Yukimiya Kenyu ▸ Losing You

451 36 8
                                        

"Yukimiya-san, selamat atas pernikahanmu."

"Kalian akan menjadi pasangan yang sangat romantis."

"Itu benar."

Yukimiya Kenyu berdiri di kerumunan orang sambil menerima ucapan selamat dari orang-orang yang pernah menjadi rekan di tim sepak bolanya. Dia mengulaskan senyuman manisnya, lalu membalas ucapan selamat itu dengan tutur kata yang dipenuhi kesopanan. Kacamata berbingkai bulatnya lantas dibenarkan saat dirasa posisinya mengendur di pangkal hidung. Dia menyapa juru kamera yang sibuk mengabadikan momen paling bahagia dalam hidupnya. Mau dilihat dari mana pun, Kenyu bahagia.

Sedangkan aku hanya bergeming dan menyantap hidangan bintang lima yang dipersilakan untuk dimakan. Aku tidak begitu minat berbincang dengannya sebab status lakon yang kuambil di sini hanyalah sebagai tamu dan tidak lebih dari itu. Tahu dia bahagia, kurasa aku juga merasa baik-baik saja. Kenyu layak mendapat kehidupan indahnya seusai menjalani kesulitan yang dia terima tatkala masih menjadi pasanganku. Benar. Kami adalah mantan.

"Are, (Name)-san."

Telingaku diterjang dengan suara kontralto seorang wanita yang tubuhnya dililit gaun pengantin berona putih tulang. Dia adalah bintang utamanya yang terkualifikasi mendapat Kenyu dengan sepenuhnya. Dia wanita ramah dan tidak segan menyapaku yang dulunya adalah mantan suaminya. Kalau aku jadi dia, tak mungkin bisa aku menerima. Aku memang manusia egois.

Aku tersenyum. "Selamat atas pernikahanmu," kataku pelan.

"Terima kasih sudah menyempatkan datang ke acara pernikahan kami ketika kau sedang sibuk." Dia tersenyum lagi.

Astaga. Dia ramah sekali sampai-sampai rasanya aku tidak bisa membencinya karena sudah mengambil Kenyu seutuhnya. Dia bagai bidadari─berbeda denganku yang sikapnya mirip nenek lampir. Dia memang pantas menjadi pasangan Kenyu daripada aku yang hanya bisa menorehkan luka. Aku rasa, semuanya telah berakhir di antara kami berdua. Aku yang egois menerima karma.

"Yo, (Name)." Kenyu datang menghampiri.

Kenyu mengamit tangan istrinya, kemudian membawanya pergi dari hadapanku setelah kami berbincang sedikit. Aku bersedekap, menghela napas, dan memilih untuk pulang. Acaranya juga telah selesai. Aku tidak berurusan lagi di sini. Kakiku membawaku menjauh. Hari ini akan menjadi hari terakhir aku melihat Kenyu. Dia baik sekali. Aku tidak bisa segera melupakannya. Mau bagaimanapun, dia adalah seseorang yang pernah aku cintai dengan benar-benar tulus. Bahkan sampai sekarang, aku masih memilih untuk menjadi lajang karena aku tidak menemukan Kenyu di dalam diri orang lain.

Aku duduk di sofa apartemenku sambil bersandar. Memejamkan mata, kurasa ini waktunya untuk tidur. Melupakan seseorang membutuhkan tenaga. Setidaknya tidur bisa membuatku tenang.

-

Kupikir tidur akan membuatku bermimpi mengenai Kenyu, tetapi aku malah tidak bermimpi apa-apa. Hidupku terasa aneh setelah pernikahan Kenyu dijalankan. Kenapa rasanya ada yang kosong di hatiku? Kenapa aku masih belum melupakan Kenyu? Kenapa dia menikah dengan perempuan lain? Kenapa Kenyu tidak mau meluangkan masanya untuk menanti?

"(Name)-chan, hati-hati!" Kenyu, kala itu, mengajariku cara bermain sepak bola karena dia sangat menggemarinya. Bahkan dia sudah dipanggil oleh sebuah tim karena kapabilitas yang dimiliki olehnya.

"Iya, aku hati-hati, kok! Shinpai suru na!" Kala itu, aku bahagia sekali. Aku menggiring bola dengan penuh semangat walaupun tahu aku akan terjatuh. Untungnya Kenyu berhasil menahanku sebelum wajahku menimpa rerumputan hijau.

Kenyu meghela napas. "Astaga, (Name)-chan! Sudah kubilang untuk berhati-hati!" Dia menyentuh pipiku sebelum mencubitnya pelan. Ini kebiasaan Kenyu kalau dia sedang cemas.

Kala itu, Kenyu membelikanku es krim karena tahu cuaca sedang panas-panasnya. Kenyu adalah pemuda terbaik yang pernah aku temui. Dia adalah satu-satunya orang yang mau menerimaku apa adanya tanpa memikirkan kalau aku seseorang yang selalu ingin bergantung pada orang lain.

Kala itu, Kenyu bahkan tidak memedulikan bahwa aku selalu ingin ditemani olehnya karena merasa takut untuk melakukan sesuatu sendirian. Dia rela mengorbankan waktunya hanya untuk menemaniku.

Kala itu, Kenyu mencintaiku. Dia mengungkapkan rasa cintanya tidak berlebihan, tetapi juga tidak kurang. Dia sering mengajakku berkencan dan melakukan hal-hal menyenangkan.

Kala itu, Kenyu pergi.

Kala itu, Kenyu menyerah.

Kala itu, Kenyu berhenti mencintaiku.

Kala itu, akulah yang menyebabkan dia pergi.

"Kamu tahu, 'kan, kalau aku takut sendirian? Aku tidak bisa membuat keputusan sebelum kamu membantu. Bahkan aku selalu bingung harus makan apa hari ini sebelum kamu yang memilih."

Kenyu menghela napas. "Blue Lock adalah tempat yang sempurna bagi aku untuk menggapai mimpi, (Name)-chan. Kamu juga tahu, 'kan, kalau aku ingin menjadi striker? Apakah kamu ingin menghentikan mimpi aku?" Dia menatapku dengan senyuman tipisnya.

"Ken─"

"Tolong pahami aku sedikit saja. Aku pikir di Blue Lock pun aku tidak akan lama. Kita bisa bertemu lagi dan aku akan bersamamu. Jangan cemas."

Aku tahu, aku egois. Kenyu tidak bisa bertahan di hubungan kami yang di mana aku terlalu banyak bergantung padanya. Aku orang yang buruk karena menghalangi Kenyu menggapai mimpinya hanya karena aku takut ditinggalkan. Hingga akhirnya, Kenyu memilih untuk mengakhiri hubungan kami dan pergi dengan harapan di pundaknya.

Kala itu, aku tidak lagi berjumpa dengannya.

Semuanya hanya kala itu, kala itu, dan kala itu. Aku tidak tahu apakah aku masih bisa bertemu dengannya? Kenapa aku tidak bisa melupakan Kenyu? Aku merasa berdosa karena telah memikirkan suami orang.

"Menuruti keinginan egoismu hanya membuat mimpiku terbuang sia-sia. Kamu harus belajar membuat keputusan sendiri, tanpa melibatkan aku atau orang lain. Jangan takut dengan perspektif orang-orang nantinya karena kamulah yang menentukan. Aku tidak bermaksud meninggalkan kamu, tetapi aku juga ingin kamu belajar."

Beberapa tahun berlalu, aku mulai belajar untuk mandiri agar ketika Kenyu kembali, dia merasa bangga karena aku sudah tidak takut sendirian. Namun, mengapa yang datang bukan sebuah apresiasi dari Kenyu, melainkan undangan pernikahan? Apakah dia tidak mau menungguku? Apakah dia menemukan seorang perempuan yang jauh lebih baik daripada aku?

"Kamu terlihat lebih bahagia." Kenyu berkata kala memberikan undangan pernikahannya.

"Benar. Aku bahagia. Kamu juga bahagia, 'kan, Kenyu?" Aku menatapnya dengan senyuman tipis.

Kenyu terkekeh. "Tentu saja. Calon istriku baik sekali. Kamu segeralah menikah juga."

Aku bersedekap. "Aku tidak mau terburu-buru. Kamu duluan saja sana. Aku sedang senang sendirian."

"(Name), terima kasih."

"Untuk?"

"Karena sudah bertahan sendirian."

Aku tahu. Aku memang layak sendirian. Aku memang layak ditinggalkan. Kenyu layak mendapatkan kebahagiaan. Dia kemudian pergi. Bertahun-tahun tidak bertemu, tidak sopan sekali langsung memberi undangan pernikahan. Dasar, Kenyu. Dia menyebalkan.

"Terima kasih juga karena sudah bahagia."

Terima kasih. Aku mencintaimu. Maksudku, aku berhenti mencintaimu.

-

𝘼𝙆𝙎𝘼𝙍𝘼Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang