar tanpa melakukan apa-apa. Lampu kamar yang sudah mulai habis masa pakainya tidak menjadi titik fokusku. Tahun ini, aku dan Michael telah berusia dua belas tahun. Kami masih sama dan akan selalu begitu. Kami adalah saudara kembar yang saling melindungi.

𝘼𝙆𝙎𝘼𝙍𝘼Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang