Oliver Aiku ▸ Bujang Lapuk

287 27 18
                                        

Titel bujang lapuk sudah menjadi bagian dari kehidupan Aiku yang selama tiga puluh tahun hidupnya belum ingin menikah. Sekalipun banyak wanita yang ingin dipersunting, tetapi bujang lapuk itu mempertahankan titelnya entah sampai kapan. Karena hidup di lingkungan yang bisa disebut kampung membuatnya harus bertahan mendengar ucapan orang-orang tentang status lajangnya. Mereka membandingkan dirinya dengan para pemuda yang sudah mempunyai seorang istri.

Aiku tidak begitu mempermasalahkan orang membandingkan dia dengan para pemuda yang kegiatan sehari-harinya hanya bermain judi online. Dia telah melihat istri-istri mereka menjadi korban KDRT karena pengaruh judi online yang disertai pinjaman online. Terlebih, mereka memiliki anak yang harus dibiayai dan disekolahkan dengan benar agar SDM anak-anak itu tidak rendah. Lagi pula, situasinya sekarang masih belum cukup mapan untuk mempersunting seseorang. Dia tidak ingin menarik istri dan anaknya ke lubang kemiskinan yang ujung-ujungnya menyiksa batin.

Dia terkadang merasa kasihan kepada istri-istri tukang judi yang harus berutang ke mana-mana agar bisa makan dan memberikan uang jajan untuk anak mereka. Judi online memang pengaruh buruk. Dia selalu berpikir mengapa pemerintah tidak memblokir situs judi online alih-alih mengurusi situs porno yang sejatinya bisa diakses oleh remaja. Melihat situasi ini, dia ingin pindah negara saja. Hidup di sini menyiksanya secara batin dan fisik.

"Cepetan nikah atuh, Kang. Aku teh meni kasihan liat Akang sendirian wae. Takutnya Akang dituduh suka cowok. Kan ngeri atuh ngadangu nage."

"Enggak atuh. Akang masih suka cewek. Kamu juga belum nikah, Neng. Masa Akang disuruh nikah sama orang yang sama-sama belum nikah? Kan enggak etis ngadangu nage." Aiku terkekeh di ujung kalimatnya sambil menyalakan motornya. Dia menatap figur perempuan bernama (Name) yang masih diam di halaman rumahnya.

"Akang tahu enggak? Tetangga aku ada yang mau nikah sama bule. Dari Inggris, Kang. Calon suaminya itu pemain sepak bola katanya. Aku juga mau dapet suami bule, Kang," ujar (Name).

Aiku membalas, "Akang setuju-setuju aja sama keinginan kamu. Asal jangan nikah sama orang di sini. Tukang judi semua."

"Akang termasuk?" (Name) memiringkan kepalanya.

"Enggak."

"Akang keren. Soalnya kebanyakan orang di sini nyari uang di judi, ya? Padahal, 'kan, judi begitu teh masih termasuk haram. Masa mereka ngasih makan keluarganya pake uang haram?"

Aiku tersenyum tipis sebelum berucap, "Akang mau pergi ke rumah Pak RT. Kamu mau ikut enggak?"

"Mau, dong!"

Aiku dan (Name) sudah berteman sedari kanak-kanak. Mereka tumbuh besar bersama dan mengetahui satu sama lain mengenai sesuatu yang rahasia. Keduanya kini genap berusia tiga puluh tahun, tetapi belum ada yang ingin menikah. Entah Aiku bahkan (Name). Mereka fokus bekerja. Aiku sebagai ojek online dan (Name) sebagai guru PAUD. Melihat dari kondisi ekonomi saja, keduanya terkadang harus berpikir kembali untuk menikah.

-

"Kang, kenapa nama Akang enggak kayak orang di sini? Oliver Aiku? Itu mah kayak nama orang luar." (Name) sudah mempertanyakan hal seperti ini beberapa kali. Namun, Aiku selalu mengatakan jika dirinya sendiri tidak tahu alasan orang tuanya memberi nama Aiku Oliver. Kenapa dia tidak diberi nama Asep saja? Cecep juga terdengar bagus. Kenapa harus Aiku Oliver?

"Kenapa Akang tinggi pisan? Orang-orang di sini mah tingginya enggak kayak Akang. Tuh, aku aja cuma nyampe di ketek Akang."

Aiku menggeleng dalam ketidaktahuan. Tinggi badannya mengikuti ayah-ibunya yang tinggi. Namun, dia terkekeh ketika melihat (Name) membandingkan tinggi mereka yang terlihat sangat jauh.

𝘼𝙆𝙎𝘼𝙍𝘼Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang