Menjadi seorang penyintas dari kejadian pelecehan seksual memanglah tidak mudah. Apalagi kejadian itu sudah memasuki kategori rudapaksa dan ancaman pembunuhan. Seandainya sang penyintas tidak mempunyai mental yang kuat atau mungkin kurangnya dukungan dari orang-orang, kebanyakan dari mereka akan memilih jalan mudah. Ya, mengakhiri hidup dengan cara apa pun agar bisa melepaskan diri dari dalamnya luka yang datang.
Malu, rendah diri, takut dipandang negatif, dan lain-lain adalah akibat dari tindakan hina tersebut. Namun, apakah pelaku akan merasa bersalah setelah menghancurkan kehidupan seseorang? Tentu saja tidak. Kebanyakan dari pelaku akan membela diri dengan mengatakan bahwa pakaian adalah penyebab banyak perempuan dilecehkan. Kenapa demikian? Karena otak mereka sudah banyak dicemari oleh hal-hal kotor dan busuk.
Lantas, apakah sebuah dosa apabila seorang penyintas pelecehan seksual melanjutkan kehidupannya seperti biasa? Apakah mereka yang pernah mengalami rudapaksa bisa hidup dengan santai tanpa adanya ucapan tidak mengenakan dari orang-orang sekitarnya?
Dulu, dia benar-benar kebingungan untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan pada dirinya sendiri. Dia takut orang-orang akan mengatainya dengan sebutan tidak pantas. Dia takut semua orang akan menganggap, dialah yang membuka kesempatan untuk seseorang melakukan tindakan tak senonoh tersebut. Namun, tahukah kalian, sekalipun dunia bisa begitu kejam, tetapi Tuhan memberinya arti dari kejadian pahit ini.
Karena pada akhirnya, dia menemukan apa arti dari sebuah luka yang dirinya terima. Sekalipun ketika meraihnya dia harus berduka, tetapi setidaknya, dia mendapat sebuah makna. Dia akan bercerita. Jadi, bisakah kalian mendengarkan cerita tua yang mungkin dapat menjadi dorongan untuk kalian agar tetap berusaha?
-
"Sae, tolong! (Name) menghilang dari kamarnya!"
Lanjam hijau lautnya membelalak seusai mendengar seruan panik dari nomor yang sedang dirinya hubungi sekarang. Tanpa membalas sepatah kata, kedua tumpuan awaknya bergerak tak menentu. Mencari-cari ke manakah sosok manusia yang lenyap di tengah malam ini dengan berbekal sebuah harapan.
Panik jelas menguasai jiwa maupun raga. Bahkan dirinya bisa saja hilang titik tumpu andaikata dia menyerah untuk mencari (Name). Namun, demi adiratna tersayang, dia akan melakukan apa pun. Karena dia sangatlah menyayangi (Name). Meski berlebihan, nyatanya dia tidak sedang berdusta maupun bercanda. (Name) adalah dunianya.
"Ada yang mau melompat!"
"Panggil polisi!"
"Turun dari sana, Nona!"
Sae mendapat cahaya. Namun, pudar seketika tatkala dia mendapati sosok nirmala terkasih tengah berdiri di pagar pembatas jembatan dengan ekspresi sayu. Tanpa berujar, dia lantas menghampiri walaupun akhirnya harus terhenti karena sang puan mengancam diri untuk melompat ke bawah andaikata seseorang mendekati. Panik kian mengerubungi. Tiada daya dia melihat ini. Lelaki mana yang sanggup melihat perempuannya berencana mengakhiri nyawa?
"Dengarkan aku, (Name)! Pikirkan baik-baik apa yang akan kau lakukan!" seru Sae seraya berjalan mendekat dengan perlahan.
"Jangan mendekat!" jerit (Name) frustrasi.
"Kumohon, (Name)."
Sae menatap iris jelaga (Name) dengan sendu. Dari sekian banyaknya orang, kenapa harus (Name) yang mengalami ini? Apa dosa yang sudah insan rapuh itu perbuat sehingga ujiannya begitu berat? Sae tidak mengerti, tetapi dia ingin (Name) paham bahwa tindakannya saat ini bukanlah jalan terakhir untuk sembuh.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝘼𝙆𝙎𝘼𝙍𝘼
Fanfiction𝗕𝗟𝗨𝗘 𝗟𝗢𝗖𝗞 ⭑.ᐟ Segaris fragmen dalam jerat halusinasi fana di mana kamu berjumpa dengan tuan-tuan beragam perangai. © Muneyuki Kaneshiro & Yusuke Nomura 𝗪𝗔𝗥𝗡𝗜𝗡𝗚 › Berbeda dengan manga. Senin, 02 - 10 - 2023 Senin, 31 - 03 - 2025
