Shidou Ryusei ▸ Weirdo Cockroach

572 41 15
                                        

"Hitungan ketiga, kita berdua pacaran, ya? Hana, dul, se─"

"Sorry to say, Bagas lebih menarik."

"Hah? Bagas? Siapa Bagas? Bagasari?"

"Terserah."

Shidou Ryusei. Aku ingin menulis namanya di Death Note, lalu aku akan me-request meninggalnya karena membuat trend TikTok berbahaya. Shidou itu murni nyebelin, tengil, biang masalah, agak cabul, ngomongnya aneh, serampangan, banyak tingkah, dan poninya mirip sama antena kecoak. Dunia kayaknya betah banget sama Shidou. Aku sampai heran melihat Shidou tantrum.

Shidou punya temen yang satu-dua sama dia. Contohnya Kaiser, Aiku, Otoya, Karasu, terakhir Sae. Sae yang paling normal. Aku bingung kenapa Sae oke-gas-oke-gas temenan sama bocil epep? Circle-nya aneh semua. Kaiser, dia mesum banget. Aiku, dia playboy bintang lima─mirip sama Otoya. Karasu? Dia udah punya pacar. Pacarnya temenku juga. Dia curhat sama aku kalau Karasu nyebelin, tapi ngangenin. Waduh.

Aku bergerak untuk meninggalkan Shidou yang masih persisten ngajak pacaran. Apaan, sih? Maksa banget dia.

"(Name), Billie Eilish ternyata orang Nganjuk, loh." Shidou menyusulku dengan riang. "Hitler juga matinya di Garut. Bjir, ternyata orang terkenal asalnya dari Indonesia."

"Terserah, Do. Terserah. Mau Billie Eilish orang Cikurubuk pun, aku enggak peduli." Aku misuh-misuh kayak orang gila.

"Jangan begitu, (Name). Peter Parker juga orang Bekasi aslinya."

"Rendang juga aslinya dari Indonesia, 'kan?" Aku iseng bertanya. Pertanyaan ini bisa mengundang war kalau aku berkomentar di salah satu unggahan sesuatu yang berhubungan dengan Indonesia dan Malaysia.

Shidou cengengesan. "Kamu mancing war, ya?"

"Habisnya kamu berisik banget. Lagian, kalau kamu orang Indonesia, kamu pasti bilang rendang itu dari Minangkabau."

"Iya, iya." Shidou terkekeh.

Aku dan Shidou pergi ke kelas mengingat bel masuk baru saja berbunyi. Aku sama dia udah temenan sejak SD, sekarang kami SMA. Shidou itu aslinya baik. Baik banget malah. Tapi, sifat baiknya kehalang sama sikap petakilannya. Aku ingat, Shidou pernah gendong aku dari sekolah sampai ke rumah karena aku jatuh. Waktu itu kami masih kelas empat SD.

Kalau ditanya, apa aku suka sama Shidou? Jelas jawabannya bener. Nyebelin-nyebelin begitu, dia itu penyayang banget. Walaupun orang bilang dia red flag, aslinya dia hutan Kalimantan. Tapi, aku enggak tau Shidou suka sama aku atau enggak. Kalau memang suka pun, cara ungkapin perasaannya enggak banget. Aku pengen confess yang serius.

"(Name), lulus SMA, kita nikah, ya?" Shidou menyikut lenganku.

"Yang bener aja? Rugi, dong!" Aku membalas kesal. "Kamu mau hidupin aku pakai apa? Cinta? Lawakan kamu yang garing?"

"Pakai duit dan cinta, dong. Aku holkay, (Name). Jangan salah. Aku bahkan udah belajar Kripto," katanya dengan bangga.

Aku mendengus. "Terserah, Do."

-

Aku pulang sekolah dianterin Shidou pakai motornya. Duh, romance banget. Jadi pengen sentil ginjalnya Shidou. Aku melambaikan tangan pada Shidou yang pamitan pulang. Biasanya dia mampir dulu─buat nyobain masakan ibu aku. Kayaknya dia mau main bola. Biasa, hobinya emang enggak bisa diganggu.

Aku rebahan di kamarku─sambil main ponsel. Kalau bosen begini, biasanya aku scroll Instagram sambil liat reels lucu, terus aku kirim ke temen. Kami saling kirim reels. Banyak banget berita viral. Aku baru tahu kalau Rafi Ahmad sama Nagita Slavina ngadopsi bayi. Ih, tapi komennya enggak banget. Masa mereka enggak setuju bayi adopsinya jadi anak pasangan kaya itu? Aneh banget! Kasihan bayinya.

Ini juga ada kasus korupsi 271T. Gede amat. Jangan-jangan Sandra Dewi nikah di Tokyo Disneyland pakai uang negara lagi. Rugi, dong! Pengen jadi orang kaya. Apa aku nikah sama sugar daddy aja, ya? Awikawok. Enggak, deng. Bercanda.

Saking serunya scroll reels, aku ketiduran. Bangun-bangun udah jam lima sore. Aku refleks jadi pikun. Memang bener, jangan tidur lewat ashar. Kalau kata guru PABP di sekolahku, tidur lewat dari ashar bisa bikin gila.

Aku memeriksa ponsel lagi. Shidou spam call ke aku sampai tiga puluh kali. Tumben banget. Aku call dia lagi, dijawab. Dia mau ketemuan katanya. Aku iyain aja. Berhubung besok Sabtu, aku bebas dari sekolah. Shidou ngajak ketemuan di lapangan tempat biasa di main bola. Karena ini masih jam lima, aku langsung gas ke sana.

"Ido!" seruku.

"(Name), kamu dateng. Kirain enggak mau." Shidou datang sambil ngusap keringat di dahinya. Idih, sok ganteng banget.

"Mau ngapain manggil aku ke sini?" tanyaku.

"Ngajak jadian, lah!"

Aku mengernyitkan dahi. "Yang bener?"

"Hoax. Aku nipu kamu. Selamat kamu kena prank. Kameranya di sana!"

Aku menginjak kaki Shidou. "Nyebelin!"

Shidou tertawa. Dia tiba-tiba berlutut─kayak pangeran aja. Shidou pegang tangan aku. "(Name), jadian, yuk. Plis, terima aku. Plis, plis, plis. Mana tahan. Aku udah pengen pacaran sama kamu. Iyain, plis. Cie-ciein aku sama kamu, plis. Plis, plis," katanya.

"Shidou tolol! Rencananya enggak gini!" Tiba-tiba Karasu sama temen Shidou yang lain datang dari semak-semak.

"Yaelah. Susah-susah bikin rencana buat nembak romantis, ini anak malah ngancurin," sahut Otoya yang diangguki Kaiser dan Aiku.

"Penyakit tololnya enggak sembuh-sembuh." Sae menyahut.

Aku cuman diem ketika Shidou ditolol-tololin sama temen-temennya. Tapi, aku juga ketawa denger mereka bicara. Aku seneng banget Shidou punya effort mau nembak aku. Dia lucu banget. Aku iyain pernyataan suka Shidou. Walau nembaknya enggak romantis, tapi ini malah lebih lucu. Aku suka.

"Mas-mas, ini udah jam 17:32."

Yukimiya yang masih anak geng ini mendadak datang sambil tersenyum manis. Bener juga. Udah jam 17:32. Eh? 17:32? 17:32!

-

𝘼𝙆𝙎𝘼𝙍𝘼Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang